Warga dan Petugas Baku Hantam di Batam, 14 Orang Luka-luka

INTREN.ID, BATAM – Baku hantam antara aparat dari Tim Terpadu Kota Batam dengan para pemilik kios dan warga, terjadi saat pemasangan pagar dan penertiban Pasar Induk Batam yang berlokasi di Sei Jodoh, Selasa (10/3/2020).

Tim yang didominasi Satpol PP, dibantu Polresta Barelang dan Ditpam BP Batam dengan jumlah 840 orang melakukan pengamanan kegiatan tersebut.

Adu jotos yang melibatkan Satpol PP dan para pemilik kios, diawali dengan pelemparan batu, yang menyebabkan lebih dari 10 warga dan empat anggota Satpol PP harus dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas untuk menjalani perawatan.

Kabid Trantib Satpol PP Batam, Imam Tohari mengatakan, anggota yang akan melakukan pendataan langsung diadang warga.

Namun pelemparan batu yang dilakukan oleh salah seorang warga, mengawali insiden tersebut.

“Kalau dari anggota ada empat orang, luka di bagian kepala, leher dan kaki. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit,” ucap Imam.

Mengenai pemasangan pagar, pihaknya juga telah memberikan surat kepada para warga, dan juga berusaha melakukan pendataan.

“Namun saat kita sampaikan, surat tersebut langsung disobek-sobek oleh warga yang saat ini tinggal di bekas Pasar Induk Jodoh,” kata Imam.

Dan lebih mirisnya, ada seorang oknum yang memperjualbelikan ruang-ruang bekas pasar yang kondisinya sangat menghawatirkan.

“Bangunan ini tinggal menunggu roboh saja. Karena sudah banyak besi yang hilang, tapi masih saja ada oknum yang menjual kepada masyarakat,” ungkapnya.

- ADVERTISEMENT -

Dengan nilai 1,5 juta hingga 6 juta rupiah per ruangan dan kondisi yang kurang layak, masih saja ada yang berminat.

“Dalam hal ini, masyarakat hanya menjadi korban dari tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, kekecewaan para warga atas Pemko Batam juga disampaikan melalui spanduk putih yang dibentangkan di jalan depan pasar dengan tulisan “Contoh Nyata Kegagalan Wali Kota Batam”.

Spanduk berwarna putih dengan tulisan berwarna merah tersebut, juga telah banyak ditandatangani oleh para warga yang setuju dengan pernyataan tersebut.

Di bagian pojok bawah, sebelah kiri juga terdapat tulisan “#Kota Batam Penuh Penindasan”.

“Itu bentuk kekecewaan kami atas tindakan pemerintah yang semena-mena terhadap kami. Kami berjualan hanya mencari makan untuk keluarga kami,” kata Budi Tarigan, seorang warga.

Dia bersama warga lainnya, sangat setuju atas revitalisasi yang akan dilakukan oleh pemerintah, hanya saja dirinya meminta tempat relokasi yang layak.

“Pernah rapat dengan lurah dan wali kota, juga mengatakan akan melakukan pendataan ulang untuk penempatan kios. Tapi hingga detik ini tidak ada pendataan yang dilakukan dan kami dibiarkan begitu saja. Kami kecewa terhadap Pemko Batam,” pungkasnya. (***)

Penulis: Agung Maputra

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.