Upaya Penyelamatan Harimau Sumatra di Tengah Pandemi Corona

Cegah Konflik dengan Manusia, KLHK Bentuk 18 Wildlife Rescue Unit

INTREN.ID, JAKARTA – Pandemi virus corona baru (Covid-19) tidak menyurutkan upaya penyelamatan harimau sumatra. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkolaborasi dengan para pihak terus melakukan upaya konservasi satwa langka bernama latin panthera tigris sumatrae tersebut.

Tingginya konflik manusia dengan harimau sumatra dan ancaman perburuan satwa liar menggunakan jerat mengancam keselamatan dan kelestarian satwa ini. Apalagi populasi alamnya diyakini tidak lebih dari 600 ekor berdasarkan data Population Viability Analysis (PVA).

Kasus terbaru, seekor harimau sumatra berhasil diselamatkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau beserta tim pada Ahad, 29 Maret 2020 di Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan Riau.

Setelah mendapat laporan ada harimau sumatra yang terjerat kaki kanan depannya dari manajemen PT RAPP, BBKSDA Riau segera merespon. Dengan menurunkan tim untuk melakukan upaya penyelamatan.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak mudah ditambah berbagai keterbatasan selama pandemi Covid-19 ini, tim berhasil menyelamatkan harimau sumatra betina dengan umur berkisar 3-5 tahun yang diberi nama Corina.

Corina dibawa ke Pusat Rehabilitasi harimau sumatra Dharmasraya (PRHSD) Sumatera Barat. Setelah menempuh perjalanan selama 19 jam, Corina sampai di PRHSD untuk mendapatkan perawatan yang intensif karena menderita luka jerat yang sangat serius.

Kepala Balai Besar KSDA Riau Suharyono mengatakan, luka jerat tidak selalu bisa disembuhkan. Tak jarang si harimau harus cacat diamputasi kakinya karena luka yang parah dan sangat sulit disembuhkan.

“Jerat yang dipasang pemburu berdampak sangat serius bagi kehidupan satwa liar yang dilindungi undang-undang. Termasuk harimau sumatra yang sering menjadi korban karena satwa tidak mengenal apakah jerat yang bertebaran dilantai hutan tersebut berbahaya sehingga patut dihindari atau dilewati,” ungkapnya.

Kondisi terkini harimau sumatra Corina berdasarkan laporan dari tim Medis PRHSD, Drh. Saruedi Simamora, secara umum cukup bagus kondisi dan nafsu makannya. Corina juga cukup aktif di dalam kandang rawat dan sering terpantau berendam di dalam bak air yang disiapkan.

Progres kesembuhan luka jerat cukup bagus dengan memberikan perawatan dan pengobatan yang intensif, serta disiapkan lampu penghangat dekat tempat tidur Corina dan penutup kandang untuk mengurangi cuaca dingin di areal PRHSD. Corina masih memiliki naluri alami yang ditunjukkan dengan seringnya Corina menjilati lukanya untuk dibersihkan.

“Kondisi Luka Corina memang sangat parah karena seling jerat pemburu yang diperkirakan terjerat 2-3 hari sebelumnya sampai menempel ke bagian tulang kakinya. Semua otot sudah rusak tetapi masih beruntung tendonnya masih baik sehingga masih ada peluang untuk sembuh dengan catatan proses penyembuhannya baik dan tidak terjadi infeksi sekunder,” beber Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Indra Exploitasia.

“Selanjutnya kita berharap luka Corina bisa sembuh dan setelah melewati masa rehabilitasi serta habituasi bisa dilepasliarkan Kembali ke habitat alamnya,” tambahnya.

- ADVERTISEMENT -

Sebelumnya juga dilakukan upaya penyelamatan harimau sumatra Enim di Muara Enim Sumatera Selatan pada 21 Januari 2020. Saat ini Enim direhabilitasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung.

Selain itu harimau sumatra Batua di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung pada tanggal 2 Juli 2019, yang saat ini direhabilitasi di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung.

Juga ada harimau sumatra Sopi Rantang di Kabupaten Agam Sumatera Barat pada tanggal 18 April 2018, dan harimau sumatra Bujang Ribut di Lubuk Kilangan Padang Sumatera Barat pada tanggal 28 Agustus 2018.

Penyelamatan juga dilakukan untuk harimau sumatra Dara di Subulussalam Aceh yang karena konflik lalu diperangkap pada tanggal 6 maret 2020 oleh petugas tetapi langsung dilepasliarkan kembali ke dalam Kawasan Taman Nasioanal Gunung Leuser.

“Sementara di 2016 silam ada upaya penyelamatan harimau sumatra dari jerat pemburu yang tidak kalah dramastisnya. Yaitu harimau sumatra betina Gadis di Taman Nasional Batang Gadis Sumatera Utara dan harimau sumatra jantan Monang di hutan Desa Parmonangan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara,” lanjutnya.

Indra menambahkan, harimau sumatra yang sehat dan memenuhi syarat untuk dilepasliarkan, juga akan dilakukan pelepasliaran secepatnya. Setelah melalui masa rehabilitasi dan calon lokasi pelepasliaran ditentukan melalui kajian habitat.

Kajian habitat perlu dilakukan sebelum harimau dilepasliarkan ke alam. Antara lain, ketersedian satwa mangsa, dukungan ekologi, sumber air mencukupi dan aspek sosial ekonomi masyarakat sekitar serta tentunya endemisitas habitat harimau sumatra.

Dalam kurun dua tahun terakhir KLHK bersama Pusat Rehabilitasi harimau sumatra Dharmasraya – Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (PR-HSD Yayasan ARSARI) dan para pihak sudah berhasil melakukan pelepasliaran harimau sumatra. Yaitu, Bonita, Atan Bintang dan Bujang Ribut. Upaya penyelamatan harimau sumatra, perawatan dan rehabilitasi, dan pelepasliaran merupakan rangkaian kegiatan yang tidak mudah dilakukan.

Dalam upaya penanggulangan konflik satwa liar, KLHK telah membentuk 18 Wildlife Rescue Unit (WRU) di UPT Ditjen KSDAE. Pembentukan WRU bertujuan respon cepat penanganan langsung satwa yang terlibat konflik dengan manusia, penyelamatan, translokasi dan proses mengembalikan satwa korban konflik kembali ke habitatnya.

KLHK terus melakukan berbagai upaya mengurai gangguan terhadap habitat satwa liar, diantaranya melakukan patroli operasi jerat, menurunkan laju kerusakan hutan, pembinaan habitat dan populasi satwa liar. Mencegah fragmentasi dan gangguan habitat terutama di kawasan hutan konservasi, hutan lindung dan kawasan perlindungan setempat lainnya.

Pelestarian satwa dapat berhasil apabila semua pihak bekerja bersama. Dimulai dari mendorong kesadaran semua pihak akan nilai penting harimau sumatra, hingga terbentuknya kemandirian penanganan konflik tingkat tapak dalam rangka membantu pemerintah dalam konservasi harimau sumatra.

“Harapan kita semua ditengah situasi pandemi covid-19, kita perlu lebih mawas diri dan waspada dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Bahwa satwa liar memiliki peran penting dalam relung ekologi, oleh karenanya kita perlu menjaga dan melestarikan alam beserta isinya. Konservasi harimau sumatra harus diupayakan semaksimal mungkin demi kelestarian salah satu satwa kebanggaan Indonesia ini,” jelas Indra. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.