Tersangka Pencemaran Lingkungan Diperiksa Pakai Konferensi Video

Ikuti Anjuran Physical Distancing Cegah Penularan Corona

 

INTREN.ID, JAKARTA – Di tengah wabah virus corona baru (Covid-19), penyidik Ditjen Penegakam Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tetap memeriksa tersangka pencemaran lingkungan berinisial NS (48), Direktur Utama PT NTS. Pemeriksaan dilakukan melalui konferensi video, mengikuti anjuran physical distancing, Kamis (2/4/2020).

Pemeriksaan melalui konferensi video ini terlaksana atas kerja sama penyidik Gakkum KLHK dengan pihak Rutan Cipinang tempat di mana NS ditahan.

“Penanganan kasus akan terus berjalan walaupun ada wabah Covid-19. Pemeriksaan melalui video conference menjadi pilihan untuk mengikuti kebijakan pemerintah menjaga jarak,” kata Direktur Penegakan Hukum Pidana KLHK Yazid Nurhuda, Jumat (3/4/2020).

Pemeriksaan ini untuk meminta informasi tambahan atas petunjuk jaksa peneliti Kejaksaan Agung RI. Penyidik melalui fasilitas video conference di Kantor Gakkum di Jakarta dan tersangka NS di Rutan Cipinang.

NS sudah ditahan di Rutan Cipinang sejak 21 Januari 2020. NS disangkakan mencemari lingkungan hidup dengan membuang limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa sludge minyak, minyak kotor, bottom ash, dan tanah terkontaminasi.

Limbah B3 itu menyebabkan tanah rusak dan tercemar logam berat antara lain arsen, barium, chromium, hexavalen, tembaga, timbal, merkuri, seng, nikel. Tanah tercemar logam berat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

- ADVERTISEMENT -

“PT. NTS juga mengelola limbah B3 berupa minyak pelumas bekas tanpa izin,” sebutnya.

Nurhuda mengatakan kasus ini merupakan tindak lanjut hasil pengawasan oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup KLHK. Yang menunjukkan ada indikasi tindak pidana.

Hasil pengumpulan bahan dan keterangan, penyidik mendapatkan bukti yang cukup untuk menetapkan NS telah melanggar peraturan pengelolaan limbah B3 yaitu memanfaatkan limbah B3 (minyak pelumas bekas) tanpa izin dari Menteri LHK. NS diduga membuang limbah B3 ke media lingkungan tanpa izin.

Hasil analisis sampel tanah dari lokasi pembuangan limbah B3 menunjukkan telah tercemar dan terkontaminasi logam berat antara lain hexavalen, chromium, merkuri, arsen, barium, tembaga, timbal, nikel dan seng.

NS telah melanggar Pasal 98 Ayat 1, Pasal 102 dan Pasal 104 Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“NS dapat dikenakan pidana penjara maksimum 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 milar,” tandas Nurhuda. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.