Terpisah dari Induknya, Ini yang Terjadi pada Bayi Orang Utan di Kutim

INTREN.ID, SAMARINDA – Setelah melepasliarkan orang utan jantan dari Bontang, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) kembali melakukan penyelamatan satwa yang terancam punah tersebut. Kali ini BKSDA menyelamatkan bayi orang utan di kawasan Kutai Timur (Kutim).

Bayi orang utan itu diserahkan oleh warga Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kepada BKSDA Kaltim. Sebelumnya bayi itu diselamatkan dan dipelihara empat bulan oleh warga masyarakat Desa Miau Baru.

Bayi orang utan yang diberi nama Loli itu ditemukan warga di kebun masyarakat di sekitar desa dalam kondisi terpisah dari induknya. Selama dalam pemeliharaan warga, Loli diletakkan pada kandang kayu yang terletak di belakang rumah.

“Secara umum, kondisinya tampak cukup sehat, tetapi masih memerlukan observasi lebih lanjut dari tim medis satwa”, ungkap Polisi Kehutanan SKW I Berau Edwin selaku ketua tim penyelamatan.

Penyerahan ini terjadi atas laporan dari warga Desa Miau Baru pada tanggal 2 Juni 2020 melalui call center BKSDA Kalimantan Timur. Bayi orang utan tersebut hendak diserahkan ke pihak yang berwenang secara sukarela karena masyarakat sadar dan memahami bahwa jenis orang utan Kalimantan merupakan jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia.

“Setelah menerima laporan, saya menugaskan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) yang terdekat, yaitu dari tim WRU Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau yang berposisi di Tanjung Redeb, untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut,” terang Kepala BKSDA Kaltim Sunandar.

- ADVERTISEMENT -

Tim WRU BKSDA Kaltim kemudian bekerja sama tim medis satwa dari pusat rehabilitasi orangutan (PRO) Center for Orangutan Protection (COP) di Labanan, Berau. Dengan dipandu penunjuk jalan sekaligus penghubung dengan warga yang merupakan personil dari PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), bergerak menuju lokasi keberadaan orangutan tersebut.

Orang utan tersebut dapat diamankan sepenuhnya pada siang hari sekira pukul 13.00 Wita dan langsung dilakukan pemeriksaan kesehatan awal.

Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa bayi orangutan tersebut cukup sehat dan diketahui berusia kurang lebih 1 tahun. Hasil koordinasi lebih lanjut diputuskan bayi orang utan tersebut akan menjalani proses pemulihan dan rehabilitasi terlebih dahulu di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP di KHDTK Hutan Litbang Badan Litbang dan Inovasi KLHK, Labanan, Berau.

Sebelum menjalani proses rehabilitasi, bayi orang utan tersebut akan ditempatkan dalam kandang karantina selama kurang lebih satu hingga tiga bulan dan menjalani beberapa pemeriksaan kesehatan lanjutan.

“Sampai saat ini satu-satunya kawasan hutan untuk pelepasliaran berada di Kalimantan Timur adalah kawasan hutan Kehje Sewen yang kapasitasnya juga makin terbatas. Kami berharap dapat memperoleh kawasan hutan yang baru untuk pelepasliaran orang utan Kalimantan di masa yang akan datang,” beber Sunandar. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.