Tak Boleh Sembarangan, Pembuatan APD Harus Sesuai Standar

Memenuhi Kualifikasi dan Spesifikasi Bahan Produksi

INTREN.ID, JAKARTA – Masyarakat dan fasilitas kesehatan yang membuat alat pelindung diri (APD) diimbau memperhatikan standar kualifikasi dan spesifikasi bahan produksi. Imbauan itu datang dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Bambang Wibowo.

Dijelaskan, saat ini kebutuhan APD sangat tinggi sementara ketersediaan APD sangat terbatas. Di sisi lain, pada saat pandemi virus corona baru (Covid-19) APD tidak hanya digunakan dan diperlukan oleh dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain. Melainkan juga dipakai pasien dan masyarakat sehingga memang diperlukan produksi APD sendiri.

Kata Bambang, ada prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam penggunaan APD. Di antaranya harus dapat memberikan perlindungan terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya-bahaya yang dihadapi. Seperti percikan, kontak langsung maupun kontak tidak langsung.

Pria yang juga menjabat Ketua Aliansi Telemedis ini mengatakan, spesifikasi APD hendaknya terbuat dari material seringan mungkin dan nyaman digunakan. Dapat dipakai secara fleksibel, tidak menimbulkan bahaya tambahan, tidak mudah rusak, memenuhi ketentuan dari standar yang ada, pemeliharaan mudah dan tidak membatasi gerak petugas kesehatan.

Beberapa jenis APD antara lain masker termasuk masker N95, masker bedah dan masker kain, pelindung wajah, pelindung mata, gaun, celemek atau apron, sarung tangan, pelindung kepala dan sepatu pelindung

“Kemenkes telah menerbitkan buku petunjuk teknis di sini sudah lengkap terkait dengan standar seperti apa yang diperlukan oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat dan pasien, dan jenis-jenis apa yang digunakan,” terang Bambang, Kamis (9/4/2020).

Dia menyatakan, penggunaan APD yang tepat guna akan mampu mencegah transmisi SARS Cov-2 yang merupakan penyebab Covid-19. Sedangkan pembuatan APD mandiri diharapkan dapat membantu tetap terjaganya ketersediaan APD selama masa pandemi.

- ADVERTISEMENT -

“Penggunaan APD yang tepat guna akan mampu bertindak sebagai penghalang antara bahan infeksius sebagai virus dan bakteri, pada kulit mulut hidung atau selaput lendir mata bagi tenaga kesehatan maupun pasien,” sebutnya.

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan APD sebagai penghalang memiliki potensi untuk memblokir penularan kontaminan seperti darah, cairan tubuh atau sekresi pernapasan. Penggunaan APD yang tepat guna juga harus disertai praktik pengendalian infeksi lainnya oleh tenaga kesehatan maupun dokter dan perawat. Seperti lima momen cuci tangan, etika batuk dan bersin.

“Penting sekali lagi pemindahan atau pembuangan APD yang telah terkontaminasi atau telah digunakan untuk mencegah terpaparnya pemakai atau orang lain terhadap bahan infeksius,” kata bebernya.

Kata Bambang, setiap jenis masker memiliki penggunaan yang berbeda. Masker kain tidak dianjurkan untuk petugas kesehatan. Melainkan bisa digunakan masyarakat karena akan lebih baik menggunakan masker kain daripada tidak menggunakan sama sekali.

Sedangkan masker bedah sangat efektif untuk memblokir percikan atau droplets dan tetesan dalam partikel besar. Kemudian masker N95. mampu menyaring hampir 95 persen partikel yang lebih kecil dari 0,3 mikron, dan dapat menurunkan paparan terhadap kontaminasi melalui airbone.

“WHO merekomendasikan tenaga kesehatan menggunakan masker bedah, tetapi pada kasus-kasus tertentu, pada tindakan-tindakan tertentu, menganjurkan untuk menggunakan masker N95,” urai Bambang. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.