Singapura Darurat Tempe, Efek Lockdown Malaysia

Dampak Mengganasnya Virus Corona

INTREN.ID, SINGAPURA – Pagi kemarin (22/3/2020), saya ke pasar basah. Hendak belanja dikit. Langsung pergi ke warung langganan. Si pemilik, ketika melihat saya segera bilang, “tak ada tempe untuk sementara waktu. Malaysia tidak bisa mengirimkan tempe.”

Dia memang “niteni”, saya selalu datang ke warungnya untuk membeli tempe. Tempe dagangannya, adalah salah satu yang terenak, dan untuk sementara saya tak lagi bisa menikmatinya.

Tempe, bukan saja lauk kesukaan saya. Sebagai buruh yang dibayar ala kadarnya, tempe adalah sebuah pilihan “praktis dan murah” bagi saya.

Praktis, karena cukup dibumboni bawang dan garam, digoreng, dicocol ke sambal yang kebetulan kemarin dikirim dari Malang. Plus nasi putih dan lalapan sayur mentah, hari-hari cara makan saya ya demikian. Murah.

Tiga potong tempe yang cukup untuk tiga kali makan, cuma seharga 1 dolar. Bayangkan jika tiga kali makan di luar rumah, dengan “selera saya” kira-kira bisa habis 25-an dolar. Rp 250 ribu berbanding cuma Rp 10 ribu.

Sudah sepekan, Malaysia telah memberlakukan lockdown. Tidak hanya saya yang mengalami “darurat tempe”. Tapi banyak asap periuk warga di Singapura dan Malaysia yang terancam tidak ngebul baik.

- ADVERTISEMENT -

Lonjakan kasus virus Corona di Malaysia yang dipicu dari penularan acara tablig akbar, telah memicu begitu banyak masalah.

Setelah lockdown, sekitar 300 ribu pekerja asal Malaysia, yang saban hari keluar-masuk Singapura, kini tidak lagi bisa masuk untuk bekerja di Singapura.

Efeknya, absennya 300 ribu pekerja itu, telah menghentikan atau membuat begitu banyak bisnis di Singapura “nangis darah”. Mirip ketika dulu Indonesia melarang TKI masuk Malaysia, dan hampir-hampir saja bisnis perkebunan dan konstruksi di Malaysia kolaps. Karena sebagian besar buruh di Malaysia memang dari Indonesia.

Di Singapura sendiri, konfirmasi adanya peserta tablig akbar dari Singapura yang kena virus, telah memicu kebijakan “14 stay in home” bagi siapa saja yang masuk ke Singapura.

Kebijakan ini jelas telah “membunuh” dunia wisata Singapura, bisnis penerbangan, hotel, dan lain sebagainya. Penutupan masjid di Singapura juga dipicu oleh hal ini. (***)

Penulis: Sultan Yohana

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.