Sempat Dikejar-kejar hingga Tabrak Kapal Bea Cukai Batam, Kapal Kayu Bermuatan Mikol Ilegal Senilai Rp 4,38 Miliar Berhasil Diamankan

INTREN.ID, BATAM – Operasi gabungan patroli laut Kantor Pelayanan Umum Bea dan Cukai Kota Batam, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Khusus Kepulauan Riau (Kepri), serta dibantu Tim Patroli Pangkalan Utama Angakatan Laut (Lantamal) IV dengan nama Operasi Jaring Sriwijaya, berhasil menangkap kapal kayu tanpa nama bermuatan minuman beralkohol ilegal bernilai milliaran rupiah, di wilayah perairan Tanjung Sengkuang, Kamis (20/10/2022) malam.

Kabid Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Batam, M Rizki Baidillah menjelaskan, kapal kayu tersebut berisi mikol sebanyak 8.784 botol. Dengan estimasi nilai barang yang berada dalam kapal tersebut sebesar Rp 4,38 miliar dengan taksiran kerugian negara sebesar Rp 9 miliar.

Kronologis kejadian ini bermula ketika Satgas Patroli Laut Bea Cukai Batam mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya kapal kayu yang diduga bermuatan mikol ilegal yang akan masuk ke peraian Indonesia. “Kemudian Satgas Patroli Laut Gabungan melakukan pengejaran sampai di perairan Tanjung Sengkuang,” ucap Rizki.

Dengan sikap pelaku yang tidak kooperatif, pengejaran pun dilakukan hingga terjadi penabrakan kapal pelaku ke kapal Bea Cukai Batam. Sehingga menyebabkan kerusakan di bagian lambung kapal. “ABK (anak buah kapal) sengaja menabrak kapal patroli Bea Cukai, karena ABK kapal kayu tidak bersikap kooperatif,” tambahnya.

Setelah penabrakan tersebut, kapal tersebut masih melaju dengan kecepatan tinggi menuju perairan dangkal di sekitar perairan
Tanjung Sengkuang sehingga kapal tersebut kandas. Pada saat kapal tersebut kandas, ABK melakukan upaya melarikan diri dengan cara melompat ke laut. Pada saat bersamaan, seluruh satgas patroli berusaha untuk melakukan kegiatan pertolongan.

Namun, tidak lama dari kejadian tersebut, berdasarkan pantauan petugas terlihat dua kapal pancung membantu ABK untuk melarikan diri. Dengan koordinasi dan kolaborasi satgas, kapal tersebut berhasil ditangkap oleh petugas.

“Pada saat dilakukan pemeriksaan, tidak ditemukan dokumen kelengkapan kapal dan didapati kondisi kapal dalam keadaan bocor serta papan nama kapal telah dibuang oleh ABK kapal tersebut,” jelas Rizki.

Pelaku diduga melanggar Pasal 102 Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU 10/1995 tentang Kepabeanan dengan ancaman 1-10 penjara dan denda paling sedikit Rp 50 juta hingga Rp 50 miliar. Selain itu juga dianggap melanggar UU 39/2007 tentang Perubahan atas UU 11/1995 tentang Cukai dengan ancanam 1-5 tahun penjara dan denda 2-10 kali lipat cukai yang seharusnya dibayar.

Rizky mengungkapkan, luasnya wilayah perairan Indonesia membutuhkan extra effort dan sinergi antarinstansi dalam melakukan pengawasan. Bea Cukai terus berupaya melakukan pengamanan wilayah perairan Indonesia dengan melakukan koordinasi bersama aparat penegak hukum lainnya untuk meningkatkan efektivitas pengawasan.

“Selain meningkatkan efektivitas pengawasan, kami juga melakukan pengawasan peredaran barang ilegal di Indonesia yang merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antarinstansi aparat penegak hukum dalam melakukan pengawasan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya. (***)

Reporter: Agung Maputra

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.