Sarkowi Siap Maju Pilkada Kukar, Tiga Periode di DPRD Kaltim Jadi Modal

INTREN.ID, TENGGARONG – Anggota DPRD Kaltim, Sarkowi V Zahry ikut meramaikan kontestasi Pemilihan Kepala Daerah Kutai Kartanegara (Pilkada Kukar) 2020. Keputusan majunya Sarkowi itu dituangkannya dalam status media sosial (medsos) miliknya.

Dalam tulisan berjudul “Disarankan Maju Bupati Kukar, Saya Menangis” itu, Sarkowi menceritakan pertemuannya dengan ketua DPD Golkar Kaltim, H Rudi Mas’ud dalam open house. Tak hanya itu, anggota dewan tiga periode itu juga menceritakan suka-dukanya lantaran harus mengalah dalam demi partai politik (parpol) yang membesarkan namanya.

“Bismillah, Alhamdulillah, hari raya kedua silaturahmi open house dengan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalimantan Timur Bapak H Rudi Mas’ud (HARUM) di kantor beliau Pulau Atas, Makroman, Samarinda,” tulis Sarkowi mengawali tulisannya di akun Facebook miliknya.

Dalam postingannya, Sarkowi juga mengaku mendapat saran dari Rudi Mas’ud untuk ikut berkompetisi memperebutkan kursi Bupati Kukar.

“Bang Sarkowi, silakan sosialisasi. Mulai pasang baliho, turun ke masyarakat. Jangan kalah dengan kader lain. Ini peluang pengabdian untuk rakyat dan daerah. Belum ada calon Golkar sampai sekarang,” kata Rudi Mas’ud yang dikutip Sarkowi.

Saran itulah yang menguatkan Sarkowi untuk ikut kontestasi. Apalagi selama ini, mantan jurnalis itu selalu “kalah” dalam perebutan kekuasaan. Baik di partai maupun parlemen.

“Saya meneteskan air mata juga karena teringat perjalanan politik saya selama ini. Kampanye gencar setiap pileg (pemilihan legislatif) dan mematuhi perintah partai, tapi begitu giliran soal jabatan saya disuruh mengalah,” ungkapnya.

Di akhir tulisan, Sarkowi menyatakan kesiapannya untuk bertarung di Pilkada Kukar. Kini dia terus berupaya untuk mendapatkan rekomendasi partai.

“Saya akan tetap berusaha, berjuang dan berdoa untuk memperoleh rekomendasi Partai Golkar sebagai calon bupati. Sebagai kader Golkar selalu diajarkan untuk siap jika diberi peluang pengabdian. Terima kasih Pak Rudi Mas’ud sangat bijak sebagai pimpinan parpol di Kaltim. Bismillah!!!” tutupnya.

Berikut postingan lengkap Sarkowi terkait keinginannya maju Pilkada Kukar.

 

DISARANKAN MAJU BUPATI KUKAR, SAYA MENANGIS

Bismillah, Alhamdulillah, hari raya kedua silaturahmi open house dengan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalimantan Timur Bapak H. Rudi Mas’ud (HARUM) di kantor beliau Pulau Atas, Makroman, Samarinda.

Dengan beliau yang juga anggota DPR RI (Pusat) ini, Alhamdulillah banyak topik dibahas. Mulai politik daerah-nasional, bahkan cerita awal beliau merintis usaha dari nol dengan mengangkat sendiri kayu balok guna membangun kantor, hingga kini sangat sukses di usia muda. Bisnis minyaknya sangat maju pesat dengan karyawan ribuan orang. Kapal beliau sangat banyak. Beliau sangat patut dicontoh generasi muda dan politikus soal perjuangan hidupnya tak mudah pasrah, religiusnya, konsep bisnis dan jaringan serta beliau peraih suara tertinggi seluruh caleg DPR RI (semua partai se-Kaltim) dengan 128.910 suara.

Soal politik jelang pilkada kabupaten-kota di Kaltim juga dibahas. Beliau ingin kader Golkar potensial jika punya kesiapan untuk berani maju pilkada, termasuk di Kukar. Kata beliau di Kukar itu masih terbuka peluang semua kader untuk mencalonkan dan dicalonkan. Sampai saat ini, dari Golkar belum ada calon yang diputuskan dan direkomendasi DPP (Pusat), karena menunggu survei nantinya. Biar tidak mendaftar jadi calon di Golkar Kukar tetap bisa diusung Golkar sebagai calon nantinya.

Hebatnya lagi Ketua HARUM: Sangat jeli dan paham latar belakang kader-kader Golkar. Beliau tahu kalau saya lebih 20 tahun di Golkar, pernah menjadi Ketua Tim/Direktur Utama Pemenangan Bupati Kukar Rita Widyasari 2010, Ketua Tim Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak-Mukmin Faisyal (di Kukar) 2013, ketua Tim Pilpres di Kukar, dan sudah tiga periode di DPRD Provinsi Kaltim. Menurut beliau, menang pada Pemilu Legislatif tiga kali merupakan bukti mempunyai basis massa di 18 kecamatan di Kukar.

- ADVERTISEMENT -

Sepulang dari tempat beliau dan masuk mobil saya berkali kali meneteskan air mata. Bukan apa, kalau teringat saya tidak jadi mengembalikan formulir sebagai calon di Golkar Kukar beberapa waktu lalu, karena ternyata Golkar Kukar hanya membuka pendaftaran calon wakil bupati, padahal perintah pusat (juklak) harus dibuka seluas-luasnya untuk semua kader baik pendaftaran sebagai calon bupati maupun calon wakil bupati yang nantinya diputuskan pusat dengan melihat hasil survei. Nah, saya waktu itu memang mengambil formulir pendaftaran, tapi untuk calon bupati bukan calon wakil bupati. Saya kecele.

Saya meneteskan air mata juga karena teringat perjalanan politik saya selama ini. Kampanye gencar setiap pileg dan mematuhi perintah partai, tapi begitu giliran soal jabatan saya disuruh mengalah.

BEGINI KISAH NYATANYA:

– Tahun 2014, secara aturan partai saya memenuhi syarat (point tertinggi dari tiga calon yang diusulkan ke pusat) menjadi Ketua DPRD Provinsi Kaltim, tapi diminta Pak Awang Faroek (Gubernur Kaltim waktu itu/Ketua Wantimbang Golkar Kaltim) dan Bu Rita Widyasari mengalah mundur dengan alasan saya masih muda agar mengalah untuk senior. Saya sangat hormat kedua tokoh tersebut dan tak bisa menolak permintaannya. Apalagi Bu Rita, orang yang sangat baik dan saya anggap kakak sendiri seperjuangan memulai politik. Ditambah pesan almarhum Pak Syaukani (Kaning), orang yang menyuruh saya terjun ke politik banting setir dari wartawan. Singkat cerita, gagallah menjadi Ketua DPRD Provinsi Kaltim 2014.

– Saat Bu Rita Widyasari memanggil saya ke pendopo bupati dan minta mengalah untuk posisi Ketua DPRD Kaltim. Beliau sempat memperlihatkan SMS Pak Awang Faroek yang minta saya mundur. Lantas Bu Rita bilang tidak enak menolak permintaan Pak Awang Faroek. Tapi, Bu Rita sempat bilang janji bahwa sebagai gantinya saya akan beliau gandeng sebagai calon wakil bupati pada Pilkada 2015. Ternyata belum rezeki pengabdian saya, beliau menggandeng Pak Edi Damansyah (kini beliau Bupati Kukar). Gagallah saya jadi calon wakil bupati Kukar.

– Saya manusia biasa, bisa kecewa. Saya pun daftar calon wakil bupati di Partai Golkar (versi Pak Agung Laksono – ketika itu Golkar pecah dua dengan Golkar versi Pak Aburizal Bakrie). Beberapa hari kemudian, saya di telepon Pak Awang Yacub Luthman yang juga mendaftar sebagai calon. Saya ingat hari Jumat waktu itu. Pak Awang Yacub bilang Partai Golkar akan merekomendasikan beliau sebagai calon bupati berpasangan dengan saya calon wakil bupati. Saya sempat bilang minta waktu memberi jawaban sore hari, karena harus berembug dengan istri dan keluarga.

Begitu ada restu keluarga, saya mau telepon Pak Awang Yacub menyatakan kesiapan keburu ada pesan BBM dari Bu Rita yang sedang berada di Australia. Hebatnya Bu Rita memang politikus hebat, seperti sudah tahu perkembangan. “Mun awak ndak diajak berpasangan, dik kuakui lagi awak sebagai dengsanakku. Etam bermusuhan hehe (Kalau kamu mau diajak berpasangan, tidak kuakui lagi kamu sebagai saudaraku. Kita bermusuhan hehehe),” tertulis pesan tersebut yang seperti bercanda tapi saya yakin serius.

Singkat cerita, saya lagi lagi tak bisa menolak permintaan Bu Rita. Saya telepon Pak Awang bilang tidak bersedia dengan alasan keluarga tak izinkan. Singkat cerita, gagal saya maju Pilkada 2015.

– Fakta terbaru, tahun 2019. Pasca Pileg 2019, nama saya masuk lagi calon Ketua DPRD Provinsi Kaltim dari lima calon yang diusulkan ke Golkar Pusat. Secara aturan partai, saya satu-satunya yang memenuhi syarat 100 persen. Calon lain ada yang bukan incumbent, atau bukan pengurus harian Golkar provinsi, atau bukan sarjana. Perolehan suara tertinggi di Golkar hasil Pileg 2019 tidak lagi menjadi syarat calon Ketua DPRD karena sistem pemilu kini sainte lague. Wal hasil, saya juga harus sabar berbesar hati tidak direkomendasi. Senior partai menyarankan agar saya membawa masalah itu ke Pengadilan Mahkamah Partai dan beliau yakin saya menang. Tapi, saya tidak mau karena rasa hormat saya pada senior-senior dan pejabat di partai, apalagi Ketum Airlangga Hartarto yang sangat kami hormati, dan tentu banyak pekerjaan harus beliau selesaikan. Singkatnya belum rezeki pengabdian saya di situ.

Dari perjalanan itu semua, saya mundur atau tidak mendapatkan jabatan di politik karena satu alasan: saya sangat menghormati para senior. Saya juga belum bisa memastikan apakah ungkapan orang “mundur bukan berarti kalah atau mengalah untuk menang” adalah ungkapan yang cocok untuk saya.

– BAGAIMANA PILKADA KUKAR 2020/2021?

Saya akan tetap berusaha, berjuang dan berdoa untuk memperoleh rekomendasi Partai Golkar sebagai calon bupati. Sebagai kader Golkar selalu diajarkan untuk siap jika diberi peluang pengabdian.

Terima kasih Pak Rudi Mas’ud sangat bijak sebagai pimpinan parpol di Kaltim. Bismillah!!!

Siapa tahu ada saran-saran sahabat FB ku? Terima kasih yang sudah membaca tulisan panjang ini. (***)

 

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.