Samarinda Menuju Fase Relaksasi Tahap III, Tinggal Satu Pasien di RS Karantina

INTREN.ID, SAMARINDA Penyampaian perkembangan dan persiapan memasuki fase relaksasi tahap III Covid-19 di Kota Samarinda dirangkai silaturahmi Forkopimda Samarinda di Ballroom Hotel Harris, Samarinda Sabtu (27/06/2020).

Pemaparan oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan dr Ismed Kosasih dihadiri langsung Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang beserta istri, Puji Setyowati yang juga anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Wakil Wali Kota Samarinda M Barkati, Wakil Ketua DPRD Samarinda Subandi, Dandim 0901/Samarinda Kolonel Inf Oni Kristyono, Kepala Bagian Perencanaan Polres Kota Samarinda Komp Darsono mewakili Kapolresta, Dandenpom VI/1 Samarinda Mayor CPM Teguh Ariwibowo, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda dr Sri Puji Astuti, Sekretaris Daerah Kota Samarinda Sugeng Chairuddin, Asisten Sekot Samarinda, Kepala OPD Pemkot Samarinda, camat, direksi BUMD, dan undangan terkait lainnya.

“Kita sudah mendengarkan pemaparan dari Plt Kepala Dinas Kesehatan bahwa sampai hari ini hanya tinggal satu pasien yang di Rumah Sakit Karantina Bapelkes. Ini menandakan Kota Samarinda berangsur pulih dari pandemi Covid-19. Namun demikian, kita terus mengingatkan tidak boleh lengah dan takabur,” pesan Jaang.

Jaang menekankan agar tidak lelah dan berhenti berdoa untuk dijauhkan dari marabahaya.

“Kita juga harus tetap menjalankan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, cuci tangan, dan berperilaku hidup bersih dan sehat, sehingga kondisi ini bisa dipertahankan terus,” jelas Jaang.

Bulan Juli 2020 ini rencananya Pemkot Samarinda akan mengadakan gerakan belanja kepada warung tetangga atau warung yang ada di sekitar rumah masing-masing dengan tujuan supaya ekonomi di Samarinda bisa berangsur pulih akibat Covid-19.

“Belanja di warung tetangga itu maksudnya, kita kembali menghidupkan ekonomi yang terpuruk karena Covid-19. Kadang-kadang kita belanja sesuatu hanya di toko yang besar, sedangkan pedagang kecil juga membutuhkan bantuan kita. Dengan kita berbelanja di warung tetangga itu ibaratnya secara tidak langsung juga membantu masyarakat. Jadi harapannya jangan hanya toko modern yang besar saja bisa terus hidup, tetapi warung kecil mati karena sepi konsumen. Saya minta Pak Sekda segera membuat edaran supaya Kepala OPD, camat, lurah beserta staf itu belanja di warung tetangga dan terus dilaporkan hasilnya,” pintanya.

Ditambahkan pula untuk kembali menggairahkan dunia pariwisata di Kota Samarinda juga harus diawali dari Kepala OPD, camat, lurah beserta staf.

“Saya menyampaikan kepada seluruh instansi yang ada di lingkungan Pemkot Samarinda dan camat untuk mengunjungi destinasi objek wisata di Kota Samarinda yang penting bisa merata tidak ada yang tertinggal bisa dengan program Family Gathering. Tujuannya sendiri untuk kembali menggairahkan pariwisata dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa sudah dibuka, juga menguatkan kepada masyarakat bahwa memasuki tahap relaksasi yang ketiga menuju new normal ini Kota Samarinda sudah aman. Kita hanya membantu seperti menyosialisasikan,” tambah Jaang.

Sampai saat ini protokol kesehatan di Kota Samarinda juga terus berjalan dengan kebijakan memakai masker, menjaga jarak, cuci tangan tetap dilakukan karena sebagai pemerintah harus bisa memberikan contoh yang baik kepada warganya.

Protokol kesehatan harus tetap jalan meskipun diketahui masih ada warga yang tidak menggunakan masker. Yang terpenting, lanjutnya, sebagai penanggung jawab kota juga sebagai gugus tugas harus terus memberikan contoh yang baik kepada masyarakat untuk kebaikan bersama.

Sedangkan untuk masalah pendidikan, katanya, tetap mengikuti protokol bidang pendidikan secara nasional melalui Kementerian Pendidikan. Nantinya, akan disesuaikan dengan kondisi di daerah.

“Memang masalah anak ini banyak faktornya. Selain itu namanya juga masih anak-anak yang masih suka bermain, sehingga penanganannya juga berbeda,” beber orang nomor satu di Kota Tepian tersebut.

- ADVERTISEMENT -

Sementara itu Ismed Kosasih menjelaskan kunci keberhasilan menekan Covid-19 di Samarinda adalah kerja sama yang baik di dalam tim Gugus Tugas Covid-19 untuk mengatasi dan mengendalikan pandemi ini. Selain itu juga memanfaatkan teknologi informasi melalui panggilan siaga 112, di mana strategi ini dirasa Ismed sangat berhasil, karena bisa lebih dini mendeteksi warga yang terpapar Covid-19.

“Keberhasilan kita menekan Covid-19 ini adalah kerja sama yang baik di dalam tim gugus tugas yang diketuai Bapak Wali Kota Samarinda. Selain itu teknologi informasi melalui 112 dirasa sangat berhasil karena bisa mendeteksi warga yang terpapar Covid-19 lebih dini dengan adanya laporan yang masuk,” bebernya.

Disebutkannya Rumah Sakit Karantina di Bapelkes Kaltim sangat bermanfaat untuk menampung kapasitas isolasi yang dilakukan, sehingga pada saat terjadi lonjakan pasien di tanggal 21 April 2020 lalu, semua pasien yang positif dan pasien PDP itu mampu dikendalikan.

“Memang di saat itu bahkan hampir di seluruh Indonesia puncak-puncaknya Covid-19 karena alat deteksi kita seperti rapid masih sangat terbatas. Di fase relaksasi ini memang ada penurunan kasus, tetapi bukan berarti tanpa kasus baru. Karena selama vaksin itu belum ditemukan, maka terjadinya kasus-kasus baru itu adalah keniscayaan. Saat ini Dinkes Kota Samarinda terus melakukan tes massal bertujuan melakukan pemetaan dan mencegah gelombang kedua yang bisa saja terjadi,” papar Ismed.

Perlu diketahui bahwa tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Kota Samarinda mencapai 93 persen. Dari 65 orang yang positif terkonfirmasi hampir 59 orang sembuh.

“Sampai detik ini pun di Kota Samarinda tidak ada transmisi lokal, karena kalau sudah transmisi lokal itu sangat berat. Karena pasien tidak ada riwayat perjalanan luar dan pasien yang ada di Samarinda semuanya mempunyai perjalanan dari daerah lainnya. Dari data ini insya Allah Kota Samarinda siap memasuki masa new normal. Alhamdulillah rumah sakit karantina kita tinggal satu pasien dan rumah sakit rujukan kita di RS AWS dan RS IA Moeis hampir sebulan ini tidak merawat pasien Covid-19,” jelasnya.

Disampaikan juga bahwa rumah sakit karantina yaitu Gedung Bapelkes ini adalah milik Pemprov Kaltim. Oleh sebab itu Pemkot Samarinda juga bersiap-siap bila gedung tersebut akan digunakan.

“Entah kenapa kita tahun lalu mengajukan anggaran DAK Kesehatan untuk pembangunan pusat karantina di Sungai Siring bahkan sebelum kasus Covid-19 ada. Mudah-mudahan insya Allah akhir tahun ini bisa terlaksana pembangunannya,” katanya.

Menurutnya ini salah satu persiapan di masa transisi apabila Bapelkes sudah tidak digunakan lagi.

“Karena pusat karantina sendiri harus ada di setiap kota yang sudah menjadi standar dari WHO pada masa new normal. Kalau disetujui kami juga akan mengadakan viar mobile dengan tujuan yang paling penting untuk pencegahan. Ini bukan untuk rapid, tetapi untuk swab dan bisa dilakukan dengan waktu yang sangat cepat. Kita bisa masuk sampai kampung untuk akses pelosok-pelosok. Apabila pandemi Covid-19 ini berakhir, viar mobile bisa digunakan untuk pemerikasaan tes TBC, HIV, Hepatitis, Campak, dan penyakit lainnya yang menjadi tugas Dinas Kesehatan Kota Samarinda,” terangnya.

Sementara terkait pendidikan, menurutnya, menjadi kebijakan pusat karena beberapa masukan dari dokter anak, pemerhati anak dan lainnya, rekomendasinya mengikuti arahan dari pusat.

“Perlu diketahui juga bahwa pelayanan kesehatan 100 persen sudah jalan. Kami sudah membuka Puskesmas dan Posyandu sepenuhnya,” jelas Ismed dalam laporan terbarunya tentang masalah Covid-19 di Kota Samarinda. (***)

 

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.