Rintihan Penjahit yang Merajut Hidup di Tengah Pandemi Corona

Sebulan Tak Ada Penghasilan, Tak Dapat Bantuan dari Pemerintah

INTREN.ID, BATAM – Penyebaran virus corona baru (Covid-19) yang telah masuk ke Batam telah berdampak pada semua pihak. Salah satunya para penjahit di kelas ekonomi menengah ke bawah.

Santika, pemilik Santika Tailor yang berlokasi Jalan Bakal, Kelurahan Taman Baloi, Kecamatan Batam Kota, menyampaikan keluh kesahnya saat ditemui intren.id, Rabu (29/4/2020). Sudah lebih dari satu bulan lalu, dari delapan mesin jahit yang dimiliki, hanya dua yang beroperasi.

Itu pun untuk mengerjakan pesanan yang telah masuk beberapa waktu lalu. Sementara enam mesin jahit lainnya diistirahatkan. Imbasnya, para penjahit yang bekerja di tempatnya tersebut turut dirumahkan lantaran ketiadaan pesanan yang masuk sejak satu bulan terakhir.

“Jika dirasakan, penurunan pesanan mencapai 80 persen dari hari biasa,” tuturnya sembari menjahit.

Ibu tiga anak itu mengungkapkan, pada hari biasa dirinya banyak mendapatkan pesanan dari para pelanggan. Khususnya yang akan mengadakan acara atau kegiatan lainnya. Tetapi semenjak adanya Covid-19, tidak lagi ada kegiatan yang membutuhkan pakaian baru. Lantaran kebanyakan orang saat ini bekerja di rumah saja.

“Semenjak pandemi corona menyerang secara global, saya rasa semua pihak sangat merasakan dampaknya,” ujar Santika.

Dia pun kini tak lagi mencari keuntungan semata yang besar. Melainkan hanya memikirkan bagaimana untuk bisa bertahan hidup dan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dalam waktu satu pekan terakhir, dirinya hanya menerima beberapa pesanan pembuatan baju saja. Karena minimnya pendapatan sejak beberapa waktu terkahir, bahkan listrik di rumah perempuan 41 tahun tersebut sempat disegel oleh pihak penyedia karena belum bisa melakukan pembayaran.

Atas hal tersebut, Santika berharap pemerintah bisa memikirkan masyarakat yang terkena dampak Covid-19. Diharapakan pembagian sembako yang ada saat ini bisa berjalan tepat sasaran.

- ADVERTISEMENT -

Sementara itu Yusuf, penjahit lainnya mengisahkan, pembagian sembako oleh Pemerintah Kota Batam tidak tepat sasaran. Pasalnya pria yang telah sebulan dirumahkan dan tidak memiliki penghasilan sama sekali tersebut tidak mendapatkan sembako seperti program pemerintah yang banyak dikabarkan untuk masyarakat terdampak virus corona.

“Kalau bisa memilih, saya juga tidak mau berdiam dirumah. Tetapi kalau tidak ada pesanan penjahitan baju ya mau bagaimna lagi. Yang pasti kami salah satu keluarga yang merasakan dampak corona, tetapi tidak mendapatkan perhatian pemerintah,” terang Yusuf.

Pria yang tinggal di kawasan Dapur 12, Sagulung itu berharap pemerintah meninjau kembali terhadap bantuan yang akan diberikan pada kesempatan selanjutnya. Sehingga orang-orang yang terdampak Covid-19 seperti dirinya bisa mendapatkan bantuan tersebut.

Sementara itu untuk memastikan tidak adanya penyelewengan pada penyerahan bantuan Covid-19, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepri langsung terjun ke lapangan. Mereka melakukan pengawasan penyaluran sembako kepada masyarakat.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Kepri Kombes Pol Hanny Hidayat mengatakan, tim pengawasan pendistribusian sembako telah terjun ke lapangan sejak Sabtu (25/4/2020) lalu. Untuk melakukan pengawasan saat melakukan pendistribusian.

“Sudah ada dua kelurahan di kota Batam yang diawasi oleh pihak kepolisian,” Kata Hanny. Dua kelurahan tersebut berada di Bengkong Sadai dan Kelurahan Belian.

Hanny menegaskan, pengawasan pendistribusian tersebut akan dilaksanakan secara berkelanjutan. Terlebih pendistribusian bantuan pada saat pandemi ini akan dilaksanakan hingga beberapa kali.

“kami harapkan tidak ada penyelewengan yang terjadi. Dan apabila kami menemukannya, maka akan langsung kmlami tindak dengan pasal berlapis yang telah kami siapkan,” tegasnya. (***)

Reporter: Agung Maputra

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.