Remaja Pembunuh Balita di Sawah Besar Hamil, Ternyata Korban Pelecehan Seksual

INTREN.ID, JAKARTA – Fakta baru terungkap dalam kasus pembunuhan balita di Sawah Besar, Jakarta Pusat awal Maret lalu. Remaja putri pelaku pembunuhan, NF, diketahui merupakan merupakan korban tindak kekerasan seksual dan tengah hamil 14 pekan.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat menuturkan, NF berada dalam dua posisi sekaligus. Yaitu sebagai pelaku pembunuhan dan menjadi korban kekerasan seksual.

“Kasus kedua juga perlu diselidiki untuk mendapatkan kesimpulan logis mengapa anak ini melakukan tindak kekerasan,” kata Harry, Kamis (14/5/2020).

Fakta tersebut didapatkan usai NF menjalani pemeriksaan fisik dan psikologis di Rumah Sakit Polri Jakarta Timur. Polisi berhasil mengungkap bila NF menjadi korban kekerasan seksual oleh tiga orang terdekatnya yang berujung kehamilan.

NF telah dirujuk ke Balai Anak Handayani di Jakarta. Di balai milik Kemensos tersebut, NF mendapatkan layanan rehabilitasi sosial sembari menunggu proses peradilan.

Pekerja sosial dan psikolog Handayani telah melakukan beberapa terapi kepada NF. Saat ini, kondisi NF telah menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik secara fisik, psikis, sosial, dan spiritual.

- ADVERTISEMENT -

“Kondisi fisiknya tampak sehat dan sudah mampu menjaga kebersihan diri. Secara sosial, NF mulai terbuka dengan petugas untuk menceritakan permasalahannya dan merasa nyaman berada di balai. NF bahkan meminta untuk tetap berada di Balai Anak Handayani”Jakarta dan ingin mengurus sendiri anaknya setelah lahir,” urai Harry.

Kata dia, ada beberapa pembelajaran dari kasus NF yang perlu menjadi perhatian agar kejadian serupa dapat dicegah. Misalnya soal pengawasan orang tua, pelaku adalah orang terdekat dan berada di lingkungan anak dan kekerasan seksual terjadi di rumah.

Deputi Perlindungan Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Nahar menyatakan, hak anak dalam proses peradilan adalah mendapat pendampingan hukum. Pihaknya telah menyiapkan tim penasihat hukum untuk mendampingi NF di peradilan.

“Harapannya semua proses terkoordinasi dan penyelesaian perkara dilakukan secara koordinatif,” beber Nahar.

Dukungan agar NF mendapat rehabilitasi sosial pasca-keputusan pengadilan datang dari berbagai pihak. Salah satunya dari Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Putu Elvina.

“Sejak kasus ini merebak, kami sudah rekomendasikan untuk rehabilitasi. NF akan menjalani proses panjang. Saya berfikir kondisi psikologis pasti mengalami penurunan dan ini bisa dimanage oleh Balai Anak Handayani Jakarta,” sebut Putu. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.