Ramai Tagar #IndonesiaTerserah, Ini Tanggapan Ketua Gugus Tugas

INTREN.ID, JAKARTA – Viralnya tanda pagar #IndonesiaTerserah terkait penanganan virus corona baru (Covid-19) mendapat tanggapan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 itu berharap para tenaga medis tidak kecewa.

“Mengenai video Indonesia Terserah, kami sangat berharap kalangan dokter tidak kecewa,” kata Doni, Senin (18/5/2020).

Tagar #IndonesiaTerserah yang viral sejak Jumat (15/5/2020) di media sosial menampilkan gambar tenaga medis dengan tulisan “Indonesia Terserah”. Tagar ini menyoroti pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena banyaknya massa yang berkerumun di sejumlah tempat yang dapat memicu penyebaran Covid-19.

Alhasil tenaga medis merasa kecewa karena perjuangan mereka dalam menangani para pasien Covid-19 seperti tidak dianggap sama sekali. Padahal mereka telah berusaha keras dalam mencegah penyebaran virus, bahkan rela berbulan-bulan tidak bertemu keluarga demi merawat pasien.

“Sejak awal kami kedepankan ujung tombak kita adalah masyarakat. Kalau masyarakat terpapar sakit, dirawat di rumah sakit, apalagi dalam jumlah yang banyak dan tempat perawatan penuh maka yang sangat repot adalah dokter dan perawat. Jadi bahasan yang selalu kami kemukakan jangan kita biarkan dokter-dokter kelelahan,” sebut Doni.

Gugus Tugas mencatat hingga 6 Mei 2020 terdapat 55 tenaga medis yang terdiri atas dokter dan perawat telah meninggal selama pandemi Covid-19. Untuk itu, jangan sampai tenaga medis kehabisan waktu dan tenaga bahkan mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan bangsa Indonesia.
“Mereka wajib kita lindungi karena jumlah dokter kita paling sedikit, kurang dari 200 ribu orang sedangkan dokter paru berjumlah 1.976 orang artinya 1 dokter paru melayani 245 ribu warga Indonesia,” terang Doni.

Artinya, bila seorang dokter meninggal maka hal itu merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. Untuk itu dia menyatakan, semua pihak harus saling mengingatkan dan mencegah penularan. Segala ketentuan berhubungan dengan protokol kesehatan, UU No 6 tahun 2018 tentang Kedaruratan Kesehatan harus dipatuhi.

Di satu sisi, sangat mungkin bila Covid-19 tidak akan hilang dalam waktu singkat dari tengah masyarakat. Lantaran belum ada kepastian kapan vaksin dapat segera ditemukan. Artinya dalam waktu sangat lama, masyarakat harus tetap hidup di bawah ancaman Covid-19.

“Karenanya pesan Persiden kita harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan kita. Berdampingan dengan Covid-19 bukan berarti membuat kita lengah. Bukan berarti menyerah, tetapi justru tingkatkan kewaspadaan kita agar tidak terpapar Covid-19,” tegas Doni. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.