Psoriasis Lebih dari Sekadar Penyakit Kulit, Masyarakat Harus Tahu Dampak dan Penanganannya

INTREN.ID, JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Psoriasis Sedunia yang jatuh pada tanggal 29 Oktober, Novartis Indonesia bermitra dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) melangsungkan kegiatan kelas media virtual bertema “Psoriasis, Lebih dari Sekadar Penyakit Kulit” sebagai bentuk upaya yang berkelanjutan dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit Psoriasis.

Psoriasis merupakan kondisi kulit autoimun kronis yang mempercepat siklus pertumbuhan sel kulit, yang menyebabkan timbulnya bercak merah bersisik, tebal dan kering. Psoriasis dapat timbul pada kulit di bagian tubuh mana pun. Beberapa pasien juga merasa gatal, terbakar dan menyengat. Kondisi kulit tidak menular ini telah dialami sekitar 2 persen dari total populasi dunia.

Menurut Ketua Kelompok Studi Psoriasis Indonesia (KSPI), dr Endi Novianto SpKK(K) FINSDV FAADV, saat ini, psoriasis banyak dijumpai di masyarakat. Sayangnya bagi sebagian orang, mereka tidak menyadari bahwa mereka mengalami psoriasis. Walaupun psoriasis masih belum dapat sepenuhnya disembuhkan, tetapi dengan penanganan yang tepat, penyakit ini bisa dikendalikan kekambuhannya dengan baik.

“Psoriasis yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius seperti radang sendi (psoriasis arthritis/PsA) dan sindrom metabolik,” kata dr Endi.

Dia menambahkan, PsA dapat terjadi pada sekitar 30 persen orang dengan psoriasis. Selain PsA, orang dengan psoriasis juga dapat memiliki berbagai penyakit penyerta lainnya seperti depresi, diabetes, dan penyakit jantung. Sekitar 12 persen dari orang dengan psoriasis memiliki diabetes tipe 2.

“Setiap orang memiliki risiko yang sama terkena psoriasis, baik wanita maupun pria. Untuk itu, menjadi sangat penting bagi seseorang yang memiliki masalah psoriasis, atau yang mengetahui apabila keluarganya memiliki riwayat penyakit Psoriasis, untuk dapat menyadari pemicunya. Pasien dengan psoriasis perlu mendapatkan tata laksana yang adekuat, yang biasanya penatalaksanaannya bergantung pada seberapa banyak kulit yang terpengaruh, seberapa berat kondisinya, atau lokasi bercak kemerahan dan sisik, serta bersifat individual. Selain itu juga penting untuk mengubah gaya hidup untuk menjadi pola hidup bersih dan sehat,” tambah dr Danang Tri Wahyudi SpKK(K) FINSDV FAADV.

Penatalaksana yang direkomendasikan beragam, mulai dari pengobatan topikal menggunakan krim dan salep, terapi sinar ultraviolet, obat-obatan oral, dan yang terbaru adalah pengobatan menggunakan agen biologik.

“Walaupun telah mendapatkan pengobatan oleh dokter, pasien dengan psoriasis juga harus mengubah dan menerapkan gaya hidup yang sehat untuk mendapatkan kualitas hidup yang optimal, antara lain menurunkan berat badan bagi yang berlebih, berhenti konsumsi alkohol, berhenti merokok, melakukan diet sehat, dan yang tidak kalah penting adalah berolahraga secara rutin,” tutup dr Danang.

- ADVERTISEMENT -

Penatalaksanaan psoriasis yang efektif tidak hanya mengatasi gejala kulit tetapi juga dapat membantu mengurangi peradangan di dalam tubuh yang dapat menyebabkan penyakit penyerta lainnya, seperti psoriasis arthritis, penyakit kardiovaskular (jantung), sindrom metabolik, dan masalah kesehatan mental.

Sementara Country Head of Public Affairs, Communications & Patient Advocacy Novartis Indonesia, Hanum Yahya menambahkan, Novartis terus berupaya menjadi mitra aktif pemerintah dan para praktisi kesehatan dalam upaya meningkatkan sistem kesehatan di Indonesia.

“Sejalan dengan tujuan kami re-imagine medicine, kontribusi Novartis di Indonesia salah satunya diwujudkan melalui program Continuous Medical Education (CME), yang telah berhasil melatih lebih dari 10.000 dokter dari berbagai area spesialis, dalam empat tahun terakhir. Selain program CME, melalui program peningkatan kesadaran (DAP) untuk berbagai penyakit, kami bermitra dengan organisasi pasien dan medis dalam mengedukasi masyarakat awam untuk meningkatkan kesadaran atas penyakit, ajakan untuk pemeriksaan dini serta taat pada tata laksana pengobatannya” kata Hanum.

Hanum menambahkan, guna membuka akses pasien terhadap obat-obatan inovatif, Novartis Indonesia telah mendaftarkan obat-obatan inovatif yang berdasarkan research & development dari berbagai terapetik area ke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Pada kesempatan yang sama, turut diluncurkan Psoriasis Indonesia (Psonesia), sebuah aplikasi mobile yang ditujukan untuk membantu dokter dan pasien psoriasis di Indonesia dalam memonitor kondisi psoriasis.

Beberapa fitur yang disajikan dalam aplikasi ini antara lain dapat membantu pasien mendapatkan informasi yang komprehensif seputar psoriasis, riwayat penyakit, dan pengobatan yang telah mereka jalani, progres psoriasis pasien, membantu mengarahkan pasien kepada dokter spesialis terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, serta fitur lainnya yang tidak kalah informatif.

Selain membantu pasien, aplikasi ini juga dapat memberikan gambaran lebih jelas bagi dokter terhadap tingkat psoriasis yang dimiliki pasien, membantu dokter menentukan tatalaksana yang lebih baik terhadap pasien berdasarkan riwayat penyakit mereka, serta menyediakan informasi ilmiah untuk meningkatkan kapasitas dokter dalam menangani pasien psoriasis.

Aplikasi Psonesia digagas oleh KSPI dan Perdoski, serta didukung oleh Novartis Indonesia. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.