Proyek Kilang Bontang Batal Dibangun, Masalahnya Ada di Pemerintah Kota, Kementerian ESDM: Lahan Tak Cukup

INTREN.ID, BONTANG – Rencana pembangunan kilang bahan bakar minyak (BBM) di Kota Bontang, dibatalkan berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 9 Tahun 2022 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2021 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional. Proyek tersebut dicoret dari daftar Proyek Strategis Nasional yang ditetapkan Presiden Joko Widodo, 20 November 2022 lalu.

Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Soerjaningsih mengatakan, Pertamina sampai saat ini masih mengkaji proyek kilang tersebut. Pasalnya, masih ada beberapa masalah yang belum ditemukan solusinya. Selain itu juga mempertimbangkan pasokan BBM yang telah ada maupun akan meningkat dari proyek kilang lainnya.

“Rencana pembangunan GRR (Grass Root Refinery) Kilang Botang sejak rencana kerja sama Pertamina dengan calon partner berakhir di 2019, masih dalam pengkajian,” katanya dalam konferensi pers, Senin (18/01/2021).

Selain itu, kata dia, ada permasalahan mengenai keterbatasan lahan yang dimiliki Pemerintah Kota Bontang saat ini. Menurutnya, lahan yang tersedia tidak mencukupi untuk pembangunan kilang BBM baru. “Ini masih ada kajian khusus untuk capital expenditure (capex)-nya,” jelasnya.

Dia menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan pasokan BBM, kendati Kilang Bontang tak dibangun. Pasalnya, produksi BBM nantinya bersumber dari sejumlah proyek kilang yang tengah dibangun saat ini, seperti peningkatan kapasitas kilang yang telah ada melalui Refinery Development Master Plan (RDMP) dan kilang baru lainnya seperti di Tuban, Jawa Timur sudah cukup besar. Bahkan, untuk produksi avtur akan berlebih dan kemungkinan bisa diekspor.

Meski bensin kemungkinan masih akan diimpor, namun tidak akan terlalu besar dan jauh menurun dibandingkan saat ini. “Gasoline (bensin) impor masih cukup tinggi, namun demikian, dengan onstream tahap 1 Kilang Balikpapan, disusul beberapa kilang, di 2020 masih ada impor. Tanpa kilang GRR Bontang, mungkin impor masih, tapi tidak terlalu besar,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengaku sudah melakukan evaluasi terhadap daftar pembangunan kilang dan memastikan Kilang Bontang batal dikerjakan.

“Kita bangun kilang dan upgrade itu kita hitung lagi. Sebelumnya, ada enam kan, empat upgrade dan dua bangun baru. Ini kita koreksi. Kita hanya bangun satu kilang baru dengan upgrade empat kilang existing. Yang baru, Tuban. Bontang kita tidak,” kata Nicke Widyawati.

Dia mengatakan, pembatalan ini disesuaikan dengan merosotnya permintaan BBM di dalam negeri. Sementara kilang-kilang lain masih bakal dikerjakan Pertamina.

Pembatalan tersebut juga merupakan konsekuensi dari tidak dilanjutkannya kerja sama dengan perusahaan migas asal Oman, yakni Oman Overseas Oil and Gas (OOG). Kendati demikian, Nicke menyebut Pertamina masih ada kerja sama lain dengan OOG.

“Dengan OOG kan juga mundur juga kan. Jadi, ini sesuai demand yang ada. Kita membangun nggak cuma kilang, tapi integrasi juga sama petrochemical,” tandasnya.

Kilang Bontang sebelumnya adalah bagian dari enam mega proyek Pertamina yang terdiri dari empat pengembangan kilang existing yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) serta dua kilang baru (Grass Root Refinery/ GRR) Tuban dan Bontang. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.