Poros Pilgub Kepri: Soerya-Iman, Isdianto-Ansar, dan Ismeth-Marlin/Amsakar?

Memprediksi Arah Koalisi Pesta Demokrasi di Selat Malaka

INTREN.ID, BATAM – Keputusan koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengusung Soerya Respationo-Iman Sutiawan untuk berlaga di Pemilihan Gubernur Kepulauan Riau (Pilgub Kepri) memunculkan banyak spekulasi. Siapa calon lawan mereka?

Sejatinya, koalisi “banteng moncong putih” dengan “burung garuda” sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Saat itu, Soerya yang juga ketua PDIP Kepri “dikawinkan” dengan Wali Kota Tanjung Pinang, Syahrul yang juga ketua Gerindra Kepri. Namun kabar duka datang. Syahrul dipanggil Sang Khaliq.

Kendati demikian, koalisi PDIP dengan Gerindra tidak bubar. Mereka makin solid. Hingga akhirnya, nama Iman yang diplot menggantikan Syahrul. Saat ini Iman menjabat sebagai ketua Gerindra Batam. Duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Batam, dirinya menjabat sebagai wakil ketua.

“Kemarin malam (Selasa 2 Juni 2020, Red.), DPD Gerindra Kepri bertemu Pak Soerya di rumah beliau (rumah Soerya, Red.). Telah disepakati bersama bahwa PDIP, Gerindra, dan PKB akan mengusung pasangan Soerya Respationo-Iman Sutiawan sebagai Pasangan Cagub-Cawagub dalam Pilkada Kepri 2020,” beber Sekretaris Gerindra Kepri, Onward Siahaan.

Dengan demikian, baru pasangan Soerya-Iman yang siap maju pada kenduri demokrasi terbesar di kepulauan ini. Soal rekomendasi, kabarnya kedua partai politik (parpol) sudah sepakat. Hubungan harmonis antara PDIP dengan Gerindra di pusat juga menular ke daerah. Ditambah lagi dengan PKB yang sama-sama duduk di pemerintahan.

Lalu, siapa yang menjadi penantang? Ibarat sayur tanpa garam, kurang pas jika pesta demokrasi tak ada pertarungan. Kurang sedap jika hanya calon tunggal yang tampil. Namanya juga kompetisi, tentu harus ada persaingan. Harus habis-habisan. Ada yang menang dan kalah.

Beberapa spekulasi bermunculan. Kabar angin terus berhembus. Nama Gubernur Kepri pertama, H Ismeth Abdullah dan Plt Gubernur Kepri saat ini, Isdianto digadang-gadang bakal menjadi pesaing. Baliho terpampang di mana-mana. Hanya saja, baik Ismeth maupun Isdianto punya sedikit kendala. Apalagi jika bukan perahu.

Berbeda dengan Soerya-Iman yang sudah pasti dapat parpol, Ismeth dan Isdianto masih meraba. Belum ada kepastian siapa yang akan mengusung. Belum adanya kejelasan soal perahu, merembet pula pada kepastian soal siapa pendampingnya.

Namun beberapa kemungkinan masih saja terjadi. Karena jika dikalkulasi, perolehan kursi PDIP (8), Gerindra (4), dan PKB (3) berjumlah 15 kursi. Masih ada 30 kursi lagi yang bisa diperebutkan.

Masih ada Partai Golongan Karya (Golkar) dengan 8 kursi, Nasional Demokrat (Nasdem) yang punya 6, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 6 kursi, Demokrat (4), Hati Nurani Rakyat (Hanura) dengan 3 kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) yang punya 2 kursi, serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan 1 kursi.

Kecil kemungkinan jika parpol tersisa itu tidak mengusung. Sangat berisiko. Karena jelas-jelas akan merugikan. Bisa ditinggal pemilih pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang.

 

SIAPA PASANGAN ISDIANTO?

Meskipun belum ada pengumuman resmi dari parpol untuk mengusung, Isdianto percaya diri akan mendapatkan perahu. Bahkan dirinya memastikan akan deklarasi akhir Juni ini. “Insya Allah akhir bulan ini (Juni, Red.) saya akan deklarasi Pilgub Kepri,” kata Isdianto kepada awak media ini beberapa hari lalu.

Kendati demikian, dirinya enggan membocorkan parpol mana saja yang akan mengusungnya. “Kendaraan politik sudah ada, pendamping juga sudah ada. Tunggu saat deklarasi saja,” tegasnya.

Wajar saja Isdianto percaya diri. Namanya masuk dalam salah satu bakal calon yang direkomendasikan melalui rapat pleno Golkar Kepri di Aston Batam Hotel & Residence, Sabtu (6/6/2020). Selain Isdianto, beberapa nama juga direkomendasikan. Di antaranya Ansar Ahmad, Ismeth Abdullah, Huzrin Hood, Taba Iskandar, dan Raja Syahniar Usman.

Di banding nama-nama tersebut, Isdianto paling berpeluang. Statusnya sebagai petahana menjadi modal tersendiri. Yang pasti, Golkar punya kalkulasi sendiri kenapa dimunculkan nama Isdianto.

Menurut sumber media ini, kemungkinan besar Isdianto akan bergandengan dengan Ansar Ahmad. Jika sukses menggandeng Ansar, praktis 8 kursi sudah di tangan. Tinggal mencari 1 kursi. Pilihannya, bisa Hanura atau PPP. Atau keduanya. Dengan demikian, 12 kursi sudah menjadi modal bagi Isdianto-Ansar jika benar-benar berpasangan.

Pengamat politik dari Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI), Rachmayanti Kusumaningtias menilai, kemungkinan munculnya duet Isdianto-Ansar bisa saja terjadi. Terlebih menurutnya dari sisi kekuatan figur, keduanya memiliki basis massa dan pendukung  kuat.

“Duet Isdianto-Ansar pada Pilgub Kepri kali ini saya pikir menjadi kekuatan dahsyat yang sulit ditandingi. Kita tahu kedua figur ini sangat kuat, Isdianto dengan basis dukungan abangnya, yakni almarhum HM. Sani, sedangkan Ansar dengan dukungan konstituennya yang cukup kuat terutama dengan pengalamannya sebagai bupati dan sebagai ketua DPD Golkar Kepri dua periode,” imbuhnya.

Terlepas Ansar maju atau tidak, dari sisi dukungan partai, Golkar dikenal memiliki tradisi sebagai partai penguasa atau partai yang masuk dalam pemerintahan. Rachma meyakini, pertimbangan mendukung petahana akan masuk dalam kalkulasi Golkar Kepri. Memang akan mengagetkan jika Golkar menempatkan Ansar menjadi wakilnya Isdianto, walau hal itu mungkin saja terjadi, karena menempatkan sebaliknya adalah mustahil.

“Hanya saja apakah Ansar rela melepas kursi DPR RI demi jabatan Wakil Gubernur Kepri, ini juga menjadi pertanyaan. Tetapi stressing point saya adalah Golkar sangat mungkin usung petahana, soal siapa yang diusung jadi wakilnya mereka lebih tahu,” pungkasnya.

 

POROS BARU PILGUB KEPRI

Meskipun ada peluang, sangat kecil kemungkinan jika Nasdem, Demokrat, PAN, dan PKS bergabung dengan Golkar. Pilihannya tinggal Hanura dan PPP.

Di luar Nasdem, koalisi Demokrat, PAN, dan PKS kemungkinan bisa juga terjadi. Sama-sama berstatus sebagai partai oposisi di pusat, tidak menutup kemungkinan akan menular ke daerah.

Kalaupun PKS tidak ikut, koalisi Demokrat dengan PAN juga cukup. Keduanya kerap menunjukkan kemesraan. Kesamaan historis jadi musababnya. Dalam setiap kenduri politik, baik di level pusat hingga daerah, dua parpol itu terlibat koalisi.

Masyarakat Indonesia tahu betul bagaimana kedekatan Demokrat dengan PAN kala mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Pilkada Jakarta. Dua partai biru itu membuat kejutan dengan mengusung poros baru, bersama PKB dan PPP. Meskipun tidak menang, namun kekompakan Demokrat-PAN patut diacungi jempol.

Koalisi pun berlanjut pada pemilihan presiden (pilpres). Kemesraan mereka kembali terjalin dalam Koalisi Indonesia Adil dan Makmur dengan mengusung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kini, “dua sejoli” itu kompak menjalin koalisi politik di Senayan, DPR RI.

Di Pilkada 2020, Demokrat-PAN juga menjalin koalisi di beberapa daerah. Di Nusa Tenggara Barat (NTB) muncul poros biru dengan lakon Demokrat-PAN, ditambah Nasdem. Di Bengkulu pun keduanya bersatu. Di Sulawesi Utara keduanya kompak. Di Depok, Tangerang Selatan, dan daerah lainnya, Demokrat-PAN seperjuangan.

Jika hanya keduanya berkoalisi pun, sudah cukup untuk mengusung sepasang calon. Karena jika dikalkulasi, perolehan kursi keduanya menjadi 10. Sudah bisa ikut kontestasi.

Sedangkan Nasdem, rugi jika tidak mengusung calon. Mereka punya kader potensial untuk diusung. Yaitu Muhammad Rudi yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Batam.

Kalaupun Rudi tidak maju ke arena perebutan tingkat provinsi, bisa jadi Nasdem mengusung satu di antara dua nama. Bisa Hj Marlin Agustina Rudi atau Amsakar Achmad. Dua-duanya potensial menggantikan Rudi yang juga menjabat Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Namun hal ini menjadi kerugian bagi Rudi. Kalaupun maju di Pilkada Batam dan menang, Rudi hanya bisa menjabat satu periode lagi. Jika Nasdem menang di Pilgub Kepri 2020, karier Rudi habis. Karena jika calon yang diusung Nasdem menang, periode berikutnya berpeluang maju sebagai incumbent. Kalaupun si incumbent tidak diusung Nasdem lagi, bisa lompat partai.

Kecuali jika Nasdem kalah di Pilgub Kepri, peluang bagi Rudi untuk ikut kontestasi kian terbuka walaupun berat. Karena sudah pasti yang dilawan mendatang adalah incumbent dari parpol lain. Pemenang Pilgub Kepri tahun ini.

Kalaupun hanya mengusung calon tanpa memasang kader, kerugian juga bagi Nasdem. Partai besutan Surya Paloh itu masuk dalam jajaran tiga besar parpol top di Kepri. Kurang elok jika tidak mengusung. Bisa-bisa ditinggal pendukung. Pilihan Nasdem adalah berkoalisi dengan Demokrat-PAN, atau membuat poros baru dengan PKS.

Sementara bagi PKS, meskipun muncul baliho-baliho H Andrei Simanjuntak, namun lagi-lagi PKS tetap butuh koalisi. PKS punya dua pilihan. Bergabung dengan koalisi Demokrat-PAN, atau membuat poros baru bersama Nasdem. Dengan demikian, akan ada empat poros.

PKS sendiri masih malu-malu untuk menentukan pilihan. Meskipun kadernya sudah mempromosikan diri, namun belum ada rekomendasi partai untuk dijadikan tiket mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Kami masih terus melakukan komunikasi dengan seluruh kandidat, seperti Soerya, Ansar, Isdianto, hingga Ismeth. Kami juga telah menyodorkan nama kandidat dari internal partai,” ucap ketua DPW PKS Kepri, Raden Hari Tjahjono.

Jika Nasdem, Demokrat, PAN, dan PKS ngotot membuat poros masing-masing, di atas kertas pertarungan tinggal antara Soerya-Iman dengan Isdianto-Ansar.

Namun jika ingin mengalahkan Soerya-Iman dan Isdianto-Ansar, maka empat parpol tersebut harus berkoalisi. Sehingga, akan membentuk koalisi besar dengan 18 kursi.

Sama dengan PKS, PAN juga belum menentukan sikap. Ketua DPW PAN Kepri, Abdul Hamid Rizal mengungkapkan, pihaknya masih akan membahas persoalan pilkada di Kepri dengan pengurus wilayah dan pusat.

“Kami belum menentukan sikap. Akan dirapatkan dulu dengan DPW dan DPP. Namun komunikasi dengan sejumlah parpol lain tetap berjalan. Seperti Demokrat dan Nasdem,” kata Hamid yang juga Bupati Natuna itu.

Meskipun sudah menjalin komunikasi, namun partai berlambang matahari putih itu belum memutuskan untuk koalisi.

 

ISMETH BERPELUANG DIUSUNG POROS BARU

Sejauh ini, nama Rudi dan Ismeth adalah yang paling potensial. Ismeth punya kenangan manis bersama PKS, Demokrat, dan beberapa parpol lainnya saat Pilgub 2005 silam. Sedangkan Rudi dikabarkan punya elektabilitas tinggi karena memimpin kota dengan penduduk terbesar di Kepri. Selain itu, Rudi punya modal 6 kursi.

Kemungkinan pertama. Jika Rudi memilih tetap bertarung di Batam, Ismeth bisa saja dipasangkan dengan Marlina atau Amsakar. Artinya, tinggal meyakinkan Demokrat, PAN, dan PKS agar satu suara.

Namun jika Rudi ikut berkompetisi sebagai calon gubernur (cagub), Ismeth berpeluang besar akan membangun poros sendiri. Boleh jadi membentuk poros Demokrat-PAN atau Demokrat-PKS. Bisa juga membangun poros lain dengan melibatkan PAN, PKS, dan PPP dengan total raihan 9 kursi.

Jika Rudi maju, maka kemungkinan besar akan muncul empat poros. Kecil kemungkinan Demokrat akan memberikan kursinya untuk Rudi mengingat ada sejarah kurang nyaman antara keduanya. Kecuali jika usulan Demokrat diakomodir, mungkin partai berlambang mercy itu bisa berubah sikap.

Kemungkinan kedua. Rudi tetap maju di Pilgub Kepri, namun “mengalah” menjadi wakilnya Ismeth. Toh, Ismeth hanya bisa menjabat satu periode saja. Artinya Rudi harus bersabar satu periode menjadi orang nomor dua. Dengan demikian, karier politik Rudi akan panjang.

Jika Ismeth yang nomor satu, kemungkinan Demokrat akan luluh. Meskipun tidak bisa dijadikan tolok ukur, Demokrat tidak ada pilihan lain selain mengusung Ismeth-Rudi.

Karena satu-satunya kader potensial Demokrat, Apri Sujadi yang juga Bupati Bintan dan ketua Demokrat Kepri memutuskan untuk tidak ikut kontestasi di level provinsi.

Ismeth sendiri memastikan akan bertarung di Pilgub Kepri. Dukungan dari masyarakat luas menjadi alasannya. “Masyarakat meminta saya maju. Saat ini saya dan tim terus menjalin komunikasi dengan parpol dan tokoh. Mohon doanya ya,” kata Ismeth.

Ditanya soal wakil, Ismeth akan mendiskusikannya dengan parpol pengusung. “Kalau sudah pasti (dukungan parpol), nanti kami diskusikan,” bebernya.

Berikut Prediksinya

No Perkiraan Nama Kandidat Parpol Pengusung Kursi
1 Soerya Respationo-Iman Sutiawan PDIP (8), Gerindra (4), PKB (3) 15
2 Isdianto-Ansar Ahmad Golkar (8), Hanura (3), PPP (1) 12
3 Ismeth Abdullah-Hj Marlin Agustina/Amsakar Achmad Nasdem (6), PKS (6), Demokrat (4), PAN (2) 18

Keterangan: Data di atas hanya bersifat perkiraan.

 

PERANG BINTANG DAN KEBERUNTUNGAN DEMOKRAT

Jika prediksi itu tepat, maka pertarungan tiga poros diprediksi sengit. Pasalnya, baik Soerya, Isdianto, maupun Ismeth sama-sama pernah menjabat sebagai kepala daerah. Baik gubernur maupun wakil.

Namun yang perlu diwaspadai adalah ke mana arah Demokrat. Meskipun masuk dalam kategori partai menengah, namun partai besutan AHY ini selalu menjadi pemenang Pilgub Kepri. Saat ini di DPRD Kepri, Demokrat meraih 4 kursi.

Tentu kita masih ingat saat Pilgub 2005. Demokrat ikut dalam barisan Ismeth-Sani. Kemudian pada 2010 mengusung Sani-Soerya, sedangkan pada 2015 mengusung Sani-Nurdin.

Keberuntungan Demokrat dalam tiga kali kenduri demokrasi di Kepri terus berlanjut. Menarik dinanti, ke mana arah Demokrat pada Pilgub Kepri 2020? Apakah keberuntungannya masih berlanjut?

Dalam sebuah kesempatan, ketua Demokrat Kepri, Apri Sujadi menjawab diplomatis. Bupati Bintan itu menyampaikan bahwa partainya belum menentukan sikap. Mereka lebih memilih memantau situasi dan kondisi terlebih dahulu.

“Kami masih terus melihat peluang untuk koalisi. Kami intens melakukan komunikasi dengan seluruh parpol. Kami pasti mengumumkan siapa yang diusung Demokrat,” jawab Apri. (***)

 

Reporter: Agung Maputra

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.