Polda Kepri Ringkus Lima Tersangka Tindak Pidana Perdagangan Orang

INTREN.ID, BATAM – Jajaran Ditreskrimum Polda Kepulauan Riau (Kepri) menangkap lima orang tersangka tindak pidana perdanganan orang. Sebagaimana disampaikan Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Harry Goldenhardt didampingi Wadirreskrimum Polda Kepri AKBP Ruslan Abdul Rasyid dan Kasubdit V Dit Reskrimum Polda Kepri AKBP Dhani Catra Nugraha, Kamis (9/7/2020).

Lima orang tersangka itu berinisial SD, HA, MH alias D, AY alias M dan SY. Sebelumnya para tersangka berinisial SD, HA, MH alias D lebih dahulu diamankan. Setelah dilakukan pengembangan, tim berhasil menangkap tersangka berinisial AY alias M dan SY.

“Peran dari tersangka yang baru diamankan berinisial AY alias M jenis kelamin perempuan ialah sebagai perantara. Untuk menyalurkan para pekerja migran Indonesia. Tersangka berinisial SY berperan dalam pengurusan buku pelaut dan medical check up,” beber Harry.

“Dari peran para tersangka tersebut mereka mendapatkan keuntungan Rp 1 juta sampai dengan Rp 10 juta. Tersangka inisial AY alias M diamanakan di daerah Lampung sedangkan inisial SY diamanakan di Jawa Tengah,” imbuhnya.

Harry memaparkan, dari sembilan tersangka yang berhasil diamanakan, lima diantaranya berada di Polda Kepri. Sedangkan empat tersangka lainnya berinisial DT, RAS, ST dan SY diamanakan di Polres Metro Jakarta Utara atas tindak pidana pemalsuan dokumen sertifikat Basic Safety Training (BST).

“Empat orang tersangka tersebut merupakan bagian dari jaringan pelaku yang lima orang ini” tuturnya.

Barang bukti yang diamanakan meliputi beberapa unit ponsel milik tersangka, buku tabungan, kartu atm dan data gaji ABK Kapal. Kata Harry, kejahatan perdagangan orang ini merupakan kejahatan yang tidak berdiri sendiri.

- ADVERTISEMENT -

“Mereka selalu dalam bentuk jaringan dengan peran masing-masing dari perekrutan, pengurusan dokumen dan ada yang berperan sebagai perantara,” jelasnya.

Atas kejahatan yang dilakukan, para tersangka ini dikenakan pasal 2, pasal 4 dan pasa 10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dengan ancaman pidana paling lama 15 tahun dengan denda paling banyak Rp 600 juta.

Adapun kronologi pengungkapan ini berawal dari ditemukannya dua orang ABK Kapal berbendera Tiongkok yang terjun ke perairan Karimun dan diselamatkan oleh nelayan. Kedua orang tersebut adalah korban dari perekrutan pekerja migran Indonesia, yang dijanjikan untuk dipekerjakan ke Korea Selatan sebagai buruh pabrik.

Mereka diiming-imingi gaji sebesar Rp 25 juta sampai dengan Rp 50 juta per bulan, dengan persyaratan membayar biaya pengurusan sebesar Rp 50 juta per orang. Namun kenyataanya kedua korban dipekerjakan sebagai ABK di kapal penangkap ikan atau cumi pada kapal Fulu-Qing Yuan Yu 901 berbendera Tiongkok.

Selama empat bulan mereka tidak mendapat gaji dan sering mendapat intimidasi, serta penganiayaan dari kru kapal selama dipekerjakan di kapal tersebut. (***)

Reporter: Agung Maputra

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.