Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terkontraksi -3,49 Persen, Angka Pengangguran Tembus 9,77 Juta

INTREN.ID, JAKARTA – Sesuai yang sudah diperkirakan, resesi ekonomi mengguncang Indonesia. Dalam dua kuartal berturut-turut, pertumbuhan ekonomi minus. Ini adalah reses ekonomi pertama sejak krisis moneter tahun 1998 silam.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, pertumbuhan ekonomi kuartal III berada di angka -3,49 persen. Sebelumnya, pada kuartal II, pertumbuhan ekonomi juga negatif, yakni -5,32 persen. Sementara pada 1998, krisis ekonomi membawa pertumbuhan ekonomi RI berada di titik terendah, yakni -13,13.

Kepala BPS, Suhariyanto menegaskan, kendati masih minus, namun pertumbuhan ekonomi di kuartal III menunjukkan perbaikan jika dibandingkan kuartal II. Indikatornya adalah lapangan usaha merangkak tumbuh.

Di kuartal III, sektor transportasi dan pergudangan paling terpukul, yakni -16,7 persen. Kontraksi itu membaik jika dibandingkan dengan kuartal II yang tertekan hingga -30,80 persen.

Namun, yang masih belum move on adalah subsektor angkutan udara. Subsektor angkutan udara tercatat -63,88 persen, angkutan rel -51,11 persen, pergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos, dan kurir -17,57 persen. Lalu angkutan sungai, danau, dan penyeberangan -13,51 persen, angkutan laut -5,27 persen, dan angkutan darat -5,03 persen.

“Sektor pertanian tercatat berhasil tumbuh 2,15 persen karena ada panen raya padi pada triwulan III,” jelas Suhariyanto.

Dari segi pengeluaran, realisasi belanja pemerintah berhasil menahan kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III. Rinciannya, konsumsi pemerintah tumbuh 9,76 persen. “Karena ada kenaikan realisasi belanja bantuan sosial (bansos) serta belanja barang dan jasa yang jauh lebih tinggi dari posisi triwulan II,” bebernya.

Sementara itu, angka pengangguran di Indonesia juga tumbuh. Suhariyanto menjelaskan, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 9,77 juta orang pada Agustus lalu. Sekitar 7,07 persen terhadap jumlah angkatan kerja (tingkat pengangguran terbuka/TPT). Angka tersebut naik 2,67 juta orang jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dengan TPT 5,23 persen.

Menurut Suhariyanto, penambahan pengangguran tersebut turut dipengaruhi pandemi Covid-19. “Pengangguran terbesar terjadi di perkotaan, dengan TPT 8,98 persen. Sementara itu, di perdesaan, persentase TPT sebesar 4,71 persen. TPT tertinggi terjadi di DKI Jakarta sebesar 10,95 persen dan Banten yang mencapai 10,64 persen,” tutupnya. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.