Pernah Dibuat Meradang, Mungkinkah Demokrat Usung Isdianto di Pilgub Kepri?

AHY Mulai Keluarkan Rekomendasi untuk Calon Kepala Daerah

INTREN.ID, JAKARTA – Partai Demokrat mulai mengumumkan bakal calon kepala daerah yang akan diusungnya, Senin (22/6/2020). Satu per satu para jagoan partai berlambang mercy itu menerima surat keputusan (SK) yang diteken Ketua Umum DPP Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan Sekretaris Jenderal Teuku Riefky Harsya.

Daerah yang sudah mendapatkan rekomendasi di antaranya Manado, Sungai Penuh, Waykanan, Tanjungbalai, Sibolga, dan beberapa daerah lainnya. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada rekomendasi untuk calon kepala daerah di Kepulauan Riau (Kepri).

Untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kepri, beberapa nama sudah disodorkan ke Demokrat. Menurut sumber media ini, ada nama Ismeth Abdullah dan Isdianto. Ketiganya memang digadang-gadang akan bertarung pada kenduri demokrasi terbesar di Selat Malaka ini.

Nama Ismeth sendiri direkomendasikan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ismeth disandingkan dengan kader potensial PKS, Suryani yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Kepri.

Jika Demokrat menyetujui usulan PKS, bisa dipastikan Ismeth-Suryani akan menjadi penantang Soerya Respationo-Iman Sutiawan yang diusung koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pasalnya, perolehan kursi Demokrat (4) dan PKS (6) sudah cukup untuk mengusung sepasang calon.

Ketua DPW PKS Kepri, Raden Hari Tjahyono sebelumnya mengatakan, pihaknya sempat bertemu dengan Demokrat untuk koalisi dalam Pilgub Kepri mendatang.

“Kami sudah bertemu dengan Demokrat untuk membahas koalisi. Karena koalisi PKS dan Demokrat sudah memenuhi syarat untuk mengusung pasangan calon dalam Pilgub Kepri. Tinggal menunggu keputusan pusat,” katanya.

Nama Gubernur Kepri pertama, Ismeth Abdullah berada di peringkat pertama daftar calon yang akan diusung PKS. Raden menyebut, di antara semua bakal calon, Ismeth memang lebih intens melakukan silaturahmi. Itu dilakukan Ismeth sejak dulu.

“Untuk penjajakan awal, PKS telah memilih Ismeth untuk maju dalam Pilgub Kepri mendatang yang akan didampingi oleh salah seorang kader internal PKS. Sedangkan lima kader internal, sengaja belum kita sebut. Karena semua masih tergantung komunikasi politik,” ucapnya.

Sementara Ketua Tim Pemenangan Pemilu dan Pilkada Wilayah (TPPW) PKS, Achmad Saikhudin mengatakan, PKS ingin memberikan pasangan pemimpin yang serasi dan bisa bekerja sama dengan baik untuk membangun Kepri.

- ADVERTISEMENT -

“Kita saat ini terus melakukan penjajakan, setelah membangun komunikasi dengan Golkar kita membangun komunikasi dengan Demokrat. Nama Ismeth-Suryani kita sedang jajaki disamping nama kader PKS lainnya seperti Hanafi Ekra, Raden Hari Tjahyono, Iskandarsyah, dan Andrei Simanjuntak,” kata Achmad.

Ditambahkannya, Ismeth telah lama membangun komunikasi dengan PKS dan baru-baru ini Ismeth juga sudah menemui pengurus DPP.

“Pak Ismeth sudah jumpa dengan pengurus DPP, dia siap untuk diduetkan dengan kader PKS, salah satu di antaranya dengan Bu Suryani. Terkait dengan baliho dengan Irwan Nasir, Pak Ismeth pun siap untuk mengganti pasangannya,” tutupnya.

Peluang Ismeth untuk diusung Demokrat memang lebih besar ketimbang Isdianto. Apalagi, Isdianto yang saat ini menjabat sebagai Plt Gubernur Kepri, pernah membuat Demokrat meradang. Pasalnya, Demokrat yang saat itu masih diketuai Susilo Bambang Yudhoyono, “ditelikung” Isdianto usai terpilih sebagai wakil gubernur.

Beberapa hari setelah menjabat sebagai wakil gubernur, Isdianto kedapatan mengenakan seragam PDIP. Bahkan informasinya menjadi kader partai berlambang banteng moncong putih dan ikut kongres di Bali bersama Soerya. Padahal, Isdianto direkomendasikan oleh lima parpol pemenang Pilgub Kepri. Sementara PDIP berbeda haluan dengan Demokrat.

Pada Pilkada 2015 lalu, koalisi Demokrat, Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), PKB, dan Gerindra mengusung pasangan Muhammad Sani-Nurdin Basirun. Namun setahun kemudian, Sani yang juga kader Demokrat meninggal dunia. Sehingga, Nurdin naik menjadi gubernur. Karena terjadi kekosongan wakil gubernur.

Kemudian, koalisi Sani-Nurdin merekomendasikan beberapa nama, di antaranya Isdianto, Agus Wibowo, hingga Mustofa Widjaja. Setelah melalui proses yang alot, Isdianto yang notabene adik kandung Sani terpilih secara aklamasi.

Rasa trauma itulah yang menjadi jalan terjal Isdianto untuk mendapatkan rekomendasi Demokrat. Kendati demikian, peluang itu masih ada. Tergantung dari kesepakatan politik antara Isdianto dengan Demokrat. Hanya saja, jika Demokrat mengusung Isdianto, bisa menimbulkan pro dan kontra.

Bukan tanpa alasan PKS-Demokrat bakal berkoalisi. Hubungan mereka kian mesra sejak sama-sama berada di luar pemerintahan. Bahkan, keduanya sepakat membangun kerja sama politik dalam momen pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020. (***)

 

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.