Penyiram Air Keras Dituntut Satu Tahun Penjara, Novel: Kebobrokan yang Dipertontonkan

INTREN.ID, JAKARTA – Dua pelaku penyiram air keras ke wajah pentidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan pada Kamis (11/6/2020) dituntut jaksa dengan hukuman satu tahun penjara. Tuntutan ini mengundang kontroversi di masyarakat, termasuk Novel yang menyebutnya sebagai kebobrokan hukum Indonesia.

Malahan, Novel yang kehilangan penglihatan seumur hidup itu mengaku sudah menduga bahwa tuntutan jaksa akan seringan itu. Kata dia, sidang terhadap dua pelaku atas nama Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette itu sebatas formalitas.

“Memang hal itu sangat keterlaluan. Karena suatu kebobrokan yang dipertontonkan dengan vulgar tanpa sungkan atau malu,” sebut Novel kecewa.

Kata dia, tuntutan atas terhadap Rahmat Kadir dan Ronny Bugis cerminan kebobrokan proses penegakan hukum yang dipertontonkan. Hal ini semakin menunjukkan betapa masyarakat akan sulit mendapatkan keadilan dalam sistem hukum yang seperti ini.

“Selain marah, saya juga miris karena itu menjadi ukuran fakta sebegitu rusaknya hukum di Indonesia. Lalu bagaimana masyarakat bisa menggapai keadilan? Sedangkan pemerintah tak pernah terdengar suaranya,” ungkapnya.

Dalam sidang, kedua terdakwa dianggap jaksa tidak memenuhi unsur-unsur dakwaan primer soal penganiayaan berat dari Pasal 355 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Jaksa beralasan para terdakwa hanya akan memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman air keras ke Novel Baswedan.

Di luar dugaan air keras itu mengenai mata Novel Baswedan yang menyebabkan mata kanan tidak berfungsi dan mata kiri hanya berfungsi 50 persen saja artinya cacat permanen. Sehingga unsur dakwaan primer tidak terpenuhi. (***)

Editor: Lukman Maulana

 

https://www.youtube.com/watch?v=6w-rJIpMrR0&list=PL3EEz3PC9eUdmAGVf6j56LTcRVfbci2pM

Get real time updates directly on you device, subscribe now.