Pentingnya Edukasi Masyarakat Cegah Hepatitis Akut Misterius, Jangan Sampai Anak-Anak Terpapar

INTREN.ID, BALIKPAPAN – Kasus hepatitis akut misterius mulai membuat masyarakat waswas. Lantaran anak-anak disinyalir terpapar penyakit tersebut, banyak orang tua yang enggan melepas anaknya belajar ke sekolah. Hal itu pun mendapat respon dari anggota DPR RI.

Anggota DPR RI Dapil Kaltim, Irjen Pol (Purn) Drs H Safaruddin mendorong agar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terkait penyakit hepatitis akut yang penyebabnya belum diketahui. Pasalnya, pembelajaran tatap muka (PTM) segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Penanganan hepatitis akut misterius ini harus serius. Karena masyarakat sudah mulai resah. Harus dipastikan, apakah sudah masuk ke Indonesia atau belum. Jika belum, segera lakukan edukasi untuk pencegahannya. Karena sebentar lagi anak-anak sudah sekolah,” kata anggota Komisi III DPR RI yang membidangi persoalan hukum, keamanan, dan hak asasi manusia itu.

Ketua DPD PDI Perjuangan Kaltim itu menambahkan, koordinasi dan sinergitas antara pemerintah dengan lembaga profesi juga harus ditingkatkan. Meskipun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk menunda PTM, namun tetap harus menyiapkan langkah antisipasi.

“Jangan sampai anak-anak terpapar. Apalagi, infonya sudah ada tiga anak yang meninggal diduga akibat hepatitis akut misterius tersebut. Yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penyakit tersebut. Harus segera disosialisasikan kepada masyarakat,” kata Kapolda Kaltim 2015-2018 itu.

Sebagai informasi, Kementerian Kesehatan mengungkap berbagai cara untuk mencegah penyebaran hepatisi. Di mana, anak-anak harus rajin mencuci tangan dengan sabun, memastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi matang, hingga tidak menggunakan alat-alat makan bersama dengan orang lain. Untuk menghindari penularan melalui saluran pernapasan, anak-anak tetap harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas.

IDAI pun telah memberikan rekomendasi yang menjadi protokol bagi rumah sakit, puskesmas, fasilitas kesehatan (faskes) pertama, dan dokter anak di seluruh Indonesia terkait penanganan penyakit hepatitis akut misterius tersebut. Rekomendasi itu terkait tata laksana dan skrining. Misalnya, bila ditemukan kasus anak dengan ciri-ciri kuning, demam, sakit perut, dan ada peningkatan enzim transaminase lebih dari 500 unit per liter, lalu pemeriksaan hepatitis A, B, C, D, dan E negatif, bisa dimasukkan dalam probable. Sebab, belum diketahui penyebabnya apa. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.