Opini Pendek: Puasa, Zakat, dan Keadilan Sosial

Oleh Farkhan Evendi, Ketua Umum Bintang Muda Indonesia

INTREN.ID, JAKARTA – Puasa dilakukan oleh kita sebagai umat muslim untuk menahan diri dan atau lebih lanjut lagi untuk menghentikan perilaku tamak karena memang pada dasarnya manusia diciptakan cenderung untuk tamak.

Seperti Nabi Adam AS di mana Allah SWT telah memberikan kenikmatan Surga dan seisinya, namun karena bisikan setan untuk memakan buah khuldi, maka Nabi Adam pun memakannya, padahal jelas-jelas Allah sudah mewanti-wanti melarang untuk memakannya. Setan sangat pintar untuk menipu daya Nabi Adam, untuk berbuat tamak.

Di sinilah sebenarnya puasa itu bertujuan untuk menahan diri. Menahan diri yang dimaksud adalah menahan diri dalam hal apapun. Baik menahan diri dalam perkataan, perbuatan, juga nafsu. Dan dengan puasa pula kita bisa membedakan mana yang hak kita, dan mana yang bukan hak kita.

Setelah itu adalah zakat. Zakat merupakan ajaran yang membuat kita mau berbagi. Saking pentingnya zakat, Allah SWT sering menyandingkan perintah salat dengan perintah zakat seperti ayat di bawah ini:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

”Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At Taubah [9] : 11).

Zakat juga untuk menyucikan harta

Sebagaimana disebutkan pada ayat berikut, yang artinya:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At Taubah: 103)

Ditunaikan zakat sama dengan membersihkan harta sehingga harta itu berkah, bila harta berkah ia akan mengurangi kemudaratan pada harta tersebut. Misalkan datangnya penyakit dan lain sebagainya yang dapat mengurangi kebahagiaan si pemilik Harta.

Zakat diberikan di antaranya untuk fakir, miskin, anak yatim, amil zakat, budak (hamba sahaya), rang yang baru masuk Islam (nualaf), hingga musafir di jalan Allah.

Zakat fitrah adalah ibadah wajib sebagai pelengkap ibadah kita sebagai umat muslim dalam menjalankan puasa di bulan Ramadan. Oleh sebab itu zakat fitrah hukumnya wajib untuk semua muslim yang telah menjalankan puasa satu bulan penuh.

Kita memang terbiasa menunaikan zakat firah di akhir Ramadan, namun ada anjuran yang membolehkan dalam menunaikan zakat di awal bulan Ramadan.

“Boleh mendahulukan zakat fitrah dimulai dari awal puasa Ramadan sebab zakat fitrah wajib karena dua sebab yaitu puasa Ramadan dan berbuka dari puasa (al-fithru minhu). Dengan demikian ketika dijumpai dari salah satu keduanya maka boleh mendahulukan zakat fitrah atas yang lain seperti kebolehan mendahulukan zakat mal setelah sampai nisab dan sebelum haul. Dan tidak boleh menunaikan zakat fitrah sebelum bulan Ramadan karena hal itu sama dengan mendahulukan atas dua sebab sebagaimana ketidakbolehan mengeluarkan zakat mal sebelum sampai haul dan nisab,” (Lihat Abu aIshaq Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, Beirut-Darul Fikr, tt, juz I, halaman 165).

Menunaikan zakat fitrah lebih awal, sahabat bisa membantu masyarakat yang sedang mengalami kesusahan karena pandemi yang saat ini terjadi, kita tahu kondisi ekonomi masyarakat Indonesia saat ini sedang melemah, zakat fitrah bisa menjadi persediaan pangan para penerima manfaat.

Zakat pada dasarnya juga mendorong keadilan sosial, berbagi, dan mengadvokasi kepada orang-orang yang lemah.

Keadilan sosial memerlukan energi berbagi dan saling merasai dalam solidaritas sama rasa, serta semangat enteng berbagi.

Dengan zakat kita menyelamatkan perut-perut kelaparan, kita ikut menebar keadilan sosial, di mana keadaan sosial masyarakat kita yang saat ini sedang mengalami compang-camping oleh oligarki, tanpa keadilan sosial yang terjadi adalah kelaparan tersebut bisa “meletu menjadi penjarahan ke rumah dan toko orang kaya, kriminalitas meningkat pesat, penjualan narkoba meningkat dan aneka kejahatan lain yang timbul dari kemiskinan.

Keadilan sosial harus dikembangkan dan dilawan dari oligarki atau tirani kekuasaan dan sktruktur ekonomi masyarakat yang dikuasai segelintir elit namun enggan berpuasa dari ketamakan.

Pada akhirnya bagi Bintang Muda Indonesia (BMI) sendiri, puasa, zakat, dan keadilan sosial adalah bentuk karakter sejati BMI yang terus-menerus bergerak untuk rakyat, berpuasa dengan berjuang penuh ketaatan dan pertanggungjawaban, memberi zakat dengan menjadi bintang di hati orang-orang miskin dan tersisih, serta menjadi pejuang bagi tegaknya keadilan sosial dengan kemampuan yang dimiliki.

Lakon puasa, zakat, dan keadilan sosial harus menjadi solidaritas besar-besaran dan harus semakin lebih besar lagi di tengah tatanan dunia yang semakin mengkhawatirkan dengan adanya pandemi Covid-19 yang belum tuntas penyelesaiannya dan juga kita merasakan di negeri ini penuh dengan oligarki virus jahat yang menyerang kesehatan manusia, yang membuat hukum dan keadilan melambat, yang juga membuat tanah semakin banyak dikuasai kaum borjuis yang setor ke oknum penguasa dan negeri ini semakin jauh dari keberkahan.

BMI dan kita semua, akan terus memperjuangkan nilai-nilai puasa, zakat, dan keadilan sosial sebagai sesuatu yang penuh nilai-nilai universal untuk menyelamatkan negeri ini dari krisis multidimensi dan krisis kepemimpinan.

Dengan puasa, zakat, dan keadilan sosial kita terus bersihkan hati serta membersihkan negeri ini dari elit-elit tanpa mau berpuasa untuk merebut yang bukan haknya.

April 2021. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.