OJK Klaim Relaksasi Kredit Perbankan Capai Rp 113,8 Triliun

Hingga 26 April, Dilakukan 65 Bank dari Ratusan Ribu Debitur

INTREN.ID, JAKARTA – Hingga 26 April, relaksasi keringanan kredit perbankan bagi debitur yang terkena dampak virus corona baru (Covid-19) mencapai Rp113,8 triliun. Angka tersebut dilakukan 65 bank yang berasal dari 561.950 debitur.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, jumlah ini termasuk restrukturisasi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar Rp 60,9 triliun dari 522.728 debitur. Sementara untuk perusahaan pembiayaan, sampai 27 April, sebanyak 166 perusahaan telah menerima pengajuan permohonan keringanan debitur. Dengan jumlah kontrak restrukturisasi yang disetujui sebanyak 253.185 dengan nilai Rp13,2 triliun.

“Sebanyak 367.465 kontrak dengan nilai Rp 25,36 triliun sedang dalam proses,” urai Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo, Kamis (30/4/2020).

OJK dalam hal ini juga menyambut baik dan mendukung upaya pemerintah dalam menjalankan kebijakan stimulus perekonomian lanjutan. Khususnya terkait pemberian subsidi bunga bagi debitur bank dan perusahaan pembiayaan.

OJK dan pemerintah, sebut Anto, akan menyiapkan ketentuan pelaksanaan program stimulus lanjutan ini. Ada sejumlah ketentuan kriteria debitur bank dan perusahaan pembiayaan yang berhak mendapatkan subsidi bunga pemerintah.

Meliputi debitur dengan kolektibilitas 1 (lancar) dan kolektibilitas 2 (dalam perhatian khusus). Kemudian target penerima manfaat debitur bank/perusahaan pembiayaan dengan kredit produktif UMKM hingga Rp 10 miliar, kredit kendaraan bermotor, dan kredit pemilikan rumah tipe 21, 22 sampai 70.

Subsidi bunga, papar Anto, bakal diberikan selama enam bulan dari April sampai September 2020. Besaran subsidinya suku bunga enam persen untuk tiga bulan pertama dan tiga persen untuk tiga bulan kedua, yang diperuntukkan klaster di bawah Rp 500 juta.

“Suku bunga untuk klaster di atas Rp 500 juta sampai dengan Rp 10 miliar sebesar tiga persen untuk tiga bulan pertama dan dua persen untuk tiga bulan kedua,” tambah Anto.

Dalam hal ini, OJK terus memantau dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian global dan domestik. Serta mengantisipasi melalui berbagai kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan menjaga perekonomian nasional. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.