Ngeri…! Oknum Satpol PP Pukul Ibu Hamil di Depan Suami saat Operasi PPKM di Kabupaten Gowa, Korban Dilarikan ke Rumah Sakit

INTREN.ID, GOWA – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang bertujuan untuk menekan penyebaran virus Covid-19 diwarnai aksi tidak terpuji aparat. Oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tega menganiaya seorang ibu hamil di Jalan Poros Barombong, Panciro, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Adalah Dhani H, begitu tulisan nama yang tertempel di seragam oknum Satpol PP itu. Dugaan sementara, nama aslinya Mardhani Hamdan. Jabatannya mentereng. Yaitu Sekretaris Satpol PP Gowa.

Rabu (14/7/2021) sekira pukul 20.40 Wita, dalam rekaman video amatir dan CCTV, dia tertangkap tangan memukul Amriani yang tengah hamil tua. Bahkan kabarnya, istri dari Nur Halim alias Ivan itu sampai pingsan akibat kontraksi saat melaporkan kekerasan yang dialaminya terhadap oknum Satpol PP di Polres Gowa Rabu malam dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Kejadiannya, saat operasi PPKM di Gowa, ada empat tim yang dikerahkan untuk menyasar tempat yang ada di Butta bersejarah. Tim 4 yang dipimpin Plt Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gowa, Hj Kamsina menyasar warung kopi (warkop).

Di daerah Panciro, petugas mendengar suara musik cukup keras. Petugas gabungan pun kemudian memeriksa Warkop Ivan. Saat itu, warkop tersebut sudah tutup. “Kami ikuti imbauan pemerintah untuk menutup warkop pada pukul 7 malam (19.00 Wita) kok,” kata Ivan.

Di video itu, seorang Satpol PP Gowa yang di dadanya tertulis nama Dhani, memasuki warkop dengan penuh amarah. “Mana surat izin ini kafe saya mau lihat,” kata Satpol PP itu sembari menghampiri Amriani yang duduk di sofa dan merupakan pemilik warkop.

“Pelan-pelan pak, orang lagi hamil pak, santai pak,” sahut Ivan sembari merekam video. Diduga tak terima direkam, Dhani langsung menghampiri Ivan dan melayangkan bogem mentah.

Terjadilah cekcok. Amriani yang melihat suaminya kena pukul langsung berdiri dan melempar kursi ke Satpol PP itu. Langsung saja Dhani mengejar wanita itu dan berhasil meninjunya.

“Pecah mi (air) ketubanku,” teriak Amriani. Melihat istrinya dipukul Satpol PP, Ivan hanya bisa berteriak dan mengambil video. Dia tak menyangka aparat yang digaji dari uang rakyat itu tega memukul istrinya yang sedang hamil. Keruan saja video Ivan pun viral di media sosial.

Beruntung, peristiwa itu berhasil dilerai aparat kepolisian yang sudah ada di lokasi. Malam itu juga Ivan dan istrinya melaporkan kejadian itu ke Polres Gowa. Hal itu sesuai dengan bukti laporan nomor LP/B/776/VII/2021/SPKT/POLRES GOWA/POLDA SULSEL tertanggal 14 Juli 2021.

Usai melapor, kepada wartawan Ivan mengaku, istrinya dalam kondisi hamil 9 bulan. Dia menjelaskan, saat razia PPKM, warkop atau kafe miliknya sebenarnya sudah tutup. Namun, saat itu dirinya bersama istrinya sedang menggunakan perangkat musik.

“Awal kejadiannya saya sama istri lagi live (endorse) musik. Karena dengar ada suara musik, mereka (tim PPKM) masuk. Cuma saat itu kami sudah tutup dan tidak ada pengunjung,” ujarnya kepada wartawan.

Saat itu, tim PPKM datang menegur dan menasihati agar mematuhi aturan, yaitu tutup pada pukul 19.00 Wita. “Ada satu anggota Satpol masuk dan tunjuki istriku. Sudah itu dia tampar saya, berdiri kulawan dan langsung ditampar istriku padahal lagi hamil,” bebernya.

Dia mengaku tidak melawan dan memilih untuk merekam kejadian pemukulan itu. Namun, dia sudah divisum di rumah sakit untuk menjadi bukti saat melapor ke polisi. “Dia tampar keras pipiku dan istriku. Ada bukti visum dari rumah sakit,” kata dia.

Akibat kejadian itu, Ivan ingin anggota Satpol PP Gowa yang melakukan kekerasan terhadapnya dan istrinya dipidanakan. “Pokoknya anggota Satpol PP itu harus dipidanakan. Saya tidak terima, makanya saya tempuh jalur hukum,” kata dia.

Kanit Reskrim Polsek Bajeng, Ipda Ariyanto mengatakan, awalnya menerima laporan dugaan penganiayaan. Lantaran tak terima, pemilik langsung melaporkan kejadian itu.

“Setelah mendatangi TKP dan interogasi korban, mereka ingin menggunakan haknya melapor di Polres dan kami persilakan. Pengakuannya, dia sedang hamil 9 bulan,” ujarnya, Kamis (15/7/2021).

Kepala Satpol PP Gowa, Alimuddin Tiro tak membantah adanya dugaan anak buahnya melakukan penganiayaan. Dia mengaku akan memintai keterangan oknum tersebut terlebih dahulu.

“Saya juga belum ketemu dengan anggota saya ini (oknum Satpol PP yang melakukan penganiayaan, Red.) soal terkait apa. Tapi kan kita sama-sama menyaksikan video viral itu bahwa itu adalah oknum. Jadi tidak mengatasnamakan institusi,” ujar Alimuddin, Kamis (15/7/2021).

Menurutnya, tindakan ini sangat mencoreng institusinya. “Saya mau gali seperti apa kejadiannya. Ini jujur mencoreng. Ini saya mau ketemu sebentar (Dhani H),” terangnya lagi.

Caci-maki netizen pun ditujukan kepada aparat Satpol PP Gowa. Tagar Satpol PP Gowa Sulsel trending Indonesia. “Orang model gini ga akan jera kalo cuman dikasih sanksi institusi, sekalian aja kasih sanksi sosial dr masyarakat biar kapok,” cuit salah seorang netizen.

“Padahal satpol PP itu termasuk PNS, PNS itu digaji dari uang rakyat. Tapi kok nindas gini sih aduh macamana ini,” kata netizen lain. Bahkan ada yang meminta Satpol PP anarkis itu dipecat. “Semoga keadilan ditegakkan, itu pol pp yang mukul duluan dipecat supaya tau susahnya nyari duit di zaman korona,” celetuk netizen lainnya lagi.

Penjelasan dari Pemkab Gowa

Plt Sekda Kabupaten Gowa, Hj Kamsina yang memimpin tim tersebut tidak menyangka ada insiden pemukulan itu saat pihaknya berkeliling karena sudah dilakukan dengan cara humanis.

“Kami tidak menyangka dalam pengawasan yang saya pimpin semalam itu ada miskomunikasi antara anggota Satpol PP dan pemilik warkop yang kami singgahi saat dicek aktivitas malamnya. Sehingga menyebabkan adanya insiden keributan,” kata Kamsina melalui keterangan tertulisnya, Kamis (15/7/2021).

Kamsina lalu mengungkap kronologis oknum Satpol PP Gowa itu memukul pasangan suami-istri (pasutri) Ivan dan Amriana. Awalnya, Kamsina bersama tim turun melakukan patroli ke arah Kecamatan Pallangga dan Bajeng untuk menindaklanjuti adanya laporan dari masyarakat bahwa banyak pelaku usaha yang masih berjualan makan-minum di tempat di atas pukul 19.00 Wita.

Padahal Pemkab Gowa telah melarang penjual menerima layanan makan-minum di tempat di atas pukul 19.00 Wita dan hanya boleh pesan antar ataupun bungkus atau take away.

Selanjutnya, dalam perjalanan menuju daerah Pallangga dan Bajeng, Kamsina bersama tim mendengar adanya keributan yang berasal dari suara musik di salah satu warung kopi, yang kemudian diketahui milik pasutri yang dipukul oleh oknum Satpol PP Gowa.

“Sampai di depan kantor Desa Panciro, kita berhenti karena mendengar suara musik besar dari salah satu warkop,” kata Kamsina.

Setelah mendengar suara musik tersebut, tim lalu masuk ke warung kopi yang kebetulan pintunya masih terbuka. Tim kemudian langsung memasuki warkop tersebut dan menemui pemiliknya untuk menyampaikan agar mengecilkan volume musik, yang ditakutkan akan mengganggu masyarakat sekitar atau mengundang pengunjung datang.

“Jadi kita masuk, Alhamdulillah menyampaikan kepada pemilik warkop dengan sopan, kalau bisa, suara musiknya dikecilkan atau dimatikan saja. Karena ini akan mengundang orang untuk datang,” lanjut Kamsina.

Selain itu, Kamsina bersama tim meminta pemilik warung kopi menutup pintu karena sudah di atas pukul 20.00 Wita. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Bupati Gowa terkait Perpanjangan PPKM Mikro.

“Kalau kita mengarah ke surat edaran ini, artinya ini melanggar karena masih buka di atas jam 7 malam. Apalagi disertai dengan suara musik yang besar. Ini kan bisa mengundang dan memancing orang datang,” ujarnya.

Kamsina yang juga Kepala Inspektorat Gowa itu menambahkan, setelah memberikan penjelasan kepada pemilik warkop, dirinya bersama tim pun langsung meninggalkan usaha tersebut. Hanya, salah satu petugas masuk kembali untuk mempertanyakan izin operasi warung kopi tersebut.

Saat itulah mulai terjadi miskomunikasi yang menyebabkan keributan antara petugas dan pemilik warung kopi.

“Kalau terkait insiden ini mungkin karena kesalahpahaman antara pemilik dan petugas kami sehingga sama-sama emosional dan menimbulkan keributan. Karena kita mulai awal di sana bicara sopan. Saya berharap insiden ini tidak terulang lagi,” katanya.

Dirinya juga meminta dukungan masyarakat untuk menyukseskan PPKM mikro ini, yang akan berlangsung hingga 20 Juli mendatang.

“PPKM ini merupakan sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Gowa agar pandemi Covid-19 ini cepat berakhir. Karena itu, mari dukung PPKM ini agar kita bisa beraktivitas seperti biasa,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo-SP) Kabupaten Gowa, Arifuddin Saeni justru meragukan jika korban sedang hamil. Dia menduga korban sengaja membangun opini dengan menyebut anggota Satpol PP Gowa memukul wanita hamil saat razia PPKM.

“Hasil tes planologi dia (korban, Red.) tidak hamil. Ketika mau dilakukan USG, yang bersangkutan tidak mau. Ini kan berarti membangun lagi opini bahwa Satpol PP ini memukul orang hamil, padahal tidak,” ujarnya.

Kendati demikian, terkait dugaan penganiayaan terhadap pemilik warkop, sambung dia, pihaknya akan memproses oknum Satpol PP Gowa sesuai prosedur. Namun, dia belum tahu apakah oknum tersebut diperiksa di Inspektorat atau di Satpol PP.

“Kalau pemukulan itu tetap akan diproses, tapi untuk saat ini saya belum tahu arahnya ke mana. Tapi kalau sesuai prosedur tetap akan dilakukan pemeriksaan. Laporan ke polisi itu haknya dia, tentu kita tidak bisa halang-halangi itu, karena memang haknya,” ungkapnya. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.