- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Nestapa Liga Inggris di Tengah Corona, Rumahkan Staf hingga Wacana Potong Gaji Pemain

INTREN.ID, LONDON – Kompetisi sepak bola terbaik dunia, English Premier League (EPL) dibuat merana. Seluruh pertandingan dihentikan akibat pandemi Covid-19 alias corona.

Virus beralias corona memberikan efek domino bagi kompetisi di Negeri Ratu Elizabeth itu. Maju kena, mundur pun kena. Itulah nestapa yang dialami EPL.

Jika kompetisi tidak berjalan, operator EPL terancam denda jika kompetisi 2019/2020 setop di tengah jalan. Tak main-main, dendanya mencapai 762 juta poundsterling atau sekitar Rp 15,3 triliun.

Dilansir BBC, denda bakal diberlakukan jikalau pemilik hak siar menuntut pengembalian uang. Pasalnya, pemilik hak siar tidak bisa menayangkan sisa pertandingan akibat penangguhan kompetisi.

Tak hanya itu saja, dilansir Reuters, operator EPL juga dihadapkan dua pilihan sulit lainnya. Memotong gaji para pemain dan pelatih, atau terjerat tarif pajak yang tinggi.

Ketua Komisi Digital, Kebudayaan, Media, dan Olahraga (DMCS) Parlemen Inggris, Julian Knight menyebut, gaji pemain hingga pelatih yang selangit di banding pendapatan rata-rata tahunan masyarakat Inggris bakal menjadi beban dana jaminan sosial tenaga kerja.

“Saat ini, para pemain EPL yang tidak bekerja menerima ratusan ribu poundsterling ke rekening mereka. Jika operator EPL tidak mengambil langkah, pemerintah harus turun tangan. Harus ada denda yang signifikan sebagai pengganti bagi mereka yang lebih terdampak pendapatannya,” tegas Knight yang berasal dari Partai Konservatif.

Bak gayung bersambut, EPL berencana memotong gaji pemain dan pelatih hingga 30 persen. Itu dilakukan untuk menjamin keberlangsungan klub, khususnya dalam menggaji para pekerja lainnya.

“Klub-klub EPL sepakat sepenuhnya untuk berbicara ke pemain terkain kombinasi pengurangan kondisional dan pengalihan pendapatan tahunan mereka hingga 30 persen,” demikian bunyi pernyataan di lama resmi EPL.

Hanya saja, upaya tersebut belum final. Pasalnya, operator EPL sendiri masih akan berkonsultasi dengan pemain dan manajer.

Namun demikian, jika opsi melanjutkan kompetisi dilakukan, operator EPL mengutarakan jika pertandingan digelar secara tertutup tanpa penonton.

Klub Lakukan Efisiensi

Beberapa klub dilaporkan sudah mengambil kebijakan untuk menyambung hidup klubnya.

Newcastle United menjadi klub EPL pertama yang merumahkan staf nonpemain. Direktur Pelaksana Newcastle, Lee Charnley menginformasikannya melalui email ke karyawannya.

Juara bertahan Liverpool juga menyusul merumahkan karyawan. Kendati demikian manajemen klub menjamin bayaran secara penuh.

“Klub menginformasikan bahwa para staf akan dibayar 100 persen dari gaji mereka, untuk memastikan tak seorang pun dari klub ini mengalami kesulitan finansial,” bunyi pengumuman di lama resmi Liverpool.

Tak hanya itu, klub yang kepemilikannya didominasi konsorsium Fenway Sports Group itu juga tengah memulai diskusi dengan pemain dan pelatih, mengenai rencana pemotongan gaji.

- ADVERTISEMENT -

Efisiensi juga dilakukan Tottenham Hotspur. Chairman Tottenham, Daniel Levy mengumumkan bahwa klubnya akan memotong gaji 550 staf nonpemain selama dua bulan ke depan. Pemotongan adalah sebesar 20 persen.

Levy termasuk di antara yang mendapat pemotongan gaji 20 persen. Dia pun juga meminta para pemain legawa demi meringankan krisis finansial yang mendera perusahaan.

“Klub harus melakukan langkah-langkah untuk mengurangi biaya. Kami membuat keputusan sulit untuk melindungi pekerjaan dan mengurangi remunerasi 550 staf, direktur, dan karyawan nonpemain untuk bulan April dan Mei sebesar 20 persen,” jelas Levy.

Klub gurem macam Norwich City dan Bournemouth tak mampu membendung badai corona. Mereka juga memilih merumahkan staf. Dia pun memanfaatkan betul skema retensi pekerjaan dari pemerintah Inggris yang memungkinkan staf hanya mendapat 80 persen gaji hingga maksimum 2.500 poundsterling per bulan.

“Karena dampak Covid-19, Norwich City segera memulai proses merumahkan staf yang tidak dapat bekerja saat ini,” bunyi pernyataan resmi Norwich dilansir dari AFP.

Sebelumnya, para pemain Juventus, Barcelona, dan Bayern Muenchen telah melakukan pemotongan gaji pemain secara signifikan. Hingga penangguhan pembayaran sementara.

Pelatih Timnas Inggris Legawa

Sementara pelatih tim nasional (timnas) Inggris, Gareth Southgate sudah menyetujui pemotongan gaji hingga 30 persen.

Sebelum Southgate dipotong gajinya, dua pelatih tim EPL, Eddie Howe (Bournemouth) dan Graham Potter (Brighton & Hove Albion) sudah lebih dulu berkorban gaji di kala pandemi Covid-19 ini.

“Kerelaan Gareth (Southgate) dipotong gajinya akan menghadirkan tekanan serupa buat para pemain timnas. Dan sikap Gareth, Eddie (Howe), dan Graham (Potter) menunjukkan kalau para pelatih Inggris punya empati yang tinggi pada negaranya,” tulis Evening Standard.

Juru bicara FA kepada Sky Sports mengatakan dampak pandemi Covid-19 secara finansial belum diketahui separah apa karena masih berlangsung. “Sebagai organisasi nirlaba kami ingin membuat langkah tepat untuk mendukung negara dan tentu pegawai kami,” kata juru bicara FA.

Daily Mail menulis kira-kira gaji Southgate yang dipotong itu mencapai GBP 1 juta (Rp 20,09 miliar) tahun ini. Sebab setelah tanda tangan kontrak baru usai Piala Dunia 2018 lalu, Southgate digaji GBP 3 juta (Rp 60,27 miliar).

20 klub EPL bertemu pada Jumat, ketika mereka dengan suara bulat setuju untuk berkonsultasi dengan pemain mengenai kombinasi pengurangan bersyarat dan penundaan sebesar 30 persen dari total upah tahunan.

Pada Sabtu sore, EPL dengan semua klub, Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) dan Asosiasi Manajer Liga (LMA) dalam satu konferensi via telepon untuk mendiskusikan kemungkinan pengurangan atau penundaan upah.

Setelah pertemuan tersebut, PFA mengatakan pemain EPL bersiap untuk “berkontribusi finansial secara signifikan” namun mengingatkan pemotongan gaji 30 persen akan mempunyai implikasi luas.

Southgate bergabung dengan pelatih kepala rugby Inggris Eddie Jones yang memotong gajinya. Pekan lalu, Jones setuju untuk memotong gajinya lebih dari 25 persen, bersama dengan Tim Eksekutif Rugby Football Union (RFU). (***)

 

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.