- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Mungkinkah Biaya Rapid Test Corona di Batam Rp 150 Ribu? Ini Penjelasan Dinas Kesehatan

INTREN.ID, BATAM – Secara resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya menentukan tarif Rapid Diagnosis Test (RDT) virus corona baru (Covid-19) bagi Indonesia. Melalui Surat Edaran Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK.02.02/I/2875/2020 yang ditandatangani Dirjennya, Bambang Wibowo pada (6/7/2020). Namun apakah SE tersebut bisa berlaku di wilayah Kepulauan Riau (Kepri) khususnya Batam?

Secara tegas, Kepala Ombudsman perwakilan Kepri Lagat Parroha Patar Siadari, mengatakan bakal melakukan pengawasan terhadap pengenaan tarif tertinggi ini. Untuk memastikan semua fasilitas kesehatan (faskes) mematuhinya.

Kata dia, Ombudsman pernah melakukan kajian bahwa biaya material dan jasa pelaksanaan RDT tidak sampai Rp 100 ribuan.

“Jadi kami harap semua fasilitas kesehatan harus menerapkan tarif tertinggi Rp 150 ribu untuk yang akan melakukan tes mandiri guna keperluan perjalanan udara,” ujar Lagat.

Meskipun SE tersebut tidak mengatur soal sanksi, namun menurutnya SE tersebut tetap mengikat. Sesuai dengan UU 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan UU30 2011 tentang Administrasi pemerintahan.

“Maka pemerintah sebagai regulator dapat mengambil langkah-langkah penindakan akibat ketidakpatuhan pada ketentuan yang mengatur termasuk peninjauan perizinan dan pemberian sanksi,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi mengungkapkan, bahwa SE tersebut tidak bisa diterapkan di sejumlah wilayah terutama Kota Batam. Menurut Didi, material yang digunakan dalam pemeriksaan RDT untuk kota Batam berkisar Rp 150 ribu dan yang paling murah dihargai Rp 120 ribu. Biaya tersebut belum termasuk jarum suntik sekali pakai, masker, kacamata, hingga alat pelindung diri (APD) yang digunakan tim medis.

“Beberapa peralatan biasa digunakan sekali pakai. Dan jika biaya mengikuti SE tersebut, maka tidak akan tertutupi,” ucap Didi kepada intren.id, Rabu (8/8/2020).

- ADVERTISEMENT -

Disampaikan oleh Didi, memang telah terdapat material RDT dengan harga berkisar Rp 75 ribu yang merupakan produk Indonesia berasal dari Kota Mataram. Namun material RDT buatan BTKLPP tersebut diperuntukan untuk daerah-daerah dengan jumlah pasien Covid-19 yang masih tinggi seperti Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Bahkan baru-baru ini Singapura telah mengeluarkan material RDT dengan harga SGD 7 dolar. Namun material tersebut belum mendapat izin dari Kemenkes RI.

“Apabila telah mendapatkan izin, kemungkinan bisa langsung kita pakai. Dan biaya RDT bisa mendekati SE tersebut,” kata dia.

“Seharusnya, pemerintah menyiapkan material dengan harga lebih murah sehingga bisa membantu faskes untuk menyesuaikan ketetapan harga,” tambah Didi.

Menurut dia apabila dipaksakan dalam penyesuaian harga, kemungkinan akan banyak faskes yang akan menutup praktik pemeriksaan RDT. “Jika tetap dipaksakan, akan banyak yang tutup. Karena memang tidak akan bisa menutup biaya operasional yang ada,” paparnya.

Sebagai Informasi, untuk saat ini, di Batam telah ada sekitar 60 faskes yang bisa melakukan pengecekan RDT dan mengeluarkan surat Kesehatan yang telah terdaftar ke dinas kesehatan Batam. (***)

Reporter: Agung Maputra

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.