Menilik Krisis Air Baku di Batam

Selain wabah virus corona yang menghantui masyarakat Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, krisis air baku juga menjadi momok menyeramkan bagi warga kota tersebut.

 

INTREN.ID, BATAM – Nana terlihat terburu-buru menuju tempat penjualan drum bekas yang berada di Simpang Basecamp, Batuaji.

Hal itu itu dilakukannya untuk memastikan persediaan air di rumahnya cukup untuk beberapa hari.

Bukan tanpa alasan dirinya memilih membeli drum bekas sebagai wadah untuk menampung air.

Itu dilakukannya karena dalam beberapa hari lagi, PT Adhya Tirta Batam (ATB) berencana akan melakukan penggiliran air bersih kepada seluruh warga Batam.

Namun, keinginannya untuk membeli drum bekas berwarna biru itu urung dilakukannya, disebabkan harganya yang meroket setelah adanya pengumuman dari PT ATB tersebut.

“Biasanya harganya cuma Rp 150 ribu, sekarang Rp 350 ribu,” katanya saat ditemui intren.id, Jumat (13/3/2020) lalu.

Menurut Nana, kenaikan harga ini menjadi kesengsaraan yang bertumpuk. Karena jauh hari sebelum penggiliran dilakukan, suplai ATB untuk wilayah rusun di kawasan Batuaji tidaklah baik.

Masyarakat Kota Batam berbondong-bondong membeli drum bekas untuk menampung air.(Agung Maputra/intren.di)

“Sejak dahulu memang kurang baik, sekarang mau dilakukan penggiliran, apalah kalau gak kesusahan yang bertumpuk,” keluhnya

Sinta warga lainnya juga merasakan hal yang sama. Warga Perumahan Laguna, Batuaji itu mengatakan, pada kamis (12/3/2020), harga drum di lokasi tersebut hanya Rp 300 ribu per satuannya.

“Kemarin saya sempat tanya, tetapi karena tak bisa ambil jadi saya batalkan dahulu. Sekarang saya tak jadi beli,” ucap Sinta.

Padahal lanjutnya, Rp 300 ribu sangat berarti baginya sebagai ibu rumah tangga. Rupiah tersebut dapat dipergunakan untuk membeli bahan sembako yang diperkirakannya dapat bertahan dua atau tiga minggu.

Sementara itu penjual drum bekas, Sanidin, menjelaskan, kenaikan harga terjadi karena stok yang mulai menipis. Terlebih di pusat pengambilan drum bekas sudah kosong.

“Jadi ya kami jual agak tinggi. Kalau mau silakan, dan kalau tidak mau ya tak apa-apa,” ujarnya santai.

Diakuinya, belakangan ini penjualan drum bekas di tempatnya melonjak tajam.

Jika biasanya hanya terjual satu drum, namun sejak rencana penggiliran air bersih oleh PT ATB, ia dapat menjual hingga 20 drum ukuran 200 liter.

Hujan Buatan

Menghadapi krisis air baku, Badan Pengusahaan (BP) Batam berencana akan membuat hujan buatan bekerja sama dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT).

Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Binsar Tambunan, mengatakan, kerja sama dengan BPPT dilakukan untuk membahas tentang teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Binsar menjelaskan, kajian TMC memerlukan waktu sekitar 14 hari kerja. Dengan biaya sekitar Rp 100 juta.

Rata-rata curah hujan yang turun di Batam biasanya mencapai 200 milimeter (mm) per bulan.

Tapi di Januari dan Februari hanya 50 mm per bulan, itu pun tidak merata di seluruh Batam.

Alasan itu mengapa BP Batam berencana membuat hujan buatan guna meningkatkan curah hujan seperti sedia kala.

Berdasrkan informasi BMKG Klas I Batam, setiap tahunnya curah hujan di Kota Batam paling rendah terjadi pada Januari dan Februari.

Solusi lain yang dilakukan BP Batam untuk menjaga kestabilan air baku adalah pemompaan dari Dam Tembesi ke Dam Mukakuning.

Saat ini Dam Tembesi sudah terisi penuh dan diperkirakan mampu mengalirkan air 600 liter per detik. Perkiraan untuk melakukan pengaliran tersebut sekitar dua bulan.

Dengan beberapa tahapan yang harus dilakukan. Petama yaitu pengadaan pipa berukuran 800 mm melalui proses lelang dan proses konstruksi penanaman pipa.

“Perkiraan biayanya mencapai Rp 45,7 miliar untuk pengadaan pipa dan itu (biaya,red) sudah termasuk pipa, pompa, listrik PLN, genset, ponton, dan aksesoris,” kata Binsar.

Binsar menjelaskan, hal lain yang dilakukan BP Batam adalah dengan pembersihan eceng gondok di sekitar Dam Duriangkang.

Eceng gondok di Dam Duriangkang diperkirakan seluar 180 hektare. Hasilnya eceng gondok yang telah mati menjadi material sedimen dan membuat pendangkalan di dam.

Cadangan Air di Dam Terbesar Kian Menyusut

Dam Duriangkang yang menopang 80 persen kebutuhan masyarakat kota Batam kian menyusut.

Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, mengatakan, saat ini air di Dam Duriangkang yang menopang kebutuhan air 228.900 pelanggan, menyusut hingga level minus 3,14 meter di bawah bangunan pelimpah.

Menurutnya, jika air menyentuh level minus 3,4 meter di bawah bangunan pelimpah, maka Instalasi Pengolahan Air (IPA) Tanjungpiayu dan pompa intake yang menyalurkan air dari dam tersebut ke IPA Mukakuning akan berhenti beroperasi.

Sementara lanjutnya, bila air telah menyentuh level minus 5,0 meter, maka seluruh IPA Duriangkang dengan kapasitas 2.200 liter juga akan berhenti beroperasi.

Dam Duriangkang.(ATB)

“Pada akhirnya, akan ada 228.900 sambungan pelanggan yang tak akan mendapat pelayanan air bersih,” jelasnya.

Kata dia, saat ini level air di waduk konsisten mengalami penurunan sebesar 2 sentimeter

“Mari sama-sama berharap agar pemerintah sebagai pemilik waduk memiliki langkah antisipatif jangka pendek dan jangka panjang. Jangan sampai Batam lumpuh karena tidak ada air,” tegas Maria.

Bencana Terburuk

Kondisi Dam Duriangkang saat ini merupakan yang terburuk sejak waduk tersebut beroperasi.

Apalagi, setiap hari level air di dam tersebut turun 2 sentimeter dan Batam semakin dekat dengan ancaman krisis air baku.

Batam, kata Maria, pernah melewati krisis air. Tepatnya saat El Nino menerpa Batam tahun 2015 silam.

Saat itu, Dam Nongsa mengalami penyusutan paling kritis. Disusul oleh Dam Sei Harapan.

Namun krisis itu mampu dilewati dengan berbagai skema penggiliran.

Dampak bisa diminimalisir, karena Dam Duriangkang sebagai penyuplai air terbesar di Kota Batam masih bisa diandalkan untuk mengantisipasi hal terburuk.

Kini, dam yang menjadi andalan Kota Batam itu yang terancam tumbang.

ATB kata dia, telah memberikan masukan kepada pemerintah sejak tahun 2015, agar segera mengambil langkah antisipatif guna meminimalisir potensi krisis.

“Kami sudah melihat bahwa kita akan mengalami potensi krisis air sejak lima tahun lalu,” jelasnya.

Pihaknya juga sudah memberikan masukan. Sayangnya, kata Maria, hingga saat ini belum ada langkah strategis yang dilakukan untuk menjaga ketersediaan air baku.

ATB lanjutnya, tidak memiliki kewenangan di waduk dan Daerah Tangkapan Air (DTA). Karena kedua wilayah tersebut adalah milik pemerintah.

MInta Penggiliran Air Ditunda

BP Batam meminta PT ATB untuk membatalkan rencana penggiliran distribusi air bersih ke masyarakat Kota Batam.

BP Batam menilai ketersediaan air baku di waduk Duriangkang saat ini masih tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kapasitas produksi WTP Duriangkang dan Tanjung Piayu.

Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam Binsar Tambunan, mengatakan, BP Batam tidak setuju atas rencana ATB melakukan peggiliran air kepada pelanggan.

Karena menurutnya air baku masih tersedia dalam jumlah yang cukup dan meminta ATB segera melakukan berbagai langkah praktis untuk perbaikan sistem pengambilan air baku mereka di Waduk Durangkang.

“Dengan predikat sebagai operator air minum terbaik yang disandang ATB saat ini dan mengklaim sudah punya teknologi mutakhir SCADA untuk distribusi air, seharusnya  sudah melakukan upaya perbaikan sistem pengambilan air baku tersebut jauh hari sebelumnya,” paparnya saat mengelar konferensi pers di lobby gedung Marketing Centre, Kamis (26/3/2020).

Ia meminta agar ATB mengatur pendistribusian air sedemikian rupa untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat Batam.

- ADVERTISEMENT -

“Sesuai arahan pimpinan dalam menghadapi situasi kemarau panjang saat ini, kami akan evaluasi setiap saat kondisi ketersediaan air baku di Waduk Duriangkang,” paparnya.

Intake IPA Tanjungpiayu telah turun lebih dari 3 meter akibat menyusutnya level air di waduk Duriangkang.(PT ATB)

Pihaknya juga akan menyampaikan informasi kapan ATB dapat melakukan pengambilan air baku sesuai skema tertentu yang berbeda dengan kondisi saat ini.

Binsar menjelaskan, menurut ATB saat ini WTP Tanjungpiayu dalam kondisi defisit 225 liter/detik.

“Berdasar pengecekan lapangan dan kajian yang kami dilakukan  kondisinya tidak separah demikian.” kata dia.

Karena itu, BP Batam meminta ATB melakukan perbaikan cara pengambilan air baku dari berbagai opsi praktis yang dapat dilakukan dan menyesuaikan kondisi air baku di Waduk Duriangkang saat ini.

“Cara ini dapat dilakukan dengan memperpanjang pipa intake atau dengan langkah praktis lain menyesuaikan kedalaman air,” jelasnya.

Hal ini juga yang sudah dilakukan Kawasan Industri Batamindo pada intake miliknya di Waduk Duriangkang.

Binsar menambahkan, di satu sisi pihaknya terus berupaya memaksimalkan agar semua waduk di Batam tetap dapat menyuplai ketersediaan air baku.

Salah satunya melalui lelang pengadaan pipa untuk pemompaan air baku dari waduk Tembesi ke waduk Mukakuning sepanjang empat kilometer.

“Waduk Tembesi adalah waduk terdekat dengan Waduk Mukakuning, sehingga nantinya air baku Tembesi dapat disuplai ke Mukakuning,” ucapnya.

Selanjutnya, BP Batam bekerja sama dengan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) BPPT sedang membuat rekayasa hujan di mana usaha ini akan menambah durasi curah hujan di Daerah Tangkapan Air DTA Waduk yang akan terjadi pada April dan Mei.

“Usaha lain kita melakukan pembersihan eceng gondok yang berada di genangan waduk menggunakan alat harvester yang saat ini sudah membersihkan puluhan hektar,” jelasnya.

Intinya kata dia, BP Batam ingin masyarakat dapat menggunakan air dengan cukup.

“Namun tentunya dengan hemat dan bijak, sambil kita berdoa Batam segera diguyur hujan kembali agar tidak ada pilihan rationing (penggilran air bersih),” harapnya.

Siap Jalankan Keputusan Pemerintah

PT ATB akan menjalankan keputusan BP Batam untuk menunda penggiliran air.

Walaupun dengan konsekuensi potensi resiko kandasnya pompa Instalasi Pengolahan Air (IPA) Tanjungpiayu.

“Resikonya sangat besar. Tapi kami akan mengikuti instruksi ini,” ujar Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Jumat (27/3/2020).

Namun lanjutnya, ada beberapa pernyataan BP Batam yang belum tepat dan menimbulkan kebingungan.

Terutama terkait ketersediaan air baku yang diklaim masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Pernyataan tersebut kata dia, disampaikan tanpa menyertakan data yang memadai terkait berapa lama kondisi waduk Duriangkang dan waduk lain tersebut akan bertahan.

Kondisi saat ini, lebih buruk dibandingkan saat terjadi Elnino tahun 2015.

“Saat terjadi El Nino tahun 2015, IPA Tanjungpiayu tidak terancam kandas. Untuk itu silakan ditafsirkan bagaimana kondisi saat ini,” jelasnya.

Tetapi lanjutnya, jika BP Batam masih bersikeras mengatakan air mencukupi, akan lebih tepat bila disertai dengan penjelasan dan data yang valid.

Pertanyaan mengenai data riil kondisi air baku memang sebaiknya dilemparkan kepada BP Batam, karena air baku memang merupakan kewenangannya.

“Maaf kami tidak bisa memberikan update ketersediaan air baku, sebagaimana telah dipesankan oleh BP Batam kepada kami. Hanya BP Batam yang akan memberikan penjelasan tentang ketersediaan air baku saat ini,” paparnya.

Batam kata Maria, sebenarnya memiliki Dam Tembesi. Sesuai dengan kesepakatan, IPA Tembesi diharapkan dapat beroperasi per medio 2019.

Sehingga beban Duriangkang menjadi tidak terlalu berat. Namun sayangnya, WTP Tembesi belum kunjung beroperasi.

Ia melanjutkan potensi tumbangnya IPA Piayu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan tidak beroperasinya IPA Tembesi.

Karena keterlambatan operasional IPA Tembesi menyebabkan beban abstraksi air baku di waduk Duriangkang menjadi lebih besar

“Akhirnya sebagaimana yang kita lihat IPA Tanjungpiayu terancam kandas,” jelasnya.

Maria melanjutkan, saat pompa intake di IPA Tanjungpiayu semakin mendekati dasar waduk, maka lumpur yang mengendap di dasar waduk juga berpotensi ikut tersedot.

Saat itu terjadi, maka IPA Tanjungpiayu berpotensi mengalami gagal beroperasi karena mengalami kerusakan.

“IPA akan berhenti beroperasi dan Batam tetap mengalami defisit air bersih sebesar 225 liter perdetik,” paparnya.

Ia menjelaskan, untuk meminimalisir resiko tersebut, dalam waktu dekat ATB akan memasang slab beton atau material sejenis pada permukaan lumpur.
Saat pemasangan instalasi Slab Beton dilakukan, pemadaman air kepada pelanggan harus dilakukan.

Pemasangan Slab Beton diharapkan cukup efektif untuk mencegah lumpur tersedot saat pompa intake semakin mendekati dasar waduk.

Upaya ini diharapkan mampu memberikan waktu bernafas setidaknya hingga 15 hari kedepan bila tidak turun hujan.

“Tapi jika nanti pompa telah menyentuh Slab Beton tersebut, maka dengan sendirinya pompa akan kami hentikan. Guna menghindari kerusakan yang lebih buruk pada instalasi pengolahan,” paparnya.

Opsi penggiliran dilakukan saat pompa telah menyentuh dasar waduk bukanlah opsi yang ideal itulah mengapa usulan penggiliran sebelum minus 3.4 telah diusulkan.

“Jika boleh memilih, ATB lebih condong untuk tidak melakukan penggiliran. Karena, penggiliran menyebabkan perusahaan kehilangan pendapatan,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, pengaturan dalam melakukan penggiliran sangat menguras waktu, tenaga dan sumber daya lainnya.

Namun, lanjutnya, dengan berat hati ATB harus mengemukakan usulan opsi penggiliran kepada BP Batam untuk mempertahankan keberlangsungan air baku.

Sembari menunggu upaya kongkret BP Batam memasang pipa air baku dari Tembesi ke Waduk Muka Kuning.

“Kami sadar bahwa keputusan untuk melakukan penggiliran memang ada di tangan pemerintah. Kami tidak berhak memutuskan penggiliran atau tidak. Itu domain pemerintah,” jelasnya.

Kata Maria, pembatalan penggiliran oleh BP Batam hanya menunda waktu.

Karena apapun yang terjadi, jika IPA Tanjungpiayu kandas dan berhenti operasi, opsi penggiliran terpaksa dialami oleh pelanggan yang terdampak.

Sementara kata Maria, usulan BP Batam untuk melakukan perpanjangan pipa intake IPA Tanjungpiayu hingga lebih dari satu kilometer harus dikaji kembali.

Hal ini mengingat pelaksanaan perpanjangan pipa intake setidaknya akan membutuhkan waktu hampir 2 bulan. Sementara waktu yang tersedia hingga kandasnya pompa hanya 15 hari.

Di sisi lain, BMKG memprediksi curah hujan baru akan mulai turun per awal Mei. Sehingga menurut ATB perpanjangan intake menjadi kurang layak.

Namun bila BP Batam berkeras juga untuk melaksanakan, ATB siap untuk membantu melaksanakan.
Tetapi perlu ada pembicaraan lebih lanjut mengenai pembiayaannya.

Mengingat ATB sudah dalam proses pengakhiran dan proses transisi mungkin sudah mulai berlangsung sejak Mei 2020.

“Setiap investasi baru butuh kepastian. Karena itu, ketika kami diminta untuk melakukan investasi baru dengan nilai besar, maka harus ada kepastian mengenai pengembaliannya,” paparnya.

“Jika konsesi ATB berlanjut, maka itu tidak jadi soal. Namun bila kemudian memang berakhir, maka semua biaya pembangunan harus ditanggung oleh BP Batam,” ujar Maria.

Maria menjelaskan, perpanjangan pipa intake Tanjungpiayu sebenarnya serupa dengan pemasangan pipa air baku dari Tembesi ke waduk Muka Kuning.

“Jadi memang sudah seharusnya merupakan kewajiban BP Batam untuk melaksanakannya. Karena kontrak ATB sudah berakhir per November 2020,” jelasnya.

Sistem SCADA kata dia, bukan merupakan alat untuk menambah ketersediaan air baku.

Namun system ini membantu agar sistem distribusi dapat berjalan secara efisien dengan tingkat kebocoran yang rendah.

“Jadi kalau air bakunya yang tinggal sedikit, bukan sistemnya yang disalahkan memang air di waduknya yang semakin berkurang.

Repoter: Agung Maputra
Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.