- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Mardigu Wowiek, “Bossman Sontoloyo” dengan Puluhan Perusahaan

INTREN.ID, JAKARTA – Nama Mardigu Wowiek Prasantyo belakangan santer terdengar. Dia kerap membuat video perihal bisnis di kanal YouTube-nya, serta di media sosialnya yang lain. Meliputi Instagram dengan 1,2 juta pengikut dan juga akun Facebook yang setiap unggahannya selalu banyak dibagikan pemirsanya.

Nama pria yang kerap disingkat Mardigu ini makin dikenal khususnya ketika pandemi virus corona baru (Covid-19). Lantaran sang “Bossman Sontoloyo”, begitu julukan yang diberikan kepadanya, kerap memberikan pandangannya terkait pandemi Covid-19 khususnya yang berhubungan dengan ekonomi negara.

“Pada usia 10 tahun, mbah saya ceramah tentang pentingnya ber-Islam Kafah atau total. Saya yang masih 10 tahun berdiri, saat itu orang-orang duduk. Kalau yang lain duduk saya berdiri, pasti langsung dibilang opo koe? Saya tanya, kalau kita ini Islam Kafah tapi bacaan kita saja berbeda, itu di tahiyat akhir beda dengan Nabi Muhammad. Langsung saya dimarahi, ngawur koe. Sontoloyo!” Mardigu menceritakan asal panggilan Sontoloyo.

Sementara untuk panggilan Bossman, diakui Mardigu hal tersebut merupakan panggilan dari anak buahnya.

“Anak buah saya sejak 20 tahun lalu manggil Bossman. Saya menekan banget kalau di kantor, kalau di luar kelihatannya humble, kalau anak buah sendiri, kalau pecat ya pecat saja” sebutnya.

Mardigu WP adalah seorang pengusaha. Bukan pengusaha sembarangan, dia memiliki banyak perusahaan berskala regional maupun nasional. Usahanya pun bukan ecek-ecek, melainkan bergerak di bidang minyak dan gas.

Beberapa perusahaan yang dimilikinya pun ditaksir bernilai triliunan rupiah.

Menariknya, Mardigu disebut menjadi satu-satunya anak bangsa yang menyuplai gas ke Singapura dan Malaysia. Mardigu bahkan sempat bercanda jika Singapura macam-macam dengan Indonesia, dia bisa menutup keran gasnya dan membuat seisi Singapura gelap gulita.

Selain aktif membagikan inspirasi bisnis dan saran berikut kritik terhadap pengelolaan ekonomi negeri, Mardigu juga rupanya berjiwa sosial tinggi. Dia merupakan pendiri Rumah Yatim Indonesia yang menaungi sekira 10 ribu santri.

Pesona Mardigu hadir dalam setiap kata-katanya yang begitu mantap. Setiap analisisnya terdengar begitu berdasar, menujukkan pengalaman yang dimilikinya. Pun demikian, dia kerap menyisipkan pesan-pesan spiritual dalam videonya.

Diketahui, sebelum dikenal luas sebagai Bossman Sontoloyo, Mardigu dahulunya adalah pakar Micro Expressions. Sepuluh tahun lalu dia kerap memberikan komentar perihal aksi terorisme di Indonesia.

- ADVERTISEMENT -

Lahir di Madiun di dekade 60-an, tempat tinggal Mardigu kecil selalu berpindah-pindah. Mulai dari Palembang, Malang, hingga Balikpapan. Hal ini lantaran sang ayah merupakan seorang TNI Angkatan Laut dengan pangkat terakhir kapten.

Berasal dari keluarga yang sangat sederhana bahkan kekurangan, membuat Mardigu kecil ingin mengubah nasib melanjutkan kuliah S1 Psikologi dan Master Psikologi di bidang criminal mind atau teroris di San Fransisco, Amerika Serikat, dengan jalan beasiswa.

Sebelum menjadi pengusaha seperti saat ini, Mardigu juga sempat bekerja di beberapa perusahaan. Mulaai dari swasta hingga negara.

Mardigu mengatakan, jika ingin kaya dan makmur tidak harus serta merta menjadi pengusaha dan harus resign jika sedang kerja. Karena jalan kemakmuran yang ditempuh mengharuskan punya profesi. Apa pun itu.

Mindset tersebut yang kerap ditanamkannya dalam setiap pelatihan Milionare Mindset Boot Camp (MMBC) yang digelarnya.

Pernah Jadi Salah Satu Pemegang Saham PT Titis Sampurna

Berdasarkan klarifikasi yang diterima intren.id, Mardigu bukan merupakan pendiri dari PT Titis Sampurna. Namun, namanya pernah tercatat sebagai salah satu pemegang saham minoritas di perusahaan itu sejak Oktober 2007 sampai dengan September 2016. Keseluruhan saham itu diwariskan dari ayah Mardigu yang merupakan salah satu pemegang saham minoritas pada tahap awal perseroan.

Sejak tahun 2016 keseluruhan saham tersebut telah dialihkan seluruhnya, sehingga Mardigu tidak memiliki saham di perseroan ataupun afiliasinya. Sepanjang 40 tahun berdirinya perseroan, Mardigu tidak pernah tercatat dalam manajemen perseroan sehingga yang bersangkutan tidak pernah menduduki posisi yang dapat menentukan arah kebijakan maupun pengambilan keputusan dalam perseroan.

Mardigu pernah memegang posisi anggota dewan komisaris PT Titis Sampurna dan direksi di anak usaha perusahaan tersebut pada tahun 2012, yang merupakan diversifikasi pengembangan bidang usaha baru, yang mana posisi tersebut juga sudah berakhir di tahun 2015.

Namun terhitung sejak September 2016, nama Mardigu bukan merupakan pemegang saham maupun pengurus di PT Titis Sampurna maupun afiliasinya. Dia pun juga bukan karyawan ataupun masuk dalam manajemen dan afiliasinya, sehingga tidak memiliki keterikatan apapun. (***)

 

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.