Mahyunadi-Kinsu Kunjungi Desa Sumber Sari, Warga Makin Yakin Hadirnya Perubahan di Kutim

INTREN.ID, SANGATTA – Calon Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), H Mahyunadi SE MSi dan H Lulu Kinsu merupakan harapan baru bagi masyarakat. Hadir membawa konsep perubahan, kombinasi antara politisi dengan pengusaha diharapkan mampu menjadikan Kutim semakin maju, mandiri, dan sejahtera.

Hal itu menjadi harapan besar warga Satuan Permukiman 4 (SP4) Desa Sumber Sari, Kecamatan Long Mesangat. Senin (23/11/2020) malam, Mahyunadi menggelar silaturahmi dengan warga. Tiba sekira pukul 20.00 Wita, ketua DPRD Kutim 2014-2019 itu didampingi istri tercinta, Hj Masriah, anggota Fraksi Nasdem DPRD Kutim Prayunita Utami, serta anggota DPRD Kutim dari Partai Gerindra, Yan.

https://youtu.be/mWEJmGhfIRw

Beragam persoalan yang dihadapi, khususnya di desanya sendiri disampaikan langsung ke calon nomor urut satu itu. Warga setempat, Anwar berharap, masjid direnovasi karena sudah overload, terutama saat pelaksanaan salat Jumat.  Begitu juga dengan insentif bagi pemuka agama. “Masalah keagamaan, kami menginginkan masjid kami di renovasi karena ketika salat Jumat tidak cukup lagi menampung jemaah. Selain itu, insentif pemangku agama juga harus diberikan,” harapnya.

Harapan sama juga disampaikan warga lainnya, Ardi. Musala dan gereja yang dijanjikan periode lalu belum juga terlaksana. “Musala belum terealisasikan untuk SMPN 1 Long Mesangat. Selain itu, gereja depan rumah tak kunjung dibangun,” keluhnya.

Sementara, Laurensius menceritakan, infrastruktur menjadi persoalan yang belum tuntas hingga saat ini. Aktivitas warga pun menjadi terganggu. Tidak hanya infrastruktur jalan, pembangunan gereja Katolik juga menjadi harapannya.

“Infrastruktur harus dibenahi, Pak (Mahyunadi, red.). Jalanan kami hancur di mana-mana. Nanti kalau ada bupati atau pejabat yang ingin lewat, tiba-tiba jalanan rapi. Selain itu, mewakili umat Katolik SP4, gereja kami sudah enggak muat menampung jemaah. Kami akan memilih Mahyunadi-Kinsu, demi aspirasi umat,” harap Laurensius.

Tri Sugastu, mewakili umat Hindu juga menyampaikan harapannya. “Kami pemangku umat Hindu belum tersentuh honor. Ketika Bapak (Mahyunadi, Red.) terpilih, harapan kami meminta diperhatikan,” katanya.

Tidak hanya soal infrastruktur dan keagamaan saja yang diadukan warga ke Mahyunadi. Kesehatan pun juga jadi harapan warga yang dititipkan ke Mahyunadi-Kinsu. “Tolong disediakan ambulans. Kami kesulitan jika ada warga yang sakit sulit untuk dibawa secepatnya ke puskesmas atau Sangatta,” katanya.

Bahkan, warga siap mengawal dan mendukung Mahyunadi-Kinsu dalam memimpin Kutim. Hal itu tegas disampaikan oleh Sandro. “Kami minta Bapak (Mahyunadi, Red.) jangan utang budi kepada dinas-dinas. Karena kami enggak mau Bapak terbelenggu kebijakannya, ingat kami di sini Pak! Kami enggak minta apa-apa, kami hanya ingin warga diingat!” tegasnya.

Mahyunadi pun memastikan bahwa dirinya bersama H Kinsu akan bekerja sungguh-sungguh demi mewujudkan Kutim semakin maju, mandiri, dan sejahtera. Hal itu diwujukan dalam perubahan di lima sektor, yakni infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, sumber daya manusia (SDM) unggul, sosial kemasyarakatan, dan tata kelola pemerintahan.

Di bidang infrastruktur, Mahyunadi-Kinsu berkomitmen mewujudkan pembangunan infrastruktur yang merata dan proporsional. Penambahan ruas dan peningkatan kualitas jalan, penyelesaian pelabuhan laut Sangatta dan pembangunan bandara, serta elektrifikasi listrik dan sambungan instalasi di semua desa menjadi program utama.

“Infrastruktur harus dibangun untuk menumbuhkan konektivitas antardaerah, antarkecamatan, dan antardesa di Kutim. Jalan harus dibenahi, pelabuhan dan bandara harus dituntaskan, listrik dan air harus bisa dinikmati. Karena ini adalah hak dari masyarakat Kutim. Pembangunan infrastruktur harus merata. Dari kota sampai ke pelosok Kutim harus merasakan. Tanpa terkecuali,” tegasnya.

Di sektor ekonomi, Mahyunadi-Kinsu berkomitmen menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat dengan mengembangkan usaha mikro kecil menengah (UMKM), koperasi, agribisnis dan agroindustri. Hal itu diimplementasikan dengan program kemudahan kredit modal usaha UMKM, dan pengembangan koperasi, bantuan sarana produksi (saprodi) dan peningkatan nilai tambah pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan, penyerapan tenaga kerja lokal di semua industri, pengembangan pariwisata dan budaya lokal, serta mengembangkan program desa mandiri dan sejahtera.

“Angka kemiskinan Kutim naik. Dari 33.024 orang pada 2018, menjadi 35.310 orang pada tahun 2019. Padahal Kutim adalah kabupaten kaya. Sayang, punya potensi besar tapi tidak dimaksimalkan. Untuk itulah dibutuhkan perubahan di semua sektor untuk memulihkan ekonomi. Pelaku UMKM, pertanian, koperasi, perkebunan, perikanan, dan penyerapan tenaga kerja lokal harus dibenahi. Harus ada perubahan,” tegas Mahyunadi.

Di bidang SDM unggul, Mahyunadi-Kinsu memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan kualitas SDM yang cerdas, sehat, berbudi pekerti luhur, dan berdaya saing. Alokasi pendidikan 20 persen untuk bantuan perlengkapan siswa, pemberian beasiswa, pendidikan nonformal, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru serta pendirian dan pengembangan balai latihan kerja akan direalisasikan.

Selanjutnya, Mahyunadi-Kinsu akan memastikan pembangunan rumah sakit pratama, pembangunan rumah dokter, peningkatan kualitas sarana, prasarana dan pelayanan kesehatan, bantuan pengobatan bagi masyarakat kurang mampu serta bantuan pemenuhan gizi ibu hamil dan balita. Begitu juga peningkatan dan pemerataan kualitas pemuka agama dan rumah ibadah.

“Untuk melahirkan SDM unggul, kami berpedoman pada tiga pilar. Yaitu pendidikan, kesehatan, dan keagamaan. Sehingga Kutim punya SDM yang cerdas, sehat, dan berbudi pekerti luhur. Kebutuhan sekolah anak-anak wajib dipenuhi lewat anggaran pendidikan 20 persen, pembangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan harus merata, dan para pemuka agama harus mendapat insentif sebagai bentuk penghargaan, serta sekolah dan tempat ibadah harus dibenahi agar layak,” tutur Mahyunadi.

Di bidang sosial kemasyarakatan, Mahyunadi-Kinsu akan memastikan terwujudnya tata kelola lingkungan yang baik serta tatanan kehidupan sosial yang harmonis. Hal itu diimplementasikan dengan program alokasi anggaran 50-100 juta per RT/tahun untuk kegiatan sosial, sarana olahraga dan seni, kegiatan keagamaan dan kegiatan penataan lingkungan di tiap RT.

“Anggaran Rp 50-100 juta per RT per tahun menjadi program kami. Semua usulan melibatkan masyarakat. Lewat rembuk. Kami ingin dalam membangun Kutim, semua terlibat. Dari tingkat RT, desa, kecamatan, sampai pemerintah daerah terlibat langsung. Makanya butuh perubahan. Kita semua harus mengubah pola pikir, bahwa pembangunan tidak hanya dikerjakan oleh pemerintah daerah saja. Tapi melibatkan seluruh elemen,” jelas Mahyunadi.

Selain itu juga penataan peruntukan lahan per kecamatan, pembinaan lembaga adat, organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi kepemudaan (OKP), olahraga, seni dan budaya, serta menumbuhkembangkan budaya gotong-royong dalam masyarakat.

Di bidang pemerintahan, Mahyunadi-Kinsu akan mewujudkan tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik dan berbasis elektronik. Penerapan e-goverment dan e-budgeting dalam penyelenggaraan pemerintahan, peningkatan kualitas, kapasitas, dan kesejahteraan aparatur sipil negara (ASN), peningkatan kesejahteraan tenaga honorer melalui pengupahan upah minimum kabupaten (UMK), serta mendorong percepatan penyelesaian pembangunan proyek strategis nasional di Kawasan Industri Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK).

“Dalam mengelola pemerintahan, kami pastikan tidak ada utang budi atau politikk balas budi. Saya dan H Kinsu maju pilkada (pemilihan kepala daerah) tanpa sponsor. Kami mau fokus mengabdi untuk Kutim. Dengan demikian, kami bisa membentuk pemerintahan yang baik. Untuk mencegah korupsi, kami siapkan e-budgeting. Masyarakat juga bisa mengakses penggunaan anggaran. Dalam hal pelayanan publik, kita akan siapkan e-government agar saat mengurus KTP, kartu keluarga, sampai perizinan tidak perlu repot. Dan yang pasti, kesejahteraan ASN dan honorer juga harus ditingkatkan. Biar semangat kerja, tidak korupsi,” tegas Mahyunadi lagi.

Membangun Kutim ke depan tidaklah mudah. Di tengah meningkatnya angka kemiskinan, banyaknya infrastruktur jalan yang rusak, kualitas pendidikan yang harus ditingkatkan, fasilitas kesehatan yang belum merata, hingga kesejahteraan masyarakat harus diselesaikan. Jika salah memilih pemimpin pada 9 Desember mendatang, harapan untuk menikmati program-program tersebut di atas akan sirna.

Oleh karena itu, dibutuhkan pemimpin yang memiliki kualitas, pengalaman, dan paham dengan kondisi masyarakat. Kehadiran masyarakat dalam rangka membawa Kutim untuk perubahan sangat dibutuhkan. Syaratnya adalah, pada tanggal 9 Desember mendatang, coblos nomor satu, Mahyunadi-Kinsu. (***)

Reporter: Anggi Pranata

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.