Lembaga Dunia Meramalkan Bahwa Ekonomi Indonesia Akan Tumbuh Tahun Depan, Berikut Alasannya

INTREN.ID, JAKARTA – The ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level minus tahun 2020 ini. Yakni di level -1,7 persen.

Kepala Ekonom AMRO, Sumio Ishikawa menyebut, ekonomi Indonesia masih cukup tangguh. Menurutnya, tingkat kontraksi lebih moderat dibandingkan dengan negara lain.

“Pemerintah  segera merespon dengan kalibrasi ulang bauran kebijakan dan paket stimulus besar untuk mendukung rumah tangga dan bisnis yang terkena dampak, serta sektor keuangan,” kata Sumio dalam keterangan tertulisnya.

Dia menambahkan, bauran kebijakan dan respon pemerintah yang memberikan stimulus membuat kondisi makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia tetap terjaga. Kendati demikian, dia juga menyebut bahwa langkah-langkah pembatasan mobilitas untuk mengurangi penyebaran Covid-19 telah menekan aktivitas ekonomi Indonesia.

“Meski tahun ini mengalami kontraksi ekonomi, kami memproyeksikan ekonomi Indonesia rebound tahun depan. Kami memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5,1 persen pada 2021,” katanya.

Menurutnya, pemulihan ekonomi yang terjadi itu didukung dengan beberapa indikator ekonomi yang mulai pulih secara bertahap dan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Menyempitnya defisit transaksi berjalan dan berlanjutnya aliran masuk modal, ditambah dengan inflasi yang terkendali, telah mendukung nilai tukar rupiah yang secara umum stabil.

“Posisi eksternal cukup kuat dengan cadangan devisa bruto yang mencapai USD 135,2 miliar per September 2020,” urai Sumio.

Sejalan itu, dia menilai bahwa disahkannya Undang-undang (UU) Cipta Kerja baru-baru ini merupakan terobosan dalam perbaikan iklim investasi dan kemudahan penciptaan lapangan kerja.

“Dengan reformasi regulasi dan de-birokratisasi yang masif, undang-undang tersebut bertujuan untuk memberikan kepastian kebijakan bagi semua pemangku kepentingan dan meningkatkan daya saing jangka panjang Indonesia, sehingga mendukung pemulihan ekonomi nasional,” lanjutnya.

Disamping itu, Bank Indonesia juga melakukan kalibrasi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi. Dia juga mengapresiasi kebijakan bank sentral yang menurunkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dan melonggarkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung pembiayaan perekonomian.

“Langkah-langkah ini termasuk memberikan dukungan likuiditas yang substansial ke pasar dan melakukan intervensi tiga kali lipat di pasar spot FX dan pasar domestic non-deliverable forward serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder, untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah,” jelasnya.

AMRO memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia. Di antaranya terus melakukan akselerasi pemberian stimulus untuk mendukung pemulihan ekonomi, mempercepat pencairan paket kebijakan fiskal, memperpanjang restrukturisasi pinjaman bank untuk mengurangi risiko gagal bayar antara rumah tangga dan bisnis, serta memperkuat sinergi kebijakan dan komunikasi yang efektif dengan pasar. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.