Lelang Pengelolaan SPAM Hanya untuk Enam Bulan, Langkah Riskan Pertaruhkan Pelayanan Air Batam

INTREN.ID, BATAM – BP Batam Menunjuk PT Moya Indonesia sebagai Mitra Penyelenggaraan Operasi dan Pemeliharaan Selama Masa Transisi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam. Moya Indonesia akan mengelola SPAM Batam selama enam bulan pasca konsesi ATB berakhir.

Penunjukan langsung ini dilakukan oleh BP Batam hanya 2 bulan sebelum masa konsesi pengelolaan air dengan ATB berakhir.

Langkah ini dinilai terlalu terburu-buru dan tak mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas pelayanan air bersih di Kota Batam pasca Konsesi ATB berakhir. Pasalnya transisi yang tak mulus dapat membuat layanan air bersih di kota Batam terganggu.

“Apakah dalam waktu dua bulan ini operator baru mampu mempersiapkan diri, sehingga kualitas pelayanan air bersih tidak turun? Mengapa tidak langsung saja tunjuk ATB untuk masa enam bulan itu?” ujar salah seorang pengusaha Batam, Arief Junaidi.

Diketahui, operator baru hanya bisa masuk dalam SPAM Batam setelah masa konsesi dengan ATB berakhir. Pasalnya aset SPAM masih menjadi milik ATB. Belum sepenuhnya menjadi Barang Milik Negara (BMN) karena masih ada kewajiban BP Batam yang belum ditunaikan.

Dengan demikian, operator baru tidak dapat melakukan persiapan awal untuk mengelola SPAM Batam. Tanpa persiapan apapun, maka dipastikan akan terjadi gangguan pelayanan air bersih di Batam saat konsesi dengan ATB berakhir.

“Ini namanya cari-cari masalah. Lebih baik serahkan saja pada ATB sampai BP Batam benar-benar punya konsep yang tepat untuk mengelola air. Sekarang kesannya terlalu dipaksakan. Di satu sisi BP Batam belum siap, lalu melelangkan ke pihak swasta hanya untuk pengelolaan enam bulan,” paparnya.

Selain kendala teknis, karakteristik pengelolaan air di Kota Batam yang unik juga akan menjadi kendala tersendiri.

Seperti diketahui, Batam adalah kota dengan sumber air yang terbatas. ATB mampu memenuhi kebutuhan air bersih karena memiliki sistem untuk mengelola air dengan sangat efisien. Sehingga penduduk Batam dapat menikmati air bersih di tengah keterbatasan.

“Ini (Pelayanan Air Bersih) Bengkong sudah jauh lebih baik lho sekarang. Jangan sampai malah jadi lebih buruk lagi. Jangan warga yang jadi korban,” tegas Erma Melinda Yani, pengusaha rumah makan di wilayah Bengkong.

Kata dia, alangkah lebih baiknya bila BP Batam mengambil langkah bijaksana meminta ATB melanjutkan pengelolaan SPAM selama enam bulan pasca konsesi. Sebelum BP Batam mempersiapkan mekanisme pengelolaan SPAM yang memang ideal untuk Batam.

“Kesan yang timbul sekarang adalah BP Batam tak punya konsep yang jelas mengenai pengelolaan air bersih ke depannya. Sebaiknya persiapkan dahulu konsep yang jelas, baru ambil langkahnya,” tuturnya.

Masa transisi konsesi pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam merupakan titik kritis yang harus mendapat perhatian pemerintah. Jika tidak berjalan mulus, maka berpotensi mengganggu layanan air bersih di Kota Batam.

Awalnya BP Batam berniat melakukan pengelolaan SPAM Batam secara mandiri. Untuk tujuan itu BP Batam akan membangun Strategic Business Unit (SBU) dan mengirimkan sejumlah tenaga ahli untuk melakukan orientasi ke PT Adhya Tirta Batam (ATB) sebagai pengelola SPAM saat ini.

Masa orientasi telah berlangsung sejak 15 Mei 2020. Para tenaga ahli yang dikirim oleh BP Batam disambut langsung Presiden Direktur ATB, Benny Andrianto bersama jajaran direksi dan managernya. ATB juga menyediakan fasilitas ruangan khusus agar proses orientasi berjalan baik.

Sayangnya masa orientasi tak dimanfaatkan sebaik mungkin oleh BP Batam. Tim Ahli yang dikirim tidak benar-benar melakukan orientasi 100 persen. Kantor yang disediakan di lantai 3 Adhya Building Tower lebih sering kosong.

Nasib SBU yang digadang-gadang akan melakukan pengelolaan air di Batam pasca konsesi ATB juga tak jauh beda. Hingga kini lembaga yang akan jadi perpanjangan tangan BP Batam untuk mengurusi kebutuhan air bersih di Kota Batam itu tak kunjung terbentuk.

Di sisa waktu 2 bulan menuju akhir Konsesi, BP Batam memilih langkah yang tak terduga, dengan memilih operator baru untuk mengelola air bersih hanya untuk waktu enam bulan setetelah konsesi ATB berakhir. (***)

Reporter: Agung Maputra

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.