KLHK Lepaskan Dua Elang Predator ke Gunung Halimun Salak

Jadi Pengatur Rantai Makanan untuk Keseimbangan Ekosistem

INTREN.ID, BOGOR – Upaya konservasi satwa liar terus dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tengah wabah virus Corona baru (Covid-19). Jumat (27/3/2020), Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, melakukan pelepasliaran dua ekor elang di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Elang yang dilepasliarkan yaitu elang jenis Brontok (Nisaetus cirrhatus) dan elang jenis Ular Bido (Spilornis cheela). Keduanya satwa yang dilindungi ini berjenis kelamin jantan.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK, Indra Exploitasia mengatakan, kedua satwa tersebut telah melalui proses perawatan dan rehabilitasi di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) yang dikelola oleh Balai TNGHS.

Elang Brontok bernama “Kopeng” merupakan hasil serahan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat pada tanggal 27 Desember 2018. Sedangkan Elang Ular Bido “Malang” adalah serahan sukarela dari warga masyarakat Desa Gunung Malang, Bogor, pada tanggal 14 September 2018.

Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi baik dari sisi medis maupun pola perilaku, penilaian terhadap kedua elang tersebut dinyatakan siap dilepasiarkan ke habitat alami. Elang Brontok dan Elang Ular Bido dirilis setelah melewati masa rehabilitasi selama 15 bulan dan 18 bulan di PSSEJ.

“Ini merupakan bentuk keseriusan kita semua untuk menjaga kelestarian satwa liar dan keseimbangan ekosistemnya,” ucap Indra.

Dijelaskan, jenis burung elang merupakan salah satu predator yang keberadaannya terancam akibat perburuan liar dan fragmentasi habitat.

Elang Brontok dan Elang Ular Bido terdaftar pada status konservasi resiko rendah (Least concern) IUCN, kategori Appendix II CITES, dan dilindungi berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990, yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

“Keberadaannya sebagai top predator di alam sangat penting sebagai pengatur rantai makanan. Sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Balai TNGHS,A Munawir menyampaikan, kegiatan pelepasliaran dua ekor burung elang itu atas dasar hasil penilaian habitat yang dilakukan Balai TNGHS. Dari beberapa pilihan lokasi, area Blok Wates dinilai yang paling layak dan cocok berdasarkan beberapa kriteria.

“Di antaranya kondisi habitat, tutupan sarang, aksesibilitas dan potensi keberadaan pakan,” jelas Munawir. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.