Kisah Sukses Ferry Unardi, Anak Minang Pendiri Traveloka

3

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

INTREN.ID, PADANG – Anda yang sering travelling, tentu sudah akrab dengan segala urusan booking tiket untuk keperluan travelling.

Di era sekarang, memesan tiket pesawat sangatlah mudah karena bisa dilakukan melalui ponsel dengan beragam aplikasi yang ada di pasaran. Salah satu aplikasi untuk pemesanan tiket pesawat adalah aplikasi burung putih, Traveloka.

Traveloka sejak awal telah dikenal masyarakat sebagai aplikasi pemesanan tiket pesawat dan hotel yang menawarkan harga jujur hingga pembayaran.

Sebagai aplikasi berbasis website dan mobile, tentu ini merupakan sebauh terobosan baru yang sangat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan harga tiket pesawat dan hotel terbaik.

Traveloka sendiri ini tidak akan hadir di tengah-tengah masyarakat apabila Ferry Unardi di tahun 2012 tidak nekat untuk memulai bisnis ini.

Lalu, siapa pendirinya?

Dia adalah Ferry Unardi.  Pria kelahiran Padang, 16 Januari 1988 silam ini menghabiskan masa kecil hingga remaja di Tanah Minang bersama keluarganya. Ketertarikannya di dunia informasi teknologi (IT) mulai muncul ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah.

Selepas SMA, Ferry memberanikan diri untuk meninggalkan kampung halaman dengan berhijrah menuntu ilmu ke negeri Paman Sam di tahun 2004.

Ia memilih Purdue University di Indiana sebagai tempatnya menimba ilmu. Untuk memuaskan ketertarikannya di bidang IT, dia mengambil jurusan Mathematics and Computer Science.

Setelah lulus sarjana, ia bekerja di Microsoft sebagai software engineer selama tiga tahun. Bekerja di salah satu perusahaan IT idaman dunia lantas membuatnya berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi insinyur terbaik. Ia merasa harus melakukan pivot karier supaya lebih berkembang.

Di Microsoft, ia sering berdiskusi berbagai hal dengan sesama diaspora, Derianto Kusuma dan Albert Zheng, karena memiliki latar belakang yang sama. Hal yang sering didiskusikannya tentang Indonesia dan peluang untuk membuka sebuah bisnis baru.

Selama menjadi perantau, Ferry sangat sering berpergian dengan pesawat. Disitu ia merasakan kesulitan untuk mendapatkan tiket pesawat dari Amerika ke Padang.

Dia hanya bisa mendapatkan tiket pesawat dari Amerika ke Jakarta. Jika ingin meneruskan perjalanan ke Padang, ia harus membeli tiket ketika sudah tiba di Jakarta.

Kesulitan tidak berhenti di situ. Mencari tiket pesawat di Indonesia melalui situs penyedia layanan tiket pesawat seringkali terjadi putus informasi. Dari mencari informasi hingga transaksi pembelian seringkali website yang tiba-tiba error, atau tidak ada follow up dari agen.

Dari kesulitan pribadinya, dia memikirkan untuk membuat sebuah bisnis penyedia layanan tiket (e-ticket aggregator) untuk memenuhi kebutuhannya karena tidak ada bisnis yang menawarkan layanan yang ia butuhkan.

Sebagai seorang insinyur, ia melihat dirinya sendiri bukan sebagai seorang entrepreneur. Bercita-cita menjadi seorang entrepreneur tidak pernah terlintas di pikirannya sama sekali hingga kegelisahan saat bekerja di Microsoft mulai menggelayuti benaknya.

Sebelum mantap memutuskan untuk berbisnis penyedia layanan tiket, Ferry memutuskan untuk mencari ilham di Tiongkok. Di sana ia belajar bahasa Mandarin sekaligus mempelajari bisnis travel.

Ia juga tertarik dengan sistem beberapa perusahaan e-commerce besar di Tiongkok seperti Alibaba, Qunar, Taobao, dan Ctrip.

Selain bertapa di Tiongkok, Ferry juga rajin mencari referensi literatur dan pengalaman bisnis dari orang-orang yang sudah sukses di dunia startup. Salah satu panutannya adalah Ben Horowitz yang pernah menelurkan buku “The Hard Thing about Hard Things”, tentang cara membangun bisnis dan menjaga pertumbuhannya.

Dari buku itu ia belajar bahwa kebanyakan orang hanya memperhatikan pertumbuhan dan pengguna, tetapi lupa untuk memperhatikan apa yang ada di balik hal itu seperti, tim perusahaan yang tepat.

Karena hal tersebut tidak berhubungan langsung dengan internet. Padahal startup adalah sebuah perusahaan yang seharusnya dibangun oleh orang-orang yang tepat agar menjadi tim yang tepat.

Sepulang dari Negeri Panda, Ferry memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah dengan melanjutkan studi Master’s of Business Administration di Harvard Business School pada tahun 2011. Ia mengambil jurusan itu untuk mematangkan ilmunya di dunia bisnis.

Tapi setelah satu semester perkuliahan berjalan, ia memilih untuk drop out dari Harvard dan kembali ke tanah air untuk membangun startupnya setelah melihat kondisi pasar dan penuh pertimbangan.

Keputusannya untuk tidak lagi menetap di Amerika jelas sangat berat baginya dan pasangannya waktu itu. Pasangannya sedang bekerja di Linkedin, sebuah situs jejaring sosial untuk kalangan profesional, dan memiliki saham yang belum sepenuhnya diperoleh.

Banyak yang menyayangkan keputusannya untuk drop out dari Harvard dan memilih pulang. Tapi tekadnya sudah bulat.

Dalam acara Startup Asia Jakarta 2014, ia mengungkapkan bahwa ia pernah mengatakan kepada pasangannya. “Kita 24, kita masih cukup muda untuk melakukan kesalahan. Dan tidak ada waktu yang lebih baik daripada sekarang,” katanya.

Menurutnya, jika ia tidak terjun saat itu juga di pasar e-ticketing, ia akan tertinggal nantinya. Karena Tiket.com, layanan e-ticketing serupa dengan Traveloka, telah memperoleh dana dan traksi di industri ini. Investor pun berlomba-lomba untuk menginvestasikan uangnya agar bisa masuk dalam bisnis ini.

Awal Mula Berdirinya Traveloka

Maret 2012, bersama dua rekannya, Albert dan Deni, Ferry mulai membangun Traveloka. Mereka yang berlatar belakang sebagai insinyur cukup mudah mengembangkan sistem e-commerce.

Oktober 2012, Traveloka resmi diluncurkan dan bisa digunakan oleh publik. Masih di tahun 2012, pertama kalinya Traveloka menerima kucuran dana investasi dari East Ventures.

- Advertisement -

Awalnya Traveloka hanyalah sebuah platform pencarian penerbangan dan agregator tiket. Dari sana mereka menemukan masalah di lapangan bahwa kesulitan tidak hanya saat mencari penerbangan, tapi juga ketika akan melakukan transaksi.

Traveloka mulai mengubah haluan rencana bisnisnya. Ia harus memutar otak untuk memperbesar jumlah anggota timnya dari yang tadinya hanya berjumlah delapan orang, hingga menjadi beragam divisi seperti customer service, public relations, finance, marketing, dan sebagainya.

Traveloka berubah rencana menjadi sebuah perusahaan yang melayani pencarian dan pembelian tiket secara online. Semua dilakukan secara digital tanpa uang kartal dan mencetak bukti fisik seperti yang dilakukan oleh agen perjalanan terdahulu, agar proses transaksi lebih cepat dan lancar.

Meskipun sudah membangun sistem yang baik dan terorganisir, maskapai dan pengusaha pariwisata tidak serta merta memercayai Ferry dan teman-teman begitu saja karena dianggap masih baru dan belum berpengalaman.

Ia pun fokus membangun perusahaannya, baik secara fisik dengan membangun tim yang tepat dan komplit, serta digital dengan memastikan sistem layanan berjalan lancar. Menurutnya, seiring dengan meningkatnya pelayanan, uang tentu akan datang dengan sendirinya.

Mengutip dari Tech In Asia, ia berpendapat bahwa maskapai selalu memiliki lebih banyak persediaan kursi daripada permintaan. Sehingga layanan online seperti Traveloka bisa membantu maskapai mengisi kursi kosong.

Bahkan jika mereka tidak ingin bekerja sama dengan Traveloka, mereka sebenarnya telah bekerja dengan Traveloka.

Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, Ferry juga fokus meningkatkan traffic website dengan memberikan kualitas dan kecepatan loading website nomor satu, konten yang baik dan strategis dengan SEO yang tepat untuk menjaring pengunjung website baru. Ia juga memberikan layanan pelanggan 24 jam supaya pelanggan bisa lebih leluasa untuk bertransaksi.

Karena berfondasi pada pembayaran digital, sistem pembayaran digital yang ditawarkan cukup lengkap, fleksibel, serta terjamin keamanannya. Sehingga pelanggan tidak perlu kesulitan untuk membayar tiketnya.

Karena harga tiket pesawat yang terus menerus berubah, sistem memberlakukan tenggat waktu bayar hanya 60 menit agar pelanggan membayar sesuai dengan harga yang ada saat deal transaksi. Waktu 60 menit juga cukup untuk memverifikasi data calon penumpang.

Perlahan-lahan, maskapai penerbangan yang tadinya ragu-ragu untuk bekerja sama dengan Traveloka mulai menunjukkan kepercayaannya dengan bermitra bersama Traveloka. Dari setiap transaksi, Traveloka mendapatkan komisi sebesar lima persen dari pihak maskapai.

Perkembangan Traveloka dari Waktu ke Waktu

Di pertengahan tahun 2014, Traveloka meluncurkan aplikasi mobile berbasis Android dan iOS agar pelanggan semakin mudah bertransansi. Bersamaan pula dengan ditambahnya fitur booking hotel.

Setahun setelah meluncurkan aplikasi berbasis mobile, Traveloka berhasil mengukuhkan diri sebagai startup dengan aplikasi mobile Android yang telah diunduh sebanyak 1 juta kali di Google Play Store.

Pada bulan Mei 2015, Traveloka mulai mengembangkan sayap ke penerbangan rute internasional untuk memanjakan pelanggannya. Perlahan tapi pasti, Traveloka mulai melebarkan sayap bisnisnya ke beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Thailand.

Ferry dan timnya semakin mempercepat laju pertumbuhan bisnis Traveloka agar jauh lebih unggul daripada aplikasi travel serupa. Traveloka pernah menyelenggarakan travel fair online pertama di Indonesia yang menawarkan promo paket penerbangan dan hotel untuk plesiran ke luar negeri.

Traveloka sendiri menjadi aplikasi travel pertama yang menawarkan pembelian tiket pesawat kelas non ekonomi untuk melayani konsumen dari kalangan atas, serta mulai merambah jasa lain yaitu pembelian tiket tempat wisata dan isi ulang pulsa dan paket internet ponsel.

Di tahun 2017, Traveloka tampil menjadi sponsor Liga 1 sepak bola Indonesia, Asia’s Got Talent season 2, serta 29th SEA Games 2017 di Kuala Lumpur. Pagelaran Piala Dunia 2018 silam juga membawa berkah bagi Traveloka karena ia ditunjuk sebagai official media & broadcast sponsor di Indonesia.

Juli 2017, Traveloka masuk ke dalam jajaran startup unicorn di Indonesia bersama Gojek dan Tokopedia setelah mendapatkan kucuran dana senilai USD 350 juta dari Expedia. Boleh dibilang ini merupakan sebuah prestasi tersendiri, mengingat Traveloka hanya butuh waktu lima tahun untuk menjadi startup unicorn di Indonesia.

Sebagai bentuk penghargaan kepada mitra hotelnya, sejak tahun 2017, Traveloka telah menggelar Traveloka Awards setiap tanggal 19 Oktober yang dimulai dari penghargaan untuk mitra hotel di Indonesia.

Lalu di tahun 2018 silam, Traveloka melalui Traveloka Awards 2018 memperluas jangkauan dengan memberikan penghargaan kepada 239 mitra hotelnya di Asia Tenggara berdasarkan penilaian terhadap makanan, kebersihan, pelayanan, keseluruhan aspek.

Dengan perencanaan dan strategi bisnis yang matang dan tepat, Traveloka sendiri sudah beberapa kali menerima penghargaan dari dalam maupun luar negeri seperti Top Apps di Google Play Store 2015, Top Brand Award 2016, Indonesia WOW Brand 2018 in OTA Category, Sriwijaya Air Best Travel Agent 2013 & 2014, dan lain lain.

Ferry sendiri sebagai otak di balik kesuksesan Traveloka juga pernah memperoleh beberapa penghargaan seperti Forbes 30 Under 30 Asia 2016 dan ASEAN Entrepreneur Award 2018.

Mungkin, apabila dulu Ferry tujuh tahun lalu tidak nekat drop out keluar dari Harvard, tidak akan ada Traveloka, aplikasi travel agent online karya anak bangsa, yang sudah melanglang buana ke negeri tetangga. (***)

 

Biodata

  • Nama: Ferry Unardi
  • Profesi: Pengusaha
  • Lahir: Padang, 16 Januari 1988

Pendidikan

  • Master of Business Administration, Harvard Business School, Amerika Serikat (2011-2012)
  • Science and Engineering, Purdue University, Amerika Serikat (2004-2008)
  • SMA Don Bosco Padang

Karier

  • Software Engineer di Microsoft, Seattle, Amerika Serikat (2008-2011)
  • CEO dan Co-Founder Traveloka.com (2012-Sekarang)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More