Kesaktian Pancasila dan Posisi Bintang Muda Indonesia

Oleh: Ade Ardabilly*

INTREN.ID, JAKARTA – Pancasila sebagai sebuah perangkat ideologi, mestinya terus diuji dan dieksperimentasikan sebagai sebuah proses. Meski nilai nilai universal yang dikandungnya telah tercatat dalam lima sila yang menyertainya. Selama 75 tahun bernegara, sekaligus juga berideologikan Pancasila, dirasa belum cukup untuk memberikan kesimpulan apa lagi penutupan dari bab tentang eksperimentasi atau operasionalisasi Pancasila.

Gelombang pasang liberalisme politik yang muncul dalam periode politik 1950-an hingga 59-an menampilkan catatan pertarungan yang seolah-olah tidak berhenti. Hingga operasi-operasi pemberontakan yang dibiayai oleh asing, bisa sangat mudah masuk dan mengadu domba masyarakat Indonesia.

Diperkuat dengan liberalisme ekonomi, yang pada periode orde baru, dengan mudah juga membagi lahan-lahan produktif. Bahkan sektor-sektor industri kita dikelola oleh segelintir orang malahan dimiliki oleh prusahaan asing.

Lantas ada huru-hara yang melibatkan tokoh-tokoh berhaluan komunis yang juga sama, ingin memecah belah kesatuan bangsa karena hastrat politik berkuasanya yang agresif. Peristiwa-peristiwa seperti 1948 hingga 1965 menunjukan, paling tidak, ke arah sana.

Tafsir-tafsir dominan atas Pancasila yang dilakukan dengan sangat arogan, mau menang sendiri menjadi pemicu kemarahan berbagai kelompok yang berbeda aliran. Meskipun lagi-lagi, dari awal, Pancasila dimaknai sebagai rumah bersama dari sekian banyak aliran kepentingan, dengan tujuan menyejahterakan kehidupan orang banyak.

Di era 2000-an, sejak runtuhnya Uni Soviet dan deklarasi kemenangan kapitalisme oleh filsuf F Fukuyama, dunia khususnya Indonesia dilanda ekspansi teror dari politik identitas berbasis keagamaan. Makin matang istilah-istilah fundamentalisme kanan yang kali ini ingin mencoba mengganggu kedudukan Pancasila. Polarisasi yang tampak dalam proses demokrasi kita menjadi kode atau fakta-fakta atas suasana itu.

Tumbuh suburnya ormas-ormas yang mengatasnamakan identitas keagamaan tertentu, serta lemahnya sistem penehgakan hukum kita adalah salah satu kesemerawutan ini. Tindakan-tindakan di luar batas yang dilakukan oleh sekelompok orang atau ormas dengan tidak bisa membedakan mana domain publik dan mana yang privat tidak bisa dikendalikan oleh aparat penegak hukum kita.

Terlalu banyak kelonggaran yang terjadi, yang pada level tertentu sebenarnya telah mencederai Pancasila, dan berpotensi mengancam masyarakat dan kedududkan nilai-nilai moral-politis dari Pancasila itu sendiri.

Kehadiran BMI dan Gerakannya

Di tengah situasi buram seperti di atas, hadir Bintang Muda Indonesia (BMI) sebagai organisasi sayap Partai Demokrat, dengan asas dan nilai-nilai Nasionalist-Religius. BMI hadir meneguhkan hati, sebagai front terdepan, untuk menjadi jembatan sekaligus benteng atas pengeroposan Pancasila yang dilakukan justru dari dalam sendiri.

Bersama ormas besar lainya, Pemuda Muhammadiyah dan Pemuda Pancasila, BMI dengan tegas menolak rancangan UU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang sempat dibicarakan di parlemen. RUU HIP adalah catatan yang paling memuakkan tentang pendomplengan Pancasila.

Secara yuridis juga RUU ini bermasalah, haluan idelologi tidak seyogyanya masuk dalam draf undang-undang tetapi pada level Konsitusi. Kita, warga awam, terus menerus direndahkan nalarnya sebegai civic/warga negara justru oleh kekuasaan yang hari ini mewakili negara.

Gerakan protes dan perlawanan nyata atas itu perlu dikerjakan. Arah baru itu akan diikuti dengan gerakan berkesinambungan BMI dengan salah satunya menanamkan serta melakukan tindakan nilai-nilai Pancasila dalam setiap pelatihan kaderisasi, mengintensifkan komunikasi dan silahturrahmi yang ada dengan ormas-ormas yang masih memandang Pancasila sebagai jalan tengah atas keterbukaan ekstrimisme.

Ideologi Tengah

Pancasila dari awal ditawarkan adalah pilihan lain atas dominasi kekuatan ideologi politik yang berkembang waktu itu, komunisme dan kapitalisme, serta ditempatkan sebagai rumah dari semua keragaman di Indonesia. Mereka yang terlalu kencang (ekstrim) dengan sendirinya—lambat laun—pasti akan terpental di bumi Pancasila.

BMI pastinya juga mengikuti garis tegas politik tengah yang ditawarkan Partai Demokrat dari sejak berdiri tahun 2000-an awal. Sebagai warna baru dari buramnya praktik-praktik politik Partai Politik saat itu.

BMI siap menjadi permadani bagi semua kalangan untuk selalu berada di jalan Pancasila. Jalan yang selalu merayakan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kesaktian Pancasila pasti menang, pertanyaannya cuma satu, apakah kita juga merupakan bagian dari sejarah yang menjaga kesepakatan para ulama dan beragam tokoh bangsa yang menjadi founding fathers itu? Saya pastikan kalau Bintang Muda Indonesia adalah bagian dari itu, Bintang Muda Indonesia akan menjadi bagian dari getaran persada bagi Pancasila Sakti, Pancasila Jaya, BMI, Bergerak, Bergerak, Bergerak! (***)

*Penulis adalah Sekertaris DPD BMI DKI Jakarta.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.