Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kaltim Melonjak, Safaruddin Dorong Peningkatan Pencegahan

INTREN.ID, BALIKPAPAN – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kalimantan Timur (Kaltim) meningkat cukup signifikan. Jika pada Juli 2022 sekitar 441 kasus, sementata Juli-Agustus meningkat 138 kasus menjadi 579 kasus dengan total korban 612 orang. Data itu diambil dari Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim.

Anggota DPR RI Dapil Kaltim, Irjen Pol (Purn) Drs H Safaruddin mengaku prihatin atas kejadian itu. Apalagi, jumlah kasus kekerasan terhadap anak mencapai 50,4 persen atau sebanyak 313 orang. Sedangkan dewasa 308 orang dengan persentase 49,6 persen. Sementara kategorinya meliputi kekerasan fisik 285 kasus, seksual 228 kasus, psikis 124 kasus, dan sisanya kategori lain.

“Jika dirata-ratakan, terjadi 3 hingga 4 kasus kekerasan dalam sehari. Kondisi ini cukup memprihatinkan. Harus ditangani secara bersama-sama dengan fokus utamanya adalah peningkatan pencegahan kekerasan. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan perlindungan yang lebih efektif demi menghindari meningkatnya kasus,” kata anggota Komisi III DPR RI yang membidangi persoalan hukum, keamanan, dan hak asasi manusia itu.

Ketua DPD PDI Perjuangan Kaltim itu menambahkan, masyarakat, khususnya kaum perempuan dan anak harus diberi pemahaman tentang bentuk-bentuk kekerasan. Sehingga dapat segera melaporkan ke pihak berwajib. Mengingat kekerasan ini tidak hanya mengacu pada kekerasan fisik saja, melainkan dapat berupa kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan kekerasan penelantaran rumah tangga.

“Oleh sebab itulah, perlu penanganan bersama dalam menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kaltim. Tidak hanya melibatkan pemerintah daerah dan penegak hukum, melainkan juga harus melibatkan masyarakat. Perempuan dan anak adalah aset yang harus dijaga serta dilindungi,” kata Kapolda Kaltim 2015-2018 itu.

Untuk diketahui, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kaltim tertinggi terjadi di tiga kota, yakni tertinggi pertama di Kota Samarinda 293 kasus, kedua di Kota Bontang sebanyak 70 kasus, dan ketiga di Kota Balikpapan 51 kasus. Jika dilihat dari bentuk kekerasan berbeda-beda, di mana bisa saja satu orang mengalami dua kekerasan, yaitu fisik dan psikis. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.