Kegiatan Belajar Mengajar di Masa Pandemi Perlu Dievaluasi, Ini Alasannya

INTREN.ID, JAKARTA – Dimas Ibnu Alias, pelajar SMP di Rembang, Jawa Tengah terpaksa belajar di sekolah sendirian. Ini lantaran Dimas tidak memiliki ponsel pintar guna mengikuti pelajaran dari sekolah.

Di Kediri, Jawa Timur, seorang ibu rumah tangga bernama Binti kebingungan. Pasalnya ponsel pintar semata wayangnya mengalami kerusakan. Alhasil, dia tidak bisa mengirimkan tugas secara daring dari anaknya yang duduk di bangku TK dan juga keponakannya yang duduk di bangku SD ke pihak sekolah. Sementara dia tidak punya cukup uang memperbaiki ponsel atau membeli ponsel baru.

Pun demikian di Jakarta Selatan, seorang siswa kelas 5 SD Muhammad Faisal bahkan harus bekerja paruh waktu sebagai kuli pengangkat air mineral demi membeli kuota internet. Karena penghasilan orang tua Faisal tak cukup untuk memenuhi kebutuhan tujuh anaknya. Faisal malah tidak belajar selama tiga bulan lantaran tidak memiliki ponsel.

Selain tiga kasus ini masih banyak kasus serupa terkait kendala pembelajaran dari rumah di masa pandemi virus corona baru (Covid-19). Karenanya, pemerintah diminta segera mengevaluasi proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilakukan sekolah-sekolah.

Lantaran orang tua siswa banyak mengeluhkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dengan model pembelajaran daring seperti itu. Keluhan-keluhan seperti itu bisa ditemukan banyak tersebar di media sosial.

Keluhan-keluhan masyarakat tersebut rupanya mendapat perhatian dari Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay. Dalam rilisnya, Senin (27/7/2020), Saleh menyebut keluhan proses belajar mengajar ala pandemi Covid-19 ini paling banyak dirasakan ibu-ibu rumah tangga. Karena merekalah yang tinggal di rumah dan mengawasi kegiatan belajar anak-anaknya.

“Keluhan yang banyak disampaikan antara lain tidak memiliki smartphone atau komputer untuk mengakses pembelajaran dari sekolah. Selain itu, ada banyak keluarga yang tidak mampu membeli kuota internet untuk online. Kalaupun ada, mereka tidak bisa memakainya setiap hari karena keterbatasan budget,” beber Saleh.

Dijelaskan, bila ada tiga sampai empat anak yang bersekolah dalam satu keluarga, orang tuanya mesti membeli tiga sampai empat ponsel pintar atau laptop. Belum lagi kebutuhan untuk kuota internet. Pembelajaran di rumah pun turut merepotkan orang tua ketika anak meminta bantuan.

“Dan perlu diingat, tidak semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah itu semuanya dapat dipahami oleh orang tua murid. Selain itu, ada banyak PR yang harus dikerjakan. Praktis, dengan pola belajar seperti ini, orang tua siswa dipastikan akan menghabiskan waktu untuk mengurus pelajaran-pelajaran anak-anaknya,” urai legislator asal daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara II ini.

Padahal, sambung anggota Fraksi PAN ini, urusan rumah tangga bukan hanya soal sekolah. Melainkan ada banyak hal lain yang mungkin lebih kompleks. Bagi yang punya ponsel pintar dan laptop pun kerap disalahgunakan anak-anak. Misalnya digunakan bermain game di sela-sela proses belajar mengajar.

“Kalau dahulu orang tua dinasihati untuk tidak memberi smartphone pada anak. Sekarang ini orang tua malah dituntut untuk menyiapkannya. Ini sangat dilematis dan perlu dicarikan solusinya,” ungkap Saleh.

Lebih lanjut, anak-anak yang belajar di rumah kerap kali kurang tertib. Lantaran aturan yang selama ini diberlakukan di sekolah, tidak semuanya bisa dilaksanakan di rumah. Tak jarang anak-anak banyak yang belajar menjadi tidak fokus.

Hal yang sama berlaku pada pelajaran olahraga. Di sekolah para siswa bisa langsung berolahraga di lapangan dengan guru mengajari secara langsung. Namun di masa sekarang hal tersebut susah diberlakukan.

Lantas ada juga pelajaran-pelajaran yang membutuhkan praktikum dan praktik lapangan. Seperti biologi, kimia, dan fisika. Pelajaran-pelajaran itu biasanya mesti dilakukan dengan praktikum. Tentu dengan belajar jarak jauh, praktikum akan terkendala. Padahal di sisi lain uang SPP juga tetap harus dibayar.

“Walaupun pola belajar mengajarnya seperti yang dijelaskan di atas, namun demikian tidak berpengaruh pada pembayaran SPP. Terutama anak-anak yang belajar di sekolah swasta. Biaya yang dikeluarkan tetap sama,” sebut Saleh.

“Padahal, proses belajar mengajar yang dilakukan sebagian besar sudah menjadi tanggung jawab orangtua. Ini kan tentu tidak adil bagi para orang tua siswa,” pungkasnya. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.