Jual Cucak Hijau, Pemuda 19 Tahun Lakukan Kejahatan Luar Biasa

INTREN.ID, SAMARINDA – Perdagangan satwa dilindungi kembali digagalkan. Kali ini oleh Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Enggang Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) wilayah Kalimantan bersama Polisi Hutan Balai KSDA Kalimantan Timur (Kaltim).

Dalam aksi yang didukung oleh Polresta Samarinda Kamis (4/6/2020) tersebut, SPORC mengungkap perdagangan online satwa dilindungi yang dilakukan pelaku berinisial LS (19). Pada pengungkapan kasus itu, SPORC Brigade Enggang mengamankan 167 ekor burung cucak hijau dari rumah LS di Jalan Juanda 4 Gang Cempaka, Samarinda.

Kasus ini bisa terungkap berawal dari laporan warga masyarakat mengenai adanya perdagangan cucak hijau yang diunggah di media sosial Facebook. Menindaklanjuti laporan itu, Tim SPORC Brigade Enggang Balai Gakkum Kalimantan dan Polhut BKSDA Kaltim memeriksa rumah LS.

LS lantas ditahan untuk diproses lebih lanjut di Polresta Samarinda. Barang bukti 167 ekor burung cucak hijau diserahkan ke Balai KSDA Kaltim untuk selanjutnya sebagian akan dilepasliarkan kembali ke kawasan hutan dengan tujuan khusus Balitek Samboja. Setelah terlebih dahulu disisihkan untuk barang bukti penanganan kasus.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono, kembali menegaskan bahwa upaya ini merupakan komitmen KLHK dalam melindungi dan melestarikan sumber daya alam hayati. Apalagi perdagangan satwa dilindungi adalah kejahatan yang dianggap luar biasa layaknya narkoba.

“Perdagangan satwa dilindungi adalah kejahatan luar biasa. Melibatkan banyak aktor dan bahkan aktor antarnegara. Bernilai ekonomi tinggi, serupa dengan kejahatan narkoba dengan sel jaringan yang terputus-putus,” ujar Sustyo di tempat terpisah, Jumat (5/6/2020).

Diterangkan saat ini penyidik Balai Gakkum Kalimantan dan BKSDA Kaltim masih menyidik tersangka. Penyidik akan menjerat tersangka LS dengan Pasal 21 Ayat 2 Huruf a Jo. Pasal 40 Ayat 2 dan/atau Ayat 4 Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukun pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.