Jangan Sampai Bikin Resah, Legislator Batam Minta Wali Kota Segera Lakukan Tes Swab Corona

INTREN.ID, BATAM – Hingga saat ini Wali Kota Batam Muhamad Rudi tidak melakukan pemeriksaan Swab pasca pertemuannya dengan Gubernur Definitif Kepri Isdianto yang diketahui positif terpapar Covid-19. Sebelumnya Rudi bertemu Isdianto pada acara tepuk tepung tawar, Selasa (28/7/2020) di gedung daerah Tanjung Pinang.

Hal itu mendapat tanggapan serius anggota DPRD Kota Batam Budi Mardianto. Menurutnya, Wali Kota Batam yang juga menjadi Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Kota Batam harus bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Yang seharusnya proaktif dalam melakukan pencegahan penyebaran Covid-19.

Sikapnya yang tidak mau melakukan swab dengan beberapa alasan, bisa jadi menimbulkan persepsi-persepsi yang tidak baik di tengah masyarakat.

“Dengan jabatannya saat ini harus bisa menunjukkan kepeduliannya baik kepada pegawai satu kantor atau kepada masyarakat,” ucap Budi saat dihubungi intren.id, Senin (3/8/2020).

Meningkatnya jumlah pasien Covid-19 di Batam, tegas dia, harusnya bisa membuat Tim Gugus Tugas bersikap cepat dalam penanganan. Bisa dengan pemeriksaan minimal rapid diagnostic test (RDT) atau mungkin swab agar hasilnya lebih akurat.

“Dengan begitu bisa menjadi contoh bagi yang lain. Bukan malah ketakutan atau menyembunyikan diri atau bagaimana, kalau begitu malahan salah,” ungkapnya.

 

Anggota DPRD Batam Budi Mardianto. (ist)

 

Jika sesuai dengan protokol kesehatan, apabila telah didapat satu orang positif, maka siapapun orang yang pernah berhubungan atau yang ada di sekitarnya harus segera dilakukan pemeriksaan. Baik RDT maupun swab.

“Andaikan terbukti positif, supaya penanganan menjadi cepat dan bisa dicegah penyebarannya. Apabila tidak, kan bisa memberikan ketenangan dan kelegaan bagi masyarakat kota Batam,” papar Budi.

Setidaknya, lebih dari 40 orang dinyatakan positif Covid-19 setelah menghadiri acara tepuk tepung tawar Gubernur Kepri. Puluhan orang positif tersebut meliputi dua orang dari Kabupaten Karimun, satu orang dari Batam, 30 orang dari Tanjung Pinang dan tujuh orang dari Kabupaten Bintan.

Respon Dinas Kesehatan

Menanggapi keengganan Rudi untuk menjalani tes swab, Kepala Dinas Kesehatan Didi Kusmarjadi memberikan pembelaan. Menurutnya, apa yang dilakukan sudah sesuai prosedur.

“Banyak yang bertanya kepada kami kenapa bapak Wali Kota Batam tidak dilakukan pengambilan swab untuk pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) Covid-19, juga berita sinis koran tentang pernyataan salah satu anggota Gugas Covid Provinsi meminta pejabat Batam untuk di-swab,” ujar Didi.

Dia menjelaskan, di dalam keputusan Menteri Kesehatan No. 01.07/MENKES/413/2020, dinyatakan bahwa proses pencarian (find), dimulai dengan mencari suspek, di mana na-young termasuk di dalam kriteria kasus suspek adalah yang pertama ISPA dan riwayat perjalanan dari negara atau wilayah transmisi lokal.

“Yang kedua orang dengan salah satu gejala atau tanda ISPA dan riwayat kontak dengan pasien terkonfirmasi Covid-19. Yang ketiga adalah ISPA berat yang perlu perawatan rumah sakit tidak ada penyebab lain,” jelasnya.

Adapun langkah selanjutnya untuk kasus suspek, lanjut Didi, adalah dilakukan isolasi dan dilakukan pemeriksaan PCR pada yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah melakukan tracing. Mengidentifikasi kontak erat, kemudian melakukan karantina dan pemantauan harian selama 14 hari.

“Jika dalam pemantauan ditemukan gejala maka kasusnya menjadi suspek Covid-19. Dan jika dalam masa pemantauan selama 14 hari tidak ditemukan gejala maka pasien masuk kategori discarded (selesai pemantauan),” tambahnya.

Selanjutnya pasien suspek yang dilakukan pemeriksaan PCR selama dua hari berturut-turut (h1 dan h2). Jika ternyata hasilnya bukan Covid-19, maka pasien dikeluarkan dari daftar suspek (discarded).

Adapun pasien suspek yang terkonfirmasi positif Covid-19, lanjutnya, maka selanjutnya dilakukan terapi sesuai protokol Covid-19. Dapat dilihat dalam skema di bawah ini:

 

Sumber Dinas Kesehatan Kota Batam. (ist)

 

“Kontak erat sendiri per definisi operasional, adalah berdekatan dalam jarak 1 meter minimal 15 menit. Jika kontak ditemukan tanpa gejala maka dilakukan pemantauan selama 14 hari. Khusus bagi petugas kesehatan di dalam keputusan Menteri Kesehatan ini dilakukan pemeriksaan PCR segera setelah kasus dinyatakan sebagai probable atau konfirmasi,” ujarnya.

Sesuai penjelasan sebelumnya pada saat pemantauan harian, jelas Didi, jika ditemukan gejala maka masuk kategori suspek kemudian dilakukan pemeriksaan PCR, sedangkan setelah masa pemantauan selesai, tidak ditemukan gejala maka pasien dinyatakan selesai pemantauan dan dikeluarkan dari suspek (discraded).

Untuk kasus probable dan kasus terkonfirmasi penanganannya, Didi mengaku tidak ada permasalahan. Dan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 

Sumber Dinas Kesehatan Kota Batam. (ist)

 

“Satuan Tugas Covid-19 Kota Batam melaksanakan semua ketentuan yang ada di keputusan Menteri Kesehatan, yang kami sampaikan sebelumnya. Dengan penjelasan ini maka sudah terjawab kenapa Bapak Wali Kota Batam tidak dilakukan isolasi dan pemeriksaan swab PCR. Karena tidak termasuk kategori kontak erat dan tidak bergejala (asimptomatis),” tutup Didi. (***)

Reporter: Agung Maputra

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.