- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Ismeth Abdullah, Bapak Pembangunan Kepri yang Sarat Prestasi

INTREN.ID, BATAM – Nama Ismeth Abdullah tidak bisa dilepaskan dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Pasalnya ketika pertama kali dimekarkan menjadi daerah otonom, adalah Ismeth yang memimpin Kepri segera setelah berbentuk provinsi.

Tanggal 1 Juli 2004 hingga 19 Agustus 2005 menjadi periode pertama kepemimpinan Ismeth. Namun jauh sebelum itu, jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Economic Development Institute of the World Bank ini telah memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Kepri.

Latar belakang ekonomi yang dimiliki dimanfaatkan benar oleh Ismeth ketika menjadi Pimpinan Harian Dewan Penunjang Ekspor atau Export Support Board, badan nasional yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia dalam rangka penyediaan bantuan teknis di bidang produksi, pemasaran, dan tenaga ahli kepada Usaha Kecil dan Menengah sebagai komoditas ekspor.

Selama periode kepemimpinan Ismeth Abdullah dalam rentang Oktober 1989 hingga Juli 1998, lebih dari seribu Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memperoleh keuntungan atas program tersebut.

Ismeth tercatat memiliki wawasan yang luas di berbagai sektor dari kebijakan keuangan. Termasuk kiprahnya selama empat tahun sebagai Direktur Pemasaran di Bank Bukopin.

Kontribusi pada beberapa asosiasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), juga membawa keseimbangan terhadap kepemimpinannya di sektor publik dan swasta. Karena segudang pengalamannya itulah dia kerap diminta berbicara dalam beberapa seminar dan konferensi nasional maupun internasional.

Pada 29 Juni 1998, Ismeth ditunjuk sebagai Ketua Batam Industrial Development Authority (BIDA) oleh presiden. Di bawah kepemimpinannya di BIDA, Batam telah menarik lebih dari 400 Penanam Modal Asing (PMA) senilai USD 1,4 miliar.

Jumlah perusahaan asing tersebut meningkat dua kali lebih banyak, dari 300 hingga 700 selama lima tahun, di saat Indonesia berupaya bangkit dari krisis ekonomi. Usut punya usut, usaha keras Ismeth dalam mempromosikan pelayanan BIDA yang profesional dan transparan kepada seluruh pihak baik swasta maupun investor punya andil besar dalam pencapaian itu.

Di kemudian hari, pengalamannya dalam memimpin Batam Industrial Development Authority (BIDA) itu membawa Ismeth Abdullah terpilih sebagai anggota Badan Penasehat BIDA yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian.

Ismeth juga pernah menjabat Kepala Otorita Batam (sekarang Badan Pengusahaan Batam) periode 1998-2005. Saat menjabat, tugas utamanya adalah melakukan pengembangan prasarana dan sarana, serta penanaman modal lanjutan dengan perhatian lebih besar pada kesejahteraan rakyat dan perbaikan iklim investasi.

Di tangan Ismeth, prioritas pembangunan BP Batam meliputi pengembangan investasi Batam, pembinaan koperasi dan UKM. Penerapan impor mobil dengan sistem one in one out, upaya pembentukan Batam FTZ Komitmen, kesejahteraan rakyat, pembangunan fasilitas sosial, serta pengembangan Batam Intelligent Island.

Karena kesuksesannya dalam mengawal perekonomian dan perindustrian di Batam, sejumlah penghargaan dari negara didapatkannya. Medali Penghormatan “Satyalancana Pembangunan” (Medali Penghargaan Pembangunan) dianugerahkan kepadanya, berkat peran Ismeth mempromosikan usaha kecil dan menengah secara kooperatif. Medali dalam bidang pelayanan pemerintahan ini membuktikan kontribusinya terhadap perkembangan ekonomi dan pembangunan, pada tanggal 14 September 2000 oleh Pemerintah Indonesia.

- ADVERTISEMENT -

Kemudian pada 14 Agustus 2003, dalam memperingati HUT ke-58 RI, Bintang Jasa Utama dianugerahkan pada Ismeth. Penghargaan terhormat ini merupakan penghargaan tertinggi yang menandai kemajuan visinya dan pencapaiannya dalam mengembangkan industri berbasis teknologi di Batam.

Dengan segudang prestasi tersebut, khususnya dalam penciptaan iklim bisnis yang kondusif di Batam, tak mengherankan bila Ismeth dipercaya menjadi Penjabat Gubernur Kepri pada 1 Juli 2004. Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 29 September 1946 ini pun tercatat menjadi pemimpin pertama pada provinsi baru yang ke-32 di Indonesia itu.

Tahun berikutnya, Juni 2005, dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kepri, Ismeth melanjutkan perannya, kali ini sebagai Gubernur Kepri definitif, berpasangan dengan wakilnya, (alm) Muhammad Sani dengan masa jabatan 19 Agustus 2005 sampai dengan 19 Agustus 2010.

Lewat kepemimpinan Ismeth sebagai kepala daerah serta perannya di Badan Penasehat BIDA, membuktikan keahlian dan kemampuannya yang meyakinkan dalam memimpin dan melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya demi kepentingan masyarakat. Tak heran di tahun-tahun pertama kelahiran Kepri, torehan pencapaian ekonomi berhasil dicatatkan.

Ismeth bukanlah orang sembarangan. Di era kepemimpinannya, pembangunan Infrastruktur, percepatan pertumbuhan ekonomi, kemudahan investasi bidang maritim, industri, serta pariwisata menjadi program utama.

Keinginannya kala itu, Kepri yang berbatasan langsung negara-negara ASEAN harus mampu bersaing di segala bidang. Tantangan terbesarnya adalah Kepri merupakan wilayah kepulauan di wilayah Selat Malaka. Untuk itulah, Ismeth menggesa proyek infrastruktur agar Kepri memiliki modal untuk bersaing.

Pembangunan fenomenal Ismeth tampak dan dirasakan masyarakat saat ini, antara lain pusat perkantoran Pemprov Kepri, pembangunan Jembatan Dompak, Bandara Raja Haji Fisabilillah, serta beberapa proyek strategis lainnya. Dengan demikian, akses dari satu daerah ke daerah lainnya bisa terhubung.

Bukan sekadar infrastruktur, suami dari Andi Zulaika Nasution ini turut membangun sumber daya manusia (SDM) Kepri. Karena dia menyadari dibutuhkan SDM yang bermutu dan berkualitas untuk memajukan daerah. Artinya, peningkatan kualitas pendidikan menjadi syarat mutlak.

Latar belakang itulah yang kemudian membuat Ismeth menggagas pembangunan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Tanjung Pinang.

SDM yang bermutu dan berkualitas itu pun memerlukan jasmani yang sehat, dalam hal ini kesehatan masyarakat mesti terpenuhi. Karenanya Ismeth mencanangkan pembangunan RSUD Raja Ahmad Tabib yang kini dikelola oleh Pemprov Kepri. Keberadaan rumah sakit ini memudahkan masyarakat, lantaran kini tak perlu jauh-jauh dalam berobat.

Setelah sempat pensiun dari kancah politik, kini Ismeth kembali didorong oleh masyarakat untuk kembali menjadi gubernur. Dorongan inilah yang membuat lelaki 73 tahun ini rela turun gunung dan ikut kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kepri.

“Saya manfaatkan sisa hidup saya. Kepri harus menjadi model provinsi di Indonesia. Dahulu Pertumbuhan ekonomi Kepri 10-12 persen. Tertinggi ketiga se-Indonesia saat itu. Saat ini bagaimana?” sebut Ismeth.  (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.