Imbas Kasus “Manusia Gurun”, Mahasiswa ITK Ultimatum Rektor untuk Segera Mundur, Prof Budi Di-deadline Seminggu

INTREN.ID, BALIKPAPAN – Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof Budi Santosa Purwokartiko banjir hujatan usai postingan menjurus rasis bertajuk “manusia gurun” yang dibuatnya. Tidak hanya dari luar, tekanan dari kampus pun begitu besar. Bahkan tuntutan untuk mundur digaungkan mahasiswa kampus yang beralamat di kilometer 15 poros Balikpapan-Samarinda itu.

Minggu (8/5/2022), Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITK, Yustiadi Sampe Manggoali menyampaikan pernyataan tegas. Ada tiga tuntutan yang dialamatkan kepada Budi terkait postingannya yang bikin gaduh seantero Indonesia.

“Hari ini KM ITK menyatakan sikap serta melayangkan tuntutan kepada Prof Budi Santosa Purwokartiko selaku Rektor ITK,” tegas Yustiadi melalui keterangan tertulis yang dipublikasikan di akun resmi KM ITK.

Tiga tuntutan itu yakni:

  1. Meminta maaf dan melakukan klarifikasi secara resmi kepada seluruh rakyat Indonesia.
  2. Membuat pernyataan resmi siap mengundurkan diri sebagai Rektor ITK dengan tenggat waktu 7 x 24 jam.
  3. Apabila tuntutan kedua tidak diindahkan maka KM ITK menuntut kepada pihak berwenang untuk mencabut jabatannnya sebagai Rektor ITK secara tidak terhormat sesuai dengan pelanggaran terhadap UU yang berlaku.

“Dengan itikad baik ini, kami akan kembali sabar untuk menunggu informasi resmi Rektor ITK terkait hal yang kami sampaikan hingga hari Sabtu, 14 Mei 2022,” tutup Yustiadi.

Sebelumnya, Budi juga diberhentikan dari posisi reviewer Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) imbas unggahan rasis “manusia gurun”. Dia juga diberhentikan dari jabatan reviewer di Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti). Pemberhentian itu bersifat sementara sembari menunggu Kemendikbudristek melakukan pemeriksaan etik.

Anggota DPR RI Dapil Kaltim, Irjen Pol (Purn) Drs H Safaruddin meminta agar masyarakat memercayakan seluruh prosesnya kepada Polri. “Saya meminta agar Polri segera menindaklanjuti kasus tersebut, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku” katanya.

Polda Kaltim sendiri masih terus mendalami kasus itu, usai menerima laporan resmi dari mahasiswa, Jumat (6/5/2022) lalu. Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Yusuf Sutejo menerangkan bahwa pihaknya telah menerima laporan para mahasiswa terkait pernyataan Rektor ITK tersebut.

“Iya karena dilaporkan di SPKT Polda, nanti akan teruskan di bagian Reskrimsus, karena kasus ini terkait ITE. Kami juga akan terlebih dahulu mempelajari terkait postingan Prof Budi Santosa yang di duga mengandung rasisme. Nanti kita lakukan penelitian dulu, setelah itu akan kita tindaklanjuti,” singkatnya

Terkait postingan tersebut, Prof Budi mengatakan bahwa pernyataan dalam statusnya merupakan opini pribadi bukan sebagai rektor.

“Itu adalah opini pribadi saya ya, tidak sebagai rektor, maksud saya tidak ingin merendahkan orang yang pakai jilbab atau diskriminasi tidak ada maksud itu, saya hanya bercerita saja kebetulan kok ke-12 nya (mahasiswi) itu enggak pakai kerudung,” jelas Budi. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

 

FOLLOW ME

Get real time updates directly on you device, subscribe now.