Hadapi New Normal, Pemerintah Rilis Panduan untuk Dunia Kerja

INTREN.ID, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

Panduan ini dikeluarkan dengan mempertimbangkan dalam situasi pandemi virus corona baru (Covid-19), roda perekonomian harus tetap berjalan. Namun mengedepankan langkah-langkah pencegahan penularan.

”Tempat kerja sebagai fokus interaksi dan berkumpulnya orang merupakan faktor risiko yang perlu diantisipasi penularannya,” sebut Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto, Sabtu (23/5/2020).

Kata dia, dunia usaha dan masyakat pekerja memiliki kontribusi besar dalam memutus mata rantai penularan. Karena besarnya jumlah populasi pekerja dan besarnya mobilitas, serta interaksi penduduk umumnya disebabkan aktivitas bekerja.

Peraturan Pemerintah nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 telah menyatakan bahwa PSBB dilakukan salah satunya dengan meliburkan tempat kerja. Namun dunia kerja tidak mungkin selamanya dilakukan pembatasan, roda perekonomian harus tetap berjalan.

”Untuk itu pasca pemberlakuan PSBB dengan kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, perlu dilakukan upaya mitigasi dan kesiapan tempat kerja seoptimal mungkin sehingga dapat beradaptasi melalui perubahan pola hidup pada situasi Covid-19 atau New Normal,” kata Terawan.

Panduan pencegahan penularan Covid-19 secara rinci antara lain selama PSBB bagi tempat kerja, pihak manajemen senantiasa memantau dan memperbarui perkembangan informasi tentang Covid-19 di wilayahnya.

Dilakukan pembentukan Tim Penanganan Covid-19 di tempat kerja yang terdiri dari pimpinan, bagian kepegawaian, bagian K3 dan petugas Kesehatan yang diperkuat dengan Surat Keputusan dari Pimpinan tempat kerja.

Pimpinan atau pemberi kerja memberikan kebijakan dan prosedur untuk pekerja melaporkan setiap ada kasus dicurigai Covid-19 untuk dilakukan pemantauan oleh petugas kesehatan. Dalam hal ini tidak memperlakukan kasus positif sebagai suatu stigma.

Untuk pengaturan bekerja dari rumah atau work from home, perusahaan menentukan pekerja esensial yang perlu tetap bekerja/datang ke tempat kerja dan pekerja yang dapat melakukan pekerjaan dari rumah.

Jika ada pekerja esensial yang harus tetap bekerja selama PSBB berlangsung, di pintu masuk tempat kerja wajib melakukan pengukuran suhu dengan menggunakan thermogun. Sebelum masuk kerja diterapkan Self Assessment Risiko Covid-19 untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam kondisi tidak terjangkit Covid-19.

“Pengaturan waktu kerja tidak terlalu panjang atau lembur yang akan mengakibatkan pekerja kekurangan waktu untuk beristirahat yang dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan/imunitas tubuh,” kata Terawan.

Untuk pekerja sif, jika memungkinkan meniadakan sif 3 atau waktu kerja yang dimulai pada malam hingga pagi hari. Bagi pekerja sif 3 diatur agar yang bekerja terutama pekerja berusia kurang dari 50 tahun.

Perusahaan mewajibkan pekerja menggunakan masker sejak perjalanan dari/ke rumah, dan selama di tempat kerja. Juga mengatur asupan nutrisi makanan yang diberikan oleh tempat kerja, memilih buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C seperti jeruk, jambu, dan sebagainya untuk membantu mempertahankan daya tahan tubuh.

- ADVERTISEMENT -

“Jika memungkinkan pekerja dapat diberikan suplemen vitamin C,” tambah pria yang dikenal dengan terapi cuci otak itu.

Berikutnya, perusahaan diminta memfasilitasi tempat kerja yang aman dan sehat, dalam hal penciptaan higienitas dan sanitasi lingkungan kerja. Memastikan seluruh area kerja bersih dan higienis dengan melakukan pembersihan secara berkala menggunakan pembersih dan desinfektan yang sesuai setiap 4 jam sekali.

“Terutama pegangan pintu dan tangga, tombol lift, peralatan kantor yang digunakan bersama, area, dan fasilitas umum lainnya,” terang Terawan.

Lalu menjaga kualitas udara tempat kerja dengan mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk ruangan kerja, pembersihan filter AC. Termasuk pula menyediakan lebih banyak sarana cuci tangan, sabun dan air mengalir.

Memberikan petunjuk lokasi sarana cuci tangan, memasang poster edukasi cara mencuci tangan yang benar, menyediakan penyanitasi tangan dengan konsentrasi alkohol minimal 70% di tempat-tempat yang diperlukan seperti pintu masuk, ruang meeting, dan pintu lift.

Physical Distancing harus diterapkan dalam semua aktivitas kerja. Pengaturan jarak antarpekerja minimal 1 meter pada setiap aktivitas kerja meliputi pengaturan meja kerja/workstation, pengaturan kursi saat di kantin, dan lain-lain.

Perusahaan juga didorong mengampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) melalui Pola Hidup Sehat dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tempat kerja. Meliputi cuci tangan pakai sabun (CTPS), mendorong pekerja mencuci tangan saat tiba di tempat kerja, sebelum makan, setelah kontak dengan pelanggan/pertemuan dengan orang lain, setelah dari kamar mandi, setelah memegang benda yang kemungkinan terkontaminasi.

Etika batuk kembali dibudayakan, yaitu menutup mulut dan hidung dengan lengan atas bagian dalam. Jika menggunakan tisu untuk menutup batuk dan pilek, buang tisu bekas ke tempat sampah yang tertutup dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelahnya.

Juga, perlu melakukan olahraga bersama sebelum kerja dengan tetap menjaga jarak aman, dan anjuran berjemur matahari saat jam istirahat serta makan makanan dengan gizi seimbang. Hindari penggunaan alat pribadi secara bersama seperti alat salat, alat makan, dan lain lain.

“Edukasi dilakukan secara intensif kepada seluruh pekerja dan keluarga agar memberikan pemahaman yang benar terkait masalah pandemi Covid-19, sehingga pekerja mendapatkan pengetahuan untuk secara mandiri melakukan tindakan preventif dan promotif guna mencegah penularan penyakit, serta mengurangi kecemasan berlebihan akibat informasi tidak benar,” papar Terawan.

Materi edukasi yang dapat diberikan meliputi penyebab Covid-19 dan cara pencegahannya, mengenali gejala awal penyakit dan tindakan yang harus dilakukan saat gejala timbul, praktik PHBS seperti praktik mencuci tangan yang benar, etika batuk, alur pelaporan dan pemeriksaan bila didapatkan kecurigaan.

Metode edukasi yang dapat dilakukan dengan pemasangan banner, pamflet, majalah dinding, dan lain-lain di area strategis yang mudah dilihat setiap pekerja. Seperti di pintu masuk, area makan/kantin, area istirahat, tangga serta media audio & video yang disiarkan secara berulang.

“Dengan menerapkan panduan ini diharapkan dapat meminimalisasi risiko dan dampak pandemi Covid-19 pada tempat kerja khususnya perkantoran dan industri, dimana terdapat potensi penularan akibat berkumpulnya banyak orang dalam satu lokasi,” tegas Terawan. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.