Gempa Lebih Besar dan Tsunami Ancam Warga Sulbar, Berikut Penjelasan dan Sejarahahnya

INTREN.ID, MAMUJU – Beberapa kabupaten di Sulawesi Barat (Sulbar) dihantam gempa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, rentetan gempa didahului gempa awalan (foreshock) pada Kamis (14/1/2021) pukul 14.35 Wita dengan magnitudo M = 5,9.

Episenter berada di sekitar 4 kilometer arah barat laut Kabupaten Majene dengan kedalaman 10 kilometer. Kemudian, disusul guncangan utama (mainshock) yang berkekuatan magnitudo M = 6,2 Jumat pukul 02.28 Wita. Episenternya di darat 6 kilometer arah timur laut Majene dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa itulah yang menimbulkan kerusakan di beberapa kabupaten di Sulawesi Barat.

Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, puluhan korban meninggal dunia akibat gempa. Sementara itu, laporan kerusakan terakhir yang dimutakhirkan Pusdalops BNPB menyebutkan, RS Mitra Manakarra dan RSUD Kabupaten Mamuju rusak berat. Begitu pula Pelabuhan Mamuju dan Jembatan Kuning. Di Kabupaten Majene, sedikitnya 300 rumah rusak berat.

Gempa berkekuatan 6,2 pada skala Richter kemarin dini hari WIB (15/1) sudah meluluhlantakkan Majene dan Mamuju. Tapi, tidak menutup kemungkinan guncangan lebih besar yang berpotensi tsunami masih bakal terjadi.

Karena itu, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar meminta warganya menjauh dari wilayah pesisir. “Cari tempat aman, jangan panik, cari tempat ketinggian, utamakan keselamatan,” imbau Ali.

Menurut Ali, informasi terkait potensi terjadinya gempa susulan itu datang dari BMKG.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati membenarkan masih ada potensi gempa susulan berikutnya yang masih kuat. “Bisa mencapai kekuatan yang seperti sudah terjadi, M 6,2 atau sedikit lebih tinggi (kuat, Red) lagi,” katanya.

Faktor yang harus diwaspadai, lanjut Dwikorita, adalah batuan maupun tebing di sekitar daerah pusat gempa yang sudah diguncang sampai lebih dari 28 kali. Kondisi tersebut membuat struktur batuan rapuh.

Jika terjadi longsor ke dalam laut atau longsor di bawah laut, akan memicu tsunami (landslide tsunami). Karena kedekatan pusat gempa dengan pantai.  “Jadi, dapat pula berpotensi terjadi tsunami apabila ada gempa susulan berikutnya,” jelasnya

Untuk itu, Dwikorita mengimbau warga di daerah terdampak tidak hanya menjauhi bangunan-bangunan yang rentan atau gedung-gedung yang rawan roboh. Warga juga wajib waspada jika beraktivitas di dekat pantai.

Apabila kebetulan berada di pantai, kemudian merasakan ada getaran gempa, harus segera menyelamatkan diri menuju ke tempat yang lebih tinggi.  “Segera jauhi pantai. Tidak perlu menunggu peringatan dini tsunami. Anggaplah gempa itu sebagai peringatan dini tsunami,”  katanya.

Meski ada risiko gempa dan tsunami susulan,  Dwikorita meminta masyarakat tidak panik. “Yang paling penting sudah tahu apa yang harus dilakukan. Siapkan juga jalur yang ada di pantai menuju ke tempat yang lebih tinggi,” jelasnya.

Berikut sejarah gempa dan tsunami yang merusak Sulbar

Sesar Naik Mamuju

(Mamuju Thrust)

Potensi magnitudo maksimal (tertarget) : M = 7,0

Pergerakan geser sesar : 2 mm per tahun

 

11 April 1967

Magnitudo M = 6,3

Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat

Gempa dan tsunami mengakibatkan 13 orang meninggal.

 

23 Februari 1969

Magnitudo M = 6,9

Majene, Pantai Barat, Sulawesi Barat

64 meninggal, 97 terluka, dan 1.287 rumah rusak di 4 desa.

 

8 Januari 1984

Magnitudo M = 6,7

Mamuju, Sulawesi Barat

Getaran maksimum intensitas VII MMI. Banyak rumah rusak, tetapi tidak ada catatan korban.  (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.