Ford Foundation Luncurkan Program Ford Global Fellows, Tanggapi  Ketimpangan Akibat Pandemi Covid-19

INTREN.ID, NEW YORK – Ford Foundation mengumumkan peluncuran Ford Global Fellows, Selasa (19/10/2021). Itu adalah sebuah program global yang diinisiasi di New York, Amerika Serikat, dengan tujuan mengidentifikasi, menghubungkan, dan mendukung visi-misi para pemimpin berorientasi keadilan sosial dan mengedepankan solusi inovatif untuk mengakhiri dampak ketimpangan.

Solusi ini sekaligus akan membantu Indonesia dalam mendorong upaya mengatasi mengatasi ketimpangan ekonomi, gender, sosial-budaya, hingga literasi dan perubahan iklim. Berdasarkan riset SMERU Institute, pandemi Covid-19 diproyeksikan meningkatkan kemiskinan hingga 0.5 persen, atau lebih dari 1.3 juta orang di Indonesia.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga memaparkan adanya ketimpangan gender yang semakin meningkat karena adanya Covid-19. Seiring dengan hal tersebut, masyarakat adat, kelompok minoritas, dan penyandang disabilitas juga masih memerlukan perhatian .

“Ford Global Fellows mendorong peserta untuk menumbuhkan keterampilan kepemimpinan bersama dengan upaya untuk membantu satu sama lain, dan menjangkau audiens yang mungkin belum mereka jangkau, termasuk di sektor filantropi. Setiap fellow akan menerima menerima tunjangan sebesar USD 25.000 untuk mendukung keberhasilan program mereka dalam mengatasi ketimpangan,” jelas Regional Director of Ford Foundation Jakarta, Alexander Irwan.

Tahun ini, Ford Global Fellows menghadirkan 48 orang terpilih, dua kali lipat dari jumlah peserta tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah peserta merupakan tanggapan strategis Ford Foundation dalam menanggulangi berbagai ketimpangan yang semakin kentara akibat pandemi Covid-19. Mulai dari ketimpangan akses vaksin, ketidakpastian pekerjaan, perubahan iklim, menyempitnya ruang gerak masyarakat sipil, hingga ketimpangan ras dan gender di berbagai wilayah.

“Kami mengembangkan dan memperluas program Ford Global Fellows secara lebih cepat karena momen krisis ini membutuhkan komitmen yang lebih berani untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan berkesetaraan,” kata Director of Ford Global Fellowship, Adria Goodson dalam keterangan tertulis yang diterima intren.id.

Dia menambahkan, mereka yang hidup bersinggungan dengan ketidakadilan menghadirkan solusi untuk menjawab tantangan lokal akibat ketimpangan global. Lebih dari sebelumnya, para pemimpin sosial baru dari seluruh dunia ini saling membutuhkan satu sama lain untuk memperkuat dan mempercepat implementasi ide-ide mereka.

“Tujuan kami adalah untuk mendukung mereka dalam membangun institusi dan jaringan agar aksi yang mereka lakukan dapat dilakukan secara berkelanjutan,” kata Goodson.

Sebagai respon terhadap situasi krisis ini, sebanyak 24 peserta Ford Global Fellows tahun lalu akan memperpanjang masa partisipasi intensif mereka dan bergabung bersama 48 peserta Ford Global Fellows tahun ini. Sehingga, secara total, sebanyak 72 peserta Ford Global Fellows dari berbagai negara akan membangun satu jaringan komunitas di bidang keadilan sosial yang lebih luas, lebih kuat, sekaligus mampu mendorong terlaksananya ide dan solusi untuk berbagai masalah, melalui berbagai rintangan dalam berbagai sektor, dan situasi.

“Para peserta Ford Global Fellows mewakili berbagai latar belakang, bidang, dan pendekatan untuk mengatasi ketimpangan dengan advokasi atas hak bagi perempuan dan anak perempuan, mengamankan hak bagi masyarakat adat dan tradisional, hingga meningkatkan kekuatan politik dan ekonomi penyandang disabilitas, dan banyak lagi. Para fellows terpilih hadir sebagai pemimpin yang mengambil pengalaman hidup mereka dalam menjawab tantangan ketimpangan.” Tambah Irwan lagi.

Tahun ini, enam orang fellow terpilih dari Indonesia turut menjadi bagian Ford Global Fellows, yakni Aisyah Ardani, Dicky Senda, Aristofani Fahmi, Dhyta Caturani, Devi Anggraini, dan Sely Martini. Bersama dengan aktivis pejuang kesetaraan dari berbagai negara, keenam peserta dari Indonesia akan berbagi pengalaman mereka dalam mengatasi ketimpangan. Mulai dari situasi dan tantangan yang ada di masing-masing komunitas, hingga solusi inovatif yang mereka temukan.

Dengan dana total senilai USD 50 juta untuk satu dekade ke depan, Ford Global Fellows bertujuan membangun jaringan yang kuat di antara 240 generasi pemimpin baru.

“Harapan kami, pertemuan dan perbincangan antar para pemimpin inovatif ini dapat membantu keberhasilan upaya mereka dalam mengatasi ketimpangan yang semakin kentara dengan adanya COVID-19 ini,” tutup Irwan.

Program Ford Global Fellowship muncul atas dasar teori perubahan yang ada di Ford Foundation melalui investasi pada tiga I, yakni Ide, Institusi, dan Individu. Tujuan program Ford Global Fellows ini adalah mengidentifikasi dan menghubungkan para pemimpin baru dari seluruh dunia tersebut untuk memajukan ide-ide dan solusi inovatif guna memerangi segala bentuk ketimpangan. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

 

Biodata Enam Fellows Terpilih dari Indonesia 

Nama

Profil

Devi Anggraini

She/her

Ketua Umum, PEREMPUAN AMAN

Bogor, Jawa Barat, Indonesia

Devi Anggraini berasal dari komunitas Taluk, sebuah suku asli di Kepulauan Sumatera, Indonesia. Devi telah bekerja selama lebih dari 22 tahun untuk gerakan masyarakat adat di Indonesia, yang berfokus pada perempuan adat. Sebagai pelatih dan fasilitator untuk meningkatkan kapasitas masyarakat adat dan perempuan adat, Devi bekerja untuk meningkatkan kesadaran publik melalui berbagai organisasi sipil masyarakat. Ia terlibat dalam pendirian Yayasan Hakiki, yang mendukung dan mempromosikan gerakan masyarakat adat dan perempuan adat di provinsi Riau, bernama AMAR (Aliansi Masyarakat Adat Riau), dan PEREMPUAN AMAN, yang memfasilitasikan perempuan adat untuk mengatur diri, membangun pengetahuan dan memastikan hak-hak mereka.

Visi: Transformasi perempuan adat secara individual dan kolektif dengan menggunakan pengetahuan, manajemen wilayah dan otoritas untuk membangun kepemimpinan, visibilitas, serta kekuatan politik, strategis dan substantif untuk mengatasi ketidaksetaraan.

“Ketimpangan tidak dapat diatasi tanpa mengubah dan membangun kesadaran politik perempuan adat, sehingga mereka dapat mengadvokasikan kepentingan mereka.”

Aristofani Fahmi

He/him

Musisi, jurnalis, aktivis seni tradisional

Pekanbaru, Indonesia

Aristofani Fahmi, yang berbasis di provinsi Riau, Indonesia, adalah direktur program grup musik Riau Rhythm dan sekretaris jenderal Asosiasi Artis Riau (ASERI). Ia adalah inisiator (pendiri) dan pemimpin redaksi di Indonesia World Music Series, di mana ia mendorong musisi tradisional dan peneliti musik muda di Indonesia untuk mendokumentasikan dan melaporkan fenomena musik tradisional di situs web. Sebagai direktur program, ia mengelola kolaborasi musik dengan hampir 200 musisi, baik modern maupun tradisional, terbesar di provinsi Riau. Di ASERI, ia dan rekan-rekannya memprakarsai gerakan dan aktivisme untuk membantu seniman tradisional dalam mendapatkan kondisi kehidupan yang lebih baik dan layak. Dia telah menjadi musisi tradisional selama hampir 25 tahun dan melakukan perjalanan ke berbagai negara dan dengan bangga mempersembahkan budayanya. Sekarang, ia mendedikasikan hidup dan aktivitasnya untuk menggemakan apa yang dihadapi seniman Tradisional dan Lokal saat ini yaitu: ketimpangan atau, lebih buruk lagi, kepunahan.

Visi: Bertahun-tahun dari sekarang, ketimpangan yang mempengaruhi seniman Tradisional seharusnya tidak lagi menjadi masalah. Seniman tradisional dan pribumi membawa warisan dan kearifan nenek moyang mereka, diwujudkan dengan indah melalui seni. Para seniman ini berhak mendapatkan kesempatan dan hak yang sama dalam hidup, dan kesejahteraan mereka harus menjadi prioritas.

“Seniman lokal membawa warisan dan budaya masyarakat Tradisional, serta berhak mendapatkan kesempatan dan hak yang sama.”

Sely Martini

She/her

Co-founder dan co-director, Rumpun Indonesia dan Visi Integritas

Bandung, Indonesia

Sely Martini adalah co-director Visi Integritas, sebuah perusahaan yang mendukung sektor bisnis dan publik dalam menegakkan budaya transparansi, akuntabilitas, integritas, dan anti-korupsi yang mengubah organisasi dari dalam. Sejak didirikan pada tahun 2019, perusahaan telah menyiapkan sistem manajemen anti suap untuk beberapa kementerian, universitas, dan perusahaan milik negara. Untuk mempertahankan gerakan anti korupsi, Sely mendirikan Rumpun Indonesia, sebuah organisasi yang dipimpin perempuan yang mengkampanyekan perubahan budaya yang mempromosikan integritas. Rumpun mengembangkan gerakan anti korupsi dengan mengedukasi orang tua, siswa dan guru tentang integritas.

Visi: Masyarakat yang memiliki budaya anti korupsi yang kuat. Memerangi korupsi bukan hanya tentang membawa pelakunya ke penjara, tetapi mengembangkan integritas dalam masyarakat melalui kolaborasi, konstruksi sosial, dan pembelajaran kontekstual. Pemimpin gerakan perlu membangun koalisi dengan pembuat perubahan untuk memecahkan masalah masyarakat.

“Kita dapat menciptakan sistem integritas yang kuat yang merupakan benteng melawan korupsi di semua tingkatan.”

Dicky Senda

He/him

Manajer, Lakoat.Kujawas

Kapan, Indonesia

Dicky Senda adalah seorang penulis dan aktivis pangan dari Mollo, Timor Tengah Selatan, Indonesia. Ia telah menerbitkan buku puisi, Cerah Hati (2011), dan kumpulan cerpen Kanuku Leon (2013) dan Hau Kamelin & Tuan Kamlasi (2015). Ia pernah diundang ke Makassar International Writers’ Festival (2013), Salihara Literary Biennale (2015), ASEAN Literary Festival 2016, Ubud Writers & Readers Festival 2017 dan Melbourne Writers Festival 2018. Saat ini Dicky tinggal di Desa Taiftob di pegunungan Mollo, Indonesia dan mengelola Lakoat.Kujawas, yang terdiri dari komunitas seni, perpustakaan komunitas, sekolah Adat, laboratorium pangan, arsip dan ruang pengolahan hasil pertanian. Sebagian besar keuntungan dari usaha sosial ini diinvestasikan kembali untuk mendukung kelas menulis kreatif, kelas menenun dan petani perempuan muda di wilayah Mollo.

Visi: Mewujudkan revitalisasi desa Adat dan pelestarian budaya masyarakat Adat di Timor, Indonesia. Membangun usaha sosial di sana dengan mengembangkan ekonomi inklusif dan kreatif di mana setiap orang memiliki akses ke sumber daya alam dan budaya, pendidikan kontekstual, dan ruang kreatif.

“Saya ingin melihat pendidikan yang berkualitas serta ekonomi yang kuat bagi masyarakat adat di Timor, Indonesia, sekaligus untuk melestarikan warisan budaya kita.”

Dhyta Caturani

She/her

Pendiri & koordinator, PurpleCode Collective

Jakarta, Indonesia

Dhyta Caturani adalah aktivis feminis yang telah banyak terlibat dalam gerakan keadilan sosial di Indonesia selama bertahun-tahun. Dengan menggunakan teknologi dan di dalam ekosistem teknologi, dia mendedikasikan dekade terakhir hidupnya untuk menangani masalah hak asasi manusia, gender dan teknologi untuk mengatasi praktik seksis, patriarki dan diskriminatif serta mendekonstruksi hambatan sosial dan kelembagaan. Dia terus memberikan pelatihan keamanan digital holistik untuk berbagai organisasi dan aktivis terutama perempuan, anak perempuan dan kelompok non-biner, minoritas dan marjinal.

Dia mendirikan PurpleCode Collective, sebuah kolektif feminis yang berfokus pada isu-isu interseksional antara feminisme dan teknologi serta mencegah dan merespons kekerasan berbasis gender online, serta membantu para korban. Kolektif ini membuka Reading–Hacking–Making, ruang feminis pertama di Indonesia yang menyediakan ruang aman dan berani bagi perempuan, anak perempuan, dan non-konformis gender untuk secara kolektif menetaskan ide dan kolaborasi dalam kesetaraan dan teknologi gender.

Visi: Penindasan sistemik yang dihadapi oleh perempuan, anak perempuan dan orang-orang non-konformis gender dapat diatasi dengan menggunakan teknologi. Kita dapat mencapai akses, adopsi, dan adaptasi teknologi yang setara untuk wanita, anak perempuan, dan orang-orang yang tidak mengkonfirmasi gender serta menciptakan ekosistem yang lebih inklusif dan lebih aman dalam teknologi.

“Teknologi adalah alat yang ampuh untuk melawan penindasan seksisme dan patriarki.”

Aisyah Ardani

She/her

Spesialis inklusif, Yayasan Bintari

Semarang, Indonesia

Aisyah Ardani adalah spesialis inklusif di Yayasan BINTARI, sebuah LSM nasional Indonesia yang bekerja untuk masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan. Melalui Program Adaptasi Iklim Inklusif BINTARI, Aisyah mendukung lebih dari 1.000 orang yang paling berisiko, termasuk 300 penyandang disabilitas, untuk membangun mata pencaharian adaptif dan kesiapsiagaan bencana.

Sebelumnya, Aisyah turut menggagas Majelis Pengajian Difabel, forum diskusi Islam disabilitas pertama di Jawa Tengah yang mengadvokasi kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Melalui forum ini, ia memimpin tim sukarelawan untuk mendukung 400 anggota penyandang disabilitas dan mengembangkan alat bantu yang inovatif bagi penyandang tunarungu. Peran sebelumnya sebagai enumerator di Perhimpunan Perempuan Penyandang Disabilitas Indonesia, berhasil menghasilkan tinjauan kritis terhadap empat peraturan berjalan yang berkontribusi pada laporan bayangan CEDAW-CRPD untuk PBB.

Visi: Membangun platform pendidikan inklusif di mana orang-orang dengan dan tanpa disabilitas dari berbagai latar belakang dan keahlian dapat berdiskusi dan bertukar pikiran. Pertukaran pengetahuan dari kedua kelompok menciptakan saling pengertian dan rasa hormat yang mengarah pada masyarakat yang lebih inklusif.

“Penyandang disabilitas harus dilibatkan dalam semua aspek masyarakat, mulai dari pendidikan hingga adaptasi iklim.”

 

 

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.