- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Florence Nightingale, “Bidadari Berlampu” Pelopor Keperawatan Modern

INTREN.ID, LONDON – Selasa 12 Mei ini diperingati sebagai hari perawat sedunia. Rupanya ada kisah di balik pemilihan tanggal tersebut sebagai hari perawat sedunia. Lantaran 12 Mei merupakan tanggal lahir dari tokoh perawat yang membuka mata dunia terhadap pentingnya peran profesi ini, Florence Nightingale.

Alkisah pada zaman dahulu, perawat dianggap sebagai profesi yang hina. Sementara rumah sakit dianggap sebagai tempat yang kotor dan jorok. Hingga kemudian “Bidadari Berlampu”, julukan Florence Nightingale muncul dan mengubah dunia keperawatan menjadi sebuah profesi terhormat bagi kaum hawa.

Florence yang berasal dari keluarga kaya di Inggris disebut sebagai pelopor perawat modern. Pemikirannya memengaruhi kebijakan perawatan pasien yang tepat pada abad ke-19 dan 20.

Florence diberi nama sesuai tempat kelahirannya, yaitu Kota Florence, Italia pada 12 Mei 1820. Kembali ke Inggris pada 1821, keluarga Nightingale tidak mengalami kesulitan finansial. Mereka memiliki kehidupan yang nyaman dan kerap bepergian untuk berlibur.

Bungsu dari dua bersaudara ini dibesarkan di rumah keluarganya di Lea Hurst. Sang ibu menggemari kehidupan sosial di antara orang kaya. Berbeda jauh dengan Florence yang justru canggung menghadapi situasi tersebut dan lebih suka menghindar menjadi pusat perhatian.

Sejak belia, Florence aktif dalam filantropi, melayani orang-orang sakit dan miskin di desa yang berdekatan dengan tempat tinggal keluarganya. Pada usia 16 tahun, dia menyadari bahwa menjadi perawat merupakan panggilan dari Tuhan baginya.

Menyadari keinginan Florence tersebut, kedua orang tuanya menjadi berang. Lantaran pada masa itu, perempuan muda dari kelas sosial seperti keluarga Nightingale diharapkan menikah dengan pria dan tidak boleh mengambil pekerjaan rendahan.

Namun Florence teguh pada pendiriannya. Di usia 17 tahun, dia menolak lamaran dari Richard Monckton Milnes yang dipilihkan orang tuanya untuknya.

Tak peduli dengan penolakan orang tuanya, Florence tetap mengikuti passion-nya dengan mendaftarkan diri pada studi keperawatan di Rumah Sakit Lutheran Pastor Fluedner di Kaiserwerth, Jerman.

Dua pekan pelatihan pada Juli 1850 dan tiga bulan pada Juli 1851, Florence belajar keterampilan keperawatan dasar, pengamatan pasien, dan nilai organisasi rumah sakit yang baik.

Dia lantas kembali ke London di tahun 1850-an dan bekerja di sebuah rumah sakit. Kinerjanya yang baik mengesankan atasannya. Florence pun dia dipromosikan menjadi pengawas rumah sakit.

Florence Nightingale. (ist)

 

Ketulusannya sebagai perawat tak diragukan. Florence pernah menjadi sukarelawan di rumah sakit Middlesex, berjuang di tengah wabah kolera. Kala itu dia menyadari kondisi yang tidak steril mempercepat penyebaran penyakit di rumah sakit.

Florence kemudian menerbitkan misi untuk meningkatkan praktik kebersihan di rumah sakit. Secara signifikan, jumlah kematian menjadi menurun.

Pada 1853, Florence menerima surat dari Menteri Perang Sidney Herbert yang memintanya untuk mengirim korps perawat ke Krimea. Kala itu Perang Krimea pecah. Pasukan Sekutu Inggris dan Perancis berperang melawan Kekaisaran Rusia untuk menguasai wilayah Ottoman.

- ADVERTISEMENT -

Pada 1854, sekira 18 ribuan tentara harus masuk rumah sakit militer dan tidak ada perawat perempuan yang ditempatkan di Krimea. Tentara yang sakit dan terluka terabaikan, kondisi rumah sakit sangat tidak sehat

Florence dengan sigap mengumpulkan 38 perawat dari berbagai latar belakang dan berlayar menuju Krimea. Sesampainya di pangkalan rumah sakit Inggris di Scutari, November 1854, Florence dan rombongan mendapati tempat perawatan itu sangat kotor.

Pasien terbaring di lorong bersama kotoran mereka, hewan pengerat, dan serangga. Persediaan perban dan sabun juga menipis, begitu pula dengan air.

Florence pun mengatur semua manajemen rumah sakit untuk meningkatkan persediaan makanan, selimut, tempat tidur, dan kebersihan. Setiap malam dengan membawa lampu penerangan, dia memeriksa kondisi tentara di rumah sakit. Dari situlah, Florence mendapat julukan “Bidadari Berlampu”.

Dedikasinya kala itu mendapatkan apresiasi serta penghormatan dari para prajurit. Prestasinya yang telah mengurangi tingkat kematian hingga 2 persen membuat namanya dikenal luas. Pers dan surat-surat tentara mengabarkan sosok Florence ke dunia.

Perang Krimea akhirnya usai pada 30 Maret 1856. Namun dia tetap bertahan di Scutari lantaran sakit, diduga keracunan susu yang terkontaminasi. Pada akhirnya dia kembali ke rumahnya di Derbyshire pada 7 Agustus 1856 dan dianggap sebagai pahlawan.

Setelah kembali ke Inggris, sumbangan dana mengalir ke Nightingale Fund. Uang-uang tersebut memungkinkan Florence melanjutkan reformasi keperawatannya di rumah sakit sipil. Dengan menunjukkan grafik statistik pasien tentara di Perang Krimea, dia menunjukkan banyak pria yang meninggal karena penyakit ketimbang disebabkan dari luka-luka mereka derita akibat perang.

Sumbangan dari Nightingale Fund digunakan untuk mendirikan The Nightingale Training School pada 1860. Reputasi sekolah itu menyebar ke seluruh dunia dan banyak yang memintanya untuk membangun lembaga serupa di Australia, Amerika, dan Afrika.

Meski harus dirawat di tempat tidur akibat penyakit yang pernah diderita sebelumnya, yang kini disebut brucellosis, Florence terus mendorong reformasi keperawatan dengan menulis sekira 13 ribu surat. Pada 1859, dia menerbitkan buku Notes on Hopitals, yang berfokus pada cara mengelola rumah sakit sipil dengan benar.

Peran Florence juga tercatat dalam Perang Saudara di Amerika Serikat. Sang “Bidadari Berlampu” secara teratur memberikan konsultasi mengenai cara terbaik mengelola rumah sakit lapangan. Florence juga menjadi otoritas dalam masalah sanitasi publik baik untuk militer maupun masyarakat di India, meskipun dia belum pernah ke sana.

Atas segala jasanya bagi kemanusiaan tersebut, berbagai penghargaan diberikan kepada Florence. Di antaranya penghargaan Royal Red Cross pada 1883. Kemudian pada 1907, dia menjadi perempuan pertama yang menerima Order of Merit, penghargaan sipil tertinggi di Inggris. Pada Mei 1910, Florence menerima ucapan selamat ulang tahun ke-90 dari Raja George.

Beberapa bulan setelah ulang tahunnya, tepatnya pada Agustus 1910, Florence kembali jatuh sakit. Kondisinya sempat membaik, namun dia tidak dapat bertahan dan meninggal pada 13 Agustus 1910 di rumahnya, di London.

Jenazah Florence dimakamkan di pekuburan keluarga, di samping anggota keluarga lainnya di Hampshire. Untuk menghormati keinginan terakhir “Bidadari Berlampu”, kerabatnya menolak melakukan upacara pemakaman nasional.

Meski telah tiada, nama Florence tetap dikenang oleh dunia keperawatan dunia, dianggap sebagai pelopor keperawatan modern. Sebuah museum dibangun khusus di London untuk mengenang jasa-jasa dan sumbangsihnya bagi dunia medis, yang terletak di lokasi sekolah pelatihan perawatnya yang asli. Tanggal 12 Mei pun ditetapkan sebagai hari perawat sedunia demi mengenang sumbangsihnya tersebut. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.