Faktor Pembawa Covid-19 dari Orang, Pemerintah Takkan Buat Zonasi Daerah

INTREN.ID, JAKARTA – Pemerintah tidak akan membuat zonasi terkait pencegahan penyebaran virus Corona (Covid-19). Hal ini lantaran faktor pembawanya adalah orang, bukan daerah. Sehingga tidak memiliki arti keterkaitan dengan sebuah daerah atau wilayah.

Achmad Yurianto selaku Juru Bicara (Jubir) Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 menjelaskan, selama ini infomasi yang diberikan tidak menyebut lokasi. Karena Covid-19 memiliki perbedaan dengan penyakit lain misalnya malaria atau DBD, maupun penyakit-penyakit yang ada basisnya.

“Covid-19 ini bergerak bersama pergerakan orang,” terang Yurianto yang juga menjabat Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Soal fasilitas di daerah, dia menyampaikan pemerintah sekarang sedang mencoba membangun komunikasi antara kabupaten dan provinsi. Karena buffer Kemenkes ada di instalasi farmasi provinsi.

“Jadi kemarin itu tidak terkait dengan fasilitas tetapi dengan sarana. Kekurangan APD (alat pengaman diri), masker dan sebagainya sudah kami penuhi, tetapi berada di provinsi tidak kiami dorong sampai pada titik itu,” sebutnya.

- ADVERTISEMENT -

Yurianto menyampaikan hingga saat ini sudah banyak pasien yang dipulangkan. Yaitu lebih dari 20 orang dari seluruh rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia. Jadi bukan hanya di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso yang menjadi pusat penanganan Covid-19. Spesimen yang diperiksa sendiri telah mencapai 736.

“Tentunya enggak semuanya positif, tetapi itu yang sudah kami periksa. Kemudian yang 27, tracing-nya masih dilaksanakan terus, tetapi kontak dekatnya keluarga dan sebagainya sudah kami pastikan, beberapa kali kami periksa negatif,” ungkap Yuri.

Kata dia, proses tracing dalam mencari kemungkinan orang lain yang tertular Covid-19 memang sulit dilakukan. Namun demikian, hal tersebut harus tetap dilakukan. Yurianto juga menyampaikan, dalam upaya pencegahan penularan, membutuhkan kewaspadaan komunitas. Bukan hanya kewaspadaan diri sendiri, namun mengajak kerja sama yang lain.

Adapun untuk anak buah kapal (ABK) Diamond Princess yang dalam masa observasi, berdasarkan hitungan pada hari Kamis sudah 14 hari sehingga akan dipulangkan. Tentunya ada pemeriksaan kesehatan total, evaluasi total, setelah itu baru dipulangkan.

“Jadi tidak kemudian dilepas begitu saja. Ini sudah menjadi SOP kita di dalam kaitan dengan hal ini,” sebut Yurianto. (*)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.