Dianggap Beratkan Masyarakat, Biaya Tes PCR Corona Jadi Sorotan

INTREN.ID, JAKARTA – Mahalnya biaya tes Polymerase Chain Reaction (PCR) terkait virus corona baru (Covid-19) mendapat sorotan anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo. Pasalnya tarif tes PCR yang disebut lebih mahal ketimbang tiket pesawat itu dianggap memberatkan masyarakat.

Sorotan Rahmad menanggapi kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang menyebutkan calon penumpang transportasi umum tidak perlu memiliki hasil tes PCR. Melainkan cukup dengan tes cepat (rapid test).

Dia setuju seandainya persyaratan tes PCR bagi calon penumpang transportasi umum tetap diberlakukan, dengan syarat biaya tes PCR yang dilakukan mandiri oleh calon penumpang mesti terjangkau.

“Kebijakan melonggarkan aturan ini mungkin akibat dari banyaknya keluhan dan protes masyarakat, khususnya maskapai penerbangan. Kalau biaya tes PCR lebih mahal dibanding harga tiket pesawat, ya wajar masyarakat keberatan,” ungkapnya, Rabu (10/6/2020).

Malahan, sambung politisi PDI Perjuangan, banyak maskapai penerbangan yang terancam gulung tikar. Namun muncul pertanyaannya apakah dengan hanya rapid test, risiko penyebaran Covid-19 bisa dicegah.

Kata Rahmad, besaran biaya tes PCR dan rapid test yang dipatok pihak rumah sakit selama ini cukup memprihatinkan. Sehingga mesti menjadi perhatian. Jangan sampai ada pihak yang aji mumpung, mencari kesempatan dalam kesempitan.

- ADVERTISEMENT -

“Meski persyaratan telah dilonggarkan, biaya rapid test serta PCR yang cukup fantastik dan memberatkan masyarakat harus jadi perhatian. Apalagi alat tes PCR buatan dalam negeri juga sudah mulai diproduksi,” terangnya.

Rahmad beranggapan, kalau biaya rapid test dan PCR terjangkau, tentu masyarakat mau secara mandiri memeriksa dirinya. Di satu sisi, pemerintah juga hendaknya memprioritaskan pengadaan laboratorium PCR di semua RS.

Tes PCR sendiri sebelumnya menjadi salah satu syarat yang harus dilengkapi calon penumpang yang hendak melakukan perjalanan memakai transportasi umum seperti pesawat, kereta api, bus, maupun kapal. Persyaratan ini dibuat untuk mencegah penularan virus Covid-19. Hanya saja banyak masyarakat yang merasa keberatan, terutama pihak maskapai penerbangan.

Syarat itu dirasa memberatkan karena rumah sakit yang menyediakan layanan rapid dan PCR/swab tes mematok harga fantastis. Untuk bisa mengakses layanan itu harus merogoh kocek mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 3,2 juta.

Aturan  terbang yang mengharuskan syarat tes PCR tersebut akhirnya dilonggarkan. Menteri Perhubungan Budi Karya dalam keterangannya, Selasa (9/6/2020) mengatakan, calon penumpang domestik tidak perlu memeiliki hasil tes PCR, cukup dengan rapid test. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.