Detik-Detik Menentukan Jelang Pilgub Kepri, Final Dini Ismeth Abdullah vs Isdianto

INTREN.ID, BATAM – Pasangan Soerya Respationo-Iman Sutiawan dan Ansar Ahmad-Marlin Agustina hampir pasti mengantongi tiket menuju Pemilihan Gubernur Kepulauan Riau (Pilgub Kepri).

Soerya-Iman diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan 8 kursi, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 4 kursi, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 3 kursi. Total 15 kursi sudah di tangan.

Sementara Ansar-Marlin didukung Partai Golongan Karya (Golkar) dengan 8 kursi, Partai Nasional Demokrat (Nasdem) 6 kursi, serta kabarnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan 1 kursi. Total dukungannya, juga sama. 15 kursi.

Syarat untuk bisa mengusung sepasang calon di pesta demokrasi terbesar di Selat Malaka ini adalah minimal 9 kursi. Jika skema tersebut di atas tidak berubah, praktis sisa kursi adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 6 kursi, Partai Demokrat 4 kursi, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 3 kursi, dan Partai Amanat Nasional (PAN) 2 kursi.

Masih ada 15 kursi tersisa. Artinya hanya cukup untuk sepasang calon lagi. Lalu, siapa poros ketiga tersebut?

Ada dua nama yang bersaing untuk membentuk poros ketiga. Gubernur Kepri pertama, Ismeth Abdullah dan Plt Gubernur Kepri Isdianto. Khusus Isdianto, sudah mendapat surat tugas dari Hanura untuk membangun koalisi. Kendati demikian, Hanura bisa saja menarik dukungan seandainya Isdianto gagal mendapatkan tambahan perahu.

Pertempuran antara Ismeth dengan Isdianto ini sejatinya diharapkan terjadi saat Pilgub Kepri. Namun apa daya, mereka harus berjumpa di babak kualifikasi terlebih dahulu. Final dini bertajuk El Clasico benar-benar tersaji. Apalagi keduanya pernah menjabat sebagai gubernur.

Ismeth sendiri sejauh ini terus berupaya melobi Demokrat, PKS, dan PAN. Kans Ismeth untuk diusung Demokrat memang besar. Apalagi sang istri, Aida Zulaika Nasution adalah kader partai yang diketuai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu.

Berbeda dengan Isdianto yang memiliki sejarah kurang menyenangkan dengan partai berlambang segitiga mercy itu. Pasalnya, Isdianto yang diusung Demokrat untuk mengisi pos wakil gubernur, justru berpaling ke PDIP. Praktis, pilihan Isdianto tinggal PKS.

Baca juga: Pernah Dibuat Meradang, Mungkinkah Demokrat Usung Isdianto di Pilgub Kepri?

Lantaran PKS meyorong kadernya untuk ikut kontestasi, maka salah satu di antara Ismeth dan Isdianto harus tereliminasi.

PKS-Demokrat Sepakat Koalisi

Kepada intren.id beberapa waktu lalu, Ketua DPW PKS Kepri, Raden Hari Tjahyono tak menampik kemungkinan terjadinya koalisi PKS-Demokrat. Bahkan Raden mengakui jika beberapa waktu lalu pihaknya sempat bertemu dengan Demokrat untuk koalisi dalam Pilgub Kepri mendatang.

“Kami sudah bertemu dengan Demokrat untuk membahas koalisi. Karena koalisi PKS dan Demokrat sudah memenuhi syarat untuk mengusung pasangan calon dalam Pilgub Kepri. Tinggal menunggu keputusan pusat,” katanya.

Kendati demikian, komunikasi politik dengan parpol lain juga terus dilakukan. “Namun kita juga tetap berkomunikasi dengan hampir semua partai hingga saat ini,” ungkapnya.

Berkaca dari helatan kenduri demokrasi sebelumnya, untuk kali ini PKS akan mengusung kandidat di tingkat gubernur dari lintas kabupaten/kota. Menurutnya dengan hal tersebut komunikasi politik akan terjalin lebih mudah.

Di PKS, Ismeth berada di peringkat pertama daftar calon yang akan diusung PKS. Raden menyebut, di antara semua bakal calon, Ismeth memang lebih intens melakukan silaturahmi. Itu dilakukan Ismeth sejak dulu.

Baca juga: Perang Survei Para Kontestan Pilgub Kepri, Siapa yang Lebih Unggul?

“Untuk penjajakan awal, PKS telah memilih Ismeth untuk maju dalam Pilgub Kepri mendatang yang akan didampingi oleh salah seorang kader internal PKS. Sedangkan lima kader internal, sengaja belum kita sebut. Karena semua masih tergantung komunikasi politik,” ucapnya.

Bukan tanpa alasan PKS-Demokrat bakal berkoalisi. Hubungan mereka kian mesra sejak sama-sama berada di luar pemerintahan. Bahkan, keduanya sepakat membangun kerja sama politik dalam momen pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020.

Tentu masih ingat saat kedua fungsionaris kedua parpol bertemu awal Juni 2020 lalu. Demokrat membalas kunjungan PKS. Mereka pun bertemu di kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Pertemuan yang berlangsung pukul 14.00 sampai 16.30 itu lebih banyak membahas penjajakan koalisi dalam pilkada.

Hadir dalam pertemuan itu, Demokrat Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Demokrat Andi Arief, Wakil Ketua Dewan Pembina Rachland Nashidik, Sekretaris Bappilu Kamhar Lakumani, dan Andi Nurpati.

Sementara PKS diwakili Ketua Badan Pemenangan Pemilu dan Pilkada Chaerul Anwar, Ketua Bidang Polhukam Almuzzammil Yusuf, dan Suwono.

Baca juga: Koalisi Demokrat-PKS Tinggal Ketuk Palu, Siapa yang Akan Diusung?

Kamhar mengatakan, pertemuan itu menghasilkan beberapa poin penting. Salah satunya kemungkinan berkoalisi mengusung calon kepala daerah di beberapa daerah. “PKS-Demokrat membuka peluang koalisi di beberapa daerah. Di pilwali Tangsel kami sudah capai kata sepakat,” ungkapnya.

Kader Demokrat Siti Nur Azizah sebagai calon wali kota Tangsel akan diduetkan dengan kader PKS bernama Ruhamaben. Diketahui, Nur Azizah merupakan wakil sekretaris jenderal DPP Demokrat dan tak lain adalah putri Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.

Selain di Tangsel, Demokrat-PKS membuka peluang koalisi di beberapa daerah. Di antaranya di pilwali Depok dan Medan. Di Medan kedua partai hampir pasti akan menjalin koalisi untuk bertarung dengan menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution. Kamhar menegaskan, pihaknya sama sekali tidak gentar meskipun sejumlah partai ramai-ramai mendukung Bobby. ”Di Medan kami sangat optimistis,” tegas pria asal Makassar itu.

Isdianto sendiri juga tidak mau ketinggalan. Dia pun mencoba untuk menyalip Ismeth yang sebelumnya sudah intens berkomunikasi dengan PKS. Silaturahmi langsung ke Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman dan Sekjen PKS Mustafa Kamal dilakukan. Tak hanya itu, dia juga menyambangi Hanura.

“Alhamdulillah hari ini saya bersama Pak Isdianto bisa bersilaturahmi bersama pengurus DPP PKS dan Hanura sebagai ikhtiar syarat administrasi untuk mendapatkan tiket pada pendaftaran Pilgub Kepri 2020 mendatang, mohon doa dan dukungannya,” kata Suryani, Anggota DPRD Kepri yang juga merupakan pengurus wilayah BPKK PKS Kepri.

Di tempat yang sama, Raden mengungkapkan kepada seluruh pemilih PKS untuk menjadikan Pilgub Kepri sebagai sarana adu gagasan dan program, utamanya dalam bermedia sosial. Pemilih diminta saling share dan mengomentari gagasan atau program pasangan calon pada masa kampanye.

“Kita berharap demokrasi kita naik kelas, mari kedepankan adu program atau gagasan paslon, jadikan pilkada ini momentum untuk menyelesaikan persoalan publik, kita ingin mewujudkan kedamaian dan kesejukan sehingga hasil pilkada nanti mampu melahirkan pemimpin yang bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapi rakyat,” kata Raden.

Menurutnya ada beragam isu yang perlu diselesaikan oleh paslon yakni masalah pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

“Kepri membutuhkan sosok pemimpin yang mampu berinovasi untuk menuntaskan persoalan publik, saya mengimbau masyarakat pemilih PKS untuk menjadikan pilkada ini benar-benar pestanya rakyat,” kata Raden. (***)

 

Reporter: Agung Maputra, Lukman Maulana

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.