- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Corner Kick (9); Ayo (Tidak) Mudik

Oleh Guntur Marchista Sunan

INTREN.ID, BATAM – Mudik memang menjadi bumbu Lebaran. Kurang pas jika merayakan Lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Ibaratnya, Lebaran tanpa mudik ibarat sayur tanpa garam. Hambar. Tak enak untuk disantap.

Saya termasuk yang membatalkan rencana mudik. Keinginan bertemu keluarga di Balikpapan pun tertunda. Rasa kangen untuk bertemu secara langsung harus dikubur dalam-dalam. Entah sampai kapan kondisi ini bakal berakhir. Corona oh corona.

Maklum, saya ngebet banget ingin mudik. Menjenguk ibu dan adik saya. Sudah setahun lamanya kami tidak bertatap muka secara langsung. Terakhir saya mencium tangan ibu saya saat Lebaran tahun lalu. Bersama anak dan istri saya.

Situasi memang tidak bersahabat. Pandemi Covid-19 menyebabkan saya dan mungkin Anda membatalkan rencana pulang kampung. Kita harus mematuhi imbauan pemerintah. Jangan sampai “kengeyelan” untuk mudik berbuah malapetaka bagi keluarga di kampung halaman.

Ibarat kuntilanak, hingga saat ini Covid-19 masih “bergentayangan”. Menghantui siapa saja. Mengancam nyawa siapa saja. Tanpa pandang dulu. Seluruh dunia merasakannya. Negara maju maupun berkembang dibuat ketar-ketir. Si kaya dan si miskin juga terdampak.

- ADVERTISEMENT -

Tapi ya, sudahlah. Tahun ini kita bersabar dulu. Tidak mudik dulu. Demi kebaikan bersama. Kita di rumah saja. Beraktivitas dari rumah. Meskipun dengan di rumah saja mengancam priuk piring nasi kita. Kalau yang bekerja sih masih aman dengan adanya gaji, meskipun dipangkas.

Namun malapetaka bagi yang membangun usaha sendiri. Di saat tidak ada pemasukan, harus menyiapkan budget untuk menjalankan usahanya. Juga membayar gaji karyawan yang menggantungkan hidup pada usaha kita.

Barangkali kalau boleh saran, pemerintah tidak sekadar melarang mudik. Lebih daripada itu, harus dibarengi langkah tegas. Misalnya menghentikan semua moda transportasi ke luar kota. Atau memasang portal di tiap perbatasan wilayah. Mungkin lebih efektif. Hehehehe.

Kalau perlu, saya punya ide gila. Pemerintah membagi-bagikan tunjangan hari raya (THR) kepada seluruh masyarakat Indonesia. Tanpa terkecuali. Pukul rata. Tidak perlu lagi dibedakan antara si kaya dan si miskin. Karena belum tentu semua pengusaha punya duit cadangan. Jangan-jangan malah habis karena perusahaan tidak jalan. Hahahahaha.

Mungkin dengan cara seperti itu, keinginan untuk mudik bisa hilang sementara. Kita tetap di rumah sambil menunggu pandemi berlalu. Diam di rumah dengan kantong tetap berisi bisa lebih tenang. Ketimbang diam di rumah tapi beras terancam habis. Kwakakakakak.

Okelah. Kalau usulan saya diterima silakan, kalau tidak diterima ya enggak apa-apa. Anggap saja guyonan. Menghibur diri di tengah pandemi. Sembari berdoa dan berharap pandemi segera berlalu. Dan semua aktivitas kembali berjalan normal. (***)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.