Corner Kick (8); Optimistis di Tengah Krisis

Oleh Guntur Marchista Sunan

INTREN.ID, BATAM – Sudah beberapa bulan berlalu, Covid-19 masih belum juga hilang dari muka bumi. Berita-berita masih menampilkan seputar jumlah pasien positif, pasien sembuh, dan pasien meninggal. Entah bagaimana ending-nya nanti, saya tidak tahu. Anda pun mungkin juga tidak tahu.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk “menghabisi” virus beralias corona itu. Hanya saja, mungkin belum membuah hasil. Tidak bisa simsalabim. Semua butuh proses. Tentu dibarengi dengan kesadaran. Di Indonesia, jumlah penderitanya terus bertambah. Meskipun sebagian kecil sembuh.

Keberadaan virus itu memang memukul semua sektor. Pendidikan, ekonomi, industri, hingga aktivitas masyarakat terdampak. Semua menjadi korbannya. Tanpa terkecuali. Si kaya dan si miskin sama-sama kena imbasnya. Bahkan sampai merumahkan karyawan.

Kendati demikian, saya sangat yakin bahwa di dalam diri kita masih ada rasa optimisme. Semangat dan keinginan untuk tetap survive itu pasti ada. Yakin bahwa tantangan ini segera berlalu. Semua kembali seperti sedia kala. Semoga Anda juga berpikiran sama.

Meski sempat dibuat shock, perlahan namun pasti aktivitas menuju ke arah normal terjadi. Kegiatan di pusat perbelanjaan mulai tampak. Warung, rumah makan, dan kafe mulai bergeliat. Mungkin hanya pendidikan dan sebagian kantor saja yang belum move on.

- ADVERTISEMENT -

Di tengah pandemi pula, kesadaran masyarakat terus terlihat. Di sana-sini orang beraktivitas menggunakan masker. Di tempat kerumunan pun sudah mulai membuat jarak. Di kantong celana atau dasbor mobil juga sudah menyiapkan hand sanitizer.

Dan yang harus patut disyukuri adalah, tingkat kepedulian terhadap sesama insan manusia meningkat. Saling bahu-membahu dan bekerja sama mengatasi situasi sulit. Kita pun kembali hidup bermasyarakat. Saling mendukung dan saling menguatkan satu sama lain. Minimal di lingkungan keluarga dan sekitar rumah kita.

Yang pasti ada perubahan. Jika di awal penyebaran kita diliputi rasa takut, sekarang tampak santai meskipun tetap hati-hati. Jika sebelumnya kucing-kucingan dengan aparat, sekarang lebih santai. Bahkan beberapa petugas saya lihat nongkrong di salah satu kafe.

Saya termasuk orang yang optimistis. Memang, corona memukul usaha yang baru saya rintis. Benar-benar dibuat babak belur. Bayangkan saja, memulai usaha di tengah krisis. Usaha Anda yang sudah berjalan saja babak belur, apalagi saya yang baru merintis. Hehehehehe.

Tapi itulah hidup. Itulah alasan kenapa saya menganggap corona sebagai tantangan, bukan cobaan. Karena saya dan teman-teman saya harus berpikir ulang dalam menyusun strategi mengembangkan perusahaan. Bukan pasrah dengan keadaan yang terjadi.

Dihadapkan pada tantangan yang berat, optimisme saya kian kuat karena dikelilingi oleh orang-orang hebat. Saling menguatkan. Saling support. Dan yang paling penting adalah saling mendoakan. Karena saya yakin bahwa pandemi akan segera berakhir. (***)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.