Corner Kick (20); Badai (Belum) Pasti Berlalu

Oleh Guntur Marchista Sunan

INTREN.ID, BALIKPAPAN – Kapan pandemi Covid-19 berlalu? Tak ada yang tahu. Semua masih samar-samar. Tak tahu sampai kapan kondisi ini akan terus terjadi. Meskipun banyak yang bilang, paling lama sampai akhir tahun. Entah lah.

Banyak pelaku usaha terdampak. Meskipun pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan, namun rasanya situasi ini masih sama-sama saja. Tidak ada yang berubah sama sekali. Istilah bekennya, hidup makin susah.

Beberapa waktu lalu, saya melakukan perjalanan dari Batam ke Balikpapan, transit melalui Surabaya. Dari situ sudah tampak bagaimana hingar-bingar bandara tidak seperti biasanya. Lebih tepatnya sebelum diteror pandemi.

Kondisi agak memprihatinkan saya lihat di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Bandara peraih peringkat ke 3rd place tie Best Airport by Size: 15-25 million passenger per year itu bak bangunan kosong. Hanya beberapa gerai yang buka. Sisanya wassalam.

Padahal, Bandara Juanda masuk dalam kategori bandara tersibuk di Indonesia itu. Menurut data, setidaknya ada 400 pesawat yang terbang dan mendarat, baik rute domestik maupun internasional. Pesawat yang terbang dan mendarat mulai berbadan besar, sedang, dan kecil, baik untuk penerbangan sipil maupun militer.

Bahkan setiap jamnya, setidaknya ada 34 yang melintas di bandara terbesar di Jawa Timur tersebut, yaitu 27 merupakan pesawat reguler, dua penerbangan ekstra, dan lima penerbangan militer. Tapi itu dulu. Kini sudah berubah total.

Pun demikian di Bandara Internasional Hang Nadim Batam tempat saya berangkat, dan Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, tempat saya mendarat. Bandara Sepinggan adalah peraih penghargaan 2nd place tie Best Airport by Size: 5-15 million passenger per year.

Beberapa rekan bisnis yang saya ajak diskusi pun mengutarakan hal yang sama. Kondisi sama. Tidak ada yang tahu pasti kapan kondisi ini berlalu. Karena jika berlarut-larut, akan banyak yang menjadi korban. Tidak hanya pekerja, namun juga para pelaku usaha yang babak belur.

Di sinilah peran pemerintah diuji. Mampukah Presiden Republik Indonesia Joko Widodo beserta jajarannya di Kabinet Indonesia Maju mencari solusi. Karena mereka memang dibayar untuk mengurusi bangsa dan negara.

- ADVERTISEMENT -

Kebijakan tatanan kehidupan normal baru alias new normal memang telah diterapkan. Namun beberapa kawan masih saja mengeluh. Salah satunya adalah susahnya kredit di bank.

Ada seorang teman mengaku, nilai rumahnya Rp 700 jutaan. Namun dia tidak bisa meminjam ke bank. Padahal yang dipinjam hanya Rp 100 juta saja. Teman lainnya pun setali tiga uang. Meminjam modal Rp 100 juta juga tidak bisa. Entah benar atau tidak, yang pasti belum pernah ada penjelasan resmi dari bank.

Namun, beberapa teman yang bekerja di bank mengaku jika keputusan soal mengeluarkan kredit ada di tangan pimpinan. Dia pun tak menampik banyak pengajuan yang ditolak dengan berbagai alasan. Namun sedikit yang lolos dan dicairkan meskipun tidak sesuai dengan pengajuan.

Ya, kalau memang benar mengajukan kredit di bank kian sulit, tentu patut dipertanyakan di mana peran pemerintah. Bukankah Presiden Jokowi sudah memerintahkan anak buahnya untuk segera memulihkan ekonomi. Tapi kalau pengajuan sampai ditahan ya, bagaimana mau membangkitkan ekonomi.

Untuk membangkitkan ekonomi memang tidak bisa instan. Tak bisa simsalabim. Peran pemerintah sangat besar. Dalam situasi seperti ini, bank-bank pemerintah tidak boleh hanya berpikir soal profit saja. Ada yang lebih besar.

Untuk membangkitkan ekonomi, dibutuhkan juga dana segar. Itu bisa menjadi pemancing bagi dunia usaha untuk segera bangkit. Justru yang dikhawatirkan adalah, pemerintah sendiri yang menahan laju pertumbuhan ekonomi.

Toh tidak ada salahnya juga memberikan bantuan kredit dengan durasi pengembalian lama disertai bunga kecil. Karena kondisi ini sudah tidak biasa. Dibutuhkan pemikiran out of the box. Tidak boleh sekadar mencari keuntungan.

Saya sangat yakin, badai ini belum berlalu. Kebijakan new normal yang didengungkan pemerintah tanpa diimbangi dengan kebijakan bantuan modal kepada pelaku usaha, justru bisa menyebabkan Indonesia terjerumus pada jurang kemiskinan.

Bisa ditebak. Gegara pengajuan kredit sulit, pelaku usaha yang punya duit akan menahan anggarannya. Tapi sampai kapan mereka bertahan, tidak ada yang tahu. Sementara bagi yang modalnya sudah habis, siap-siap bangkrut.

So, keputusan ada di tangan pemerintah. Kasih modal, atau tidak. (***)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.