- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Corner Kick (2); Merana karena Corona

Oleh Guntur Marchista Sunan

INTREN.ID, JAKARTA – Ngeri. Seluruh dunia mencekam. Teror Coronavirus (Covid-19) membuat lumpuh aktivitas. Bahkan beberapa negara terpaksa melakukan lockdown.

Semua jadi korban. Satu per satu nyawa melayang. Tidak hanya masyarakat sipil. Dokter hingga perawat yang menangani pasien suspect corona juga ikut-ikutan kehilangan nyawa. Corona menghabisi siapa saja. Tanpa ampun.

Tak sekadar nyawa para penderitanya yang terancam. Efek tidak langsungnya juga memakan korban. Dampak sosialnya bikin merana. Meskipun belum segarang SARS atau MERS, virus yang menyerang pernapasan itu membuat kita merana.

Wabah virus yang beken disapa corona tersebut benar-benar membuat merana. Menghancurkan segalanya. Aktivitas masyarakat terhenti, sekolah diliburkan, banyak kantor tutup, hingga penghentian sementara salat Jumat di beberapa daerah.

Pusat keramaian berubah menjadi sunyi. Mal-mal sepi pengunjung. Di Batam, Jakarta, dan mungkin beberapa daerah lainnya juga sama. Kota-kota besar yang biasanya ramai mendadak sepi. Sampai-sampai, ada yang memilih tetap di rumah dan tidak berinteraksi dengan dunia luar.

Parahnya lagi, ekonomi lumpuh. Harga saham sejumlah emiten unggulan (blue chips) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tak menggembirakan. Selama rentang waktu tiga bulan, saham-saham yang diharapkan meraup cuan justru merugi.

Penurunan harga saham ini tak terlepas sentimen negatif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah anjlok hampir 36 persen sejak merebaknya corona. Hedeh…! Benar-benar bikin merana.

- ADVERTISEMENT -

Mungkin, salah satu penyebab virus itu begitu menakutkan karena minimnya informasi dan pemahaman yang diterima. Mungkin juga karena kemunculannya mendadak dan langsung membuat lumpuh Tiongkok. Atau bisa juga karena penyebarannya terlalu cepat.

Entahlah. Banyak faktor. Tidak sedikit alasan. Yang pasti, corona bikin merana kita semua. Bikin bulu kuduk merinding dibuatnya. Setiap kali searching seputar corona, yang pertama muncul adalah kengeriannya. Bisa juga itu yang menjadi pemicu munculnya paranoid.

Corona adalah wabah yang tak terduga. Negara maju pun sulit mendeteksinya. Siapa sangka, meskipun bermula dari Tiongkok, negara-negara nan jauh di sana seperti Italia, Iran, Prancis, hingga Amerika juga “tertular”.

Bagaimana peran pemerintah kita? Saya pikir pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mengantisipasinya. Mulai dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota sudah melakukan langkah-langkah pencegahan.

Dalam kasus ini, jangan sampai kita terprovokasi. Apalagi mencari kambing hitam. Sibuk mencari siapa dalangnya. Atau menelan mentah-mentah informasi yang bisa-bisa berujung pada hoaks alias berita bohong.  Kalau sudah begitu, sama saja sudah merana, rugi pula. Hehehehehe.

Alangkah baiknya berusaha mencegah bersama-sama. Ikuti imbauan pemerintah. Bukannya saya propemerintah. Namun saya yakin orang-orang yang duduk di pemerintahan tahu apa yang harus dilakukan. Agar masyarakat Indonesia terbebas dari corona.

So, tetap jaga kesehatan, jaga pola gizi, jaga kebersihan, dan jangan lupa untuk berdoa. Insya Allah, kita semua akan terhindar dari corona. Sehingga tidak merana karena corona. (***)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.